Sunday, November 30, 2025

Top 5 This Week

Related Posts

Festival Jatiluwih ke-6, Targetkan Kunjungan 7.000 Wisatawan

TABANAN, The East Indonesia – Festival Jatiluwih ke-6 resmi digelar, pada 19/7/2025 dengan target kunjungan sebanyak 7.000 wisatawan selama dua hari pelaksanaan.

Kegiatan yang berlangsung dari tgl 19 hingga 20 Juli 2025 ini difokuskan untuk menarik lebih banyak wisatawan domestik, tanpa mengesampingkan potensi kedatangan tamu mancanegara, terutama dari Perancis dan Spanyol.

Hal tersebut disampaikan Manajer Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, Jon Ketut purna, saat ditemui wartawan pada festival jatiluwih yang ke 6, di kecamatan penebal Tabanan Bali, pada, Sabtu, 19/7/2025.

“Target kunjungan hari pertama ini 3.000 orang, dan kami harapkan besok bisa meningkat hingga 4.000. Saat ini saja tamu mancanegara yang datang sudah mencapai 1.500 per hari,” ungkap Purna, yang juga menjadi penggagas festival ini.

Purna menjelaskan bahwa Festival Jatiluwih tahun ini mengedepankan kearifan lokal dengan pelibatan hampir seluruh masyarakat desa.

“Tahun ini 99 persen tenaga kerja yang terlibat berasal dari warga lokal, naik dari 90 persen tahun lalu. Ini bentuk komitmen kami agar pendapatan dari pariwisata kembali kepada masyarakat,” ujarnya.

Festival kali ini menghadirkan lebih dari 350 seniman, mulai dari anak-anak hingga lansia, yang tampil dalam berbagai pertunjukan seni dan budaya. Salah satu yang menjadi sorotan adalah pertunjukan tarian maskot Jatiluwih serta peluncuran kostum ikon Dewi Sri dan Jatayu yang didesain bekerja sama dengan ISI Denpasar.

Sementara terkait Patung Dewi Sri, Purna menjelaskan jika jatiluwih terkenal dengan sawahhnya dan dalam budaya Bali, Dewi yang melambangkan padi adalah Dewi Sri.

“Terus terang saya bukan ahli budaya, tapi yang jelas Jatiluwih ini terkenal dengan sawahnya. Di sawah itu, kita punya padi. Nah, dalam budaya Bali, dewi yang melambangkan padi itu adalah Dewi Sri. Karena itu, kami memilih patung Dewi Sri sebagai simbol festival. Ikon utama kami di sini adalah sawah dan padi, jadi kami merasa perlu menghormati dan memberi tempat bagi dewanya padi, yaitu Dewi Sri.” jelas Purna

Patung berbahan alami ini dibuat selama tiga bulan dan ditempatkan di lahan sewaan milik petani, tanpa mengganggu fungsi utama lahan sebagai sawah produktif.

“Kami belajar dari pengalaman Subak Festival sebelumnya. Kali ini, petani tetap bisa memanfaatkan lahannya meski menjadi lokasi festival,” ujarnya.

Festival ini juga menjadi strategi untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan di luar musim liburan. Selama ini, kunjungan domestik ke Jatiluwih cenderung fluktuatif, dengan puncak saat akhir pekan atau hari libur panjang.

“Pada hari-hari biasa, kunjungan hanya sekitar 200-300 orang, tapi saat liburan bisa melonjak hingga 2.500-3.000 pengunjung,” katanya.

Jatiluwih sendiri merupakan kawasan warisan budaya dunia UNESCO yang terkenal dengan panorama sawah teraseringnya.

Selain wisatawan Perancis yang mendominasi karena keterkaitan dengan UNESCO, pihak pengelola kini juga mulai kebanjiran pengunjung dari Spanyol usai Jatiluwih menerima penghargaan Best Tourism Village dari UNWTO di Madrid.

“Karena gini Pak, headquarter UNESCO itu ada di Perancis. Makanya tamu Perancis yang paling banyak. Tapi saya yakin Pak, dengan gelar baru yang kita dapat berupa Best Tourism Village yang tahun kemarin,
yang mana lokasinya itu ada di Madrid, itu kita sudah mulai kebanjiran tamu Spanyol Pak,” tambah Purna

Meskipun festival ini digelar dengan keterbatasan dana, pihak pengelola tetap berkomitmen menjaga kualitas agar tetap sejajar dengan festival nasional lainnya.

“Ya, kita sampai saat ini masih banyak sekali kekurangan dana Pak untuk buat festival ini. Tidak murah sebenarnya, tapi dengan segala kekurangan yang kita punya, kita semaksimalkan.
Karena kita tidak mau keluar dari event festival nasional yang ada di Indonesia, dari kementerian pariwisata”, pungkasnya.(Tim)

Popular Articles