ATAMBUA, The East Indonesia – Komunitas Pohon Asam Ponu akan menggelar Musim Petik Asam yang akan berlangsung pada tanggal 10 Oktober dan 18 Oktober 2025.
Dalam kegiatan Musim Petik Asam kali ini akan ada diskusi buku Hantu Padang karya Esha Tegar Putra dan pementasan monolog Keluarga Oriente yang diadaptasi dari cerpen berjudul sama karya Armin Bell.
Diskusi buku sendiri akan berlangsung di SMAN Biboki Anleu, Ponu, Timor Tengah Utara pada tanggal 10 Oktober 2025 sedangkan pementasan monolog akan terjadi di Seminari Lalian, Kabupaten Belu pada tanggal 18 Oktober 2025.
Ketua panitia Musim Petik Asam, Ricky Ulu menyampaikan bahwa kegiatan ini terinspirasi dari kebiasaan masyarakat Ponu yang selepas memanen padi di sawah selalu memetik asam pada bulan Agustus-Oktober saat memasuki musim kemarau.
Bahwasannya masyarakat Ponu merayakan musim kemarau dengan kegembiraan dan harapan yang besar sebab masih ada pohon asam yang tetap berbuah dan hasilnya bisa dinikmati.
“Pohon asam adalah satu dari sedikit tumbuhan yang bisa tetap hidup dan bertahan di tengah alam Ponu yang keras. Maka pohon asam adalah simbol dari kegigihan yang tidak main-main, harapan dan kegembiraan yang terus bertahan”, ujarnya.
Maka Ricky Ulu berharap dengan menggelar Musim Petik Asam akan muncul kegembiraan untuk merayakan karya-karya sastra, merayakan gagasan, ide, kenyataan-kenyataan dan harapan yang termuat dalam karya-karya sastra.
Hal ini diungkapkan Ricky sebab ada anggapan yang berkembang kalau sastra adalah sesuatu yang berat dan tidak bisa dinikmati atau malah jauh dari realita setiap hari.
“Orang Ponu itu dekat dengan sastra. Ada syair-syair penyambutan tamu, ada syair-syair yang didoakan untuk meminta perlindungan, ada cerita atau nasihat yang diberikan secara sastrawi. Jadi Ponu itu sebenarnya dekat dan sastrawi sekali”, ungkap Ricky.
Disampaikan pula bahwa Pohon Asam dibentuk sebagai tempat berbagi bacaan-bacaan, tempat belajar membaca dan tempat menemukan bacaan-bacaan alternatif yang tidak disedikan perpustakaan sekolah.
Karena dibentuk di lingkungan sekolah maka mau tidak mau anggota yang tergabung sejauh ini masih berkisar warga aktif pada SMAN Biboki Anleu meski ada juga beberapa teman dari luar yang bergabung.
Sebagai anggota aktif, mereka yang tergabung dalam Pohon Asam akan meminjam buku atau bacaan yang ada dalam koleksi komunitas kemudian seminggu sekali bertemu untuk saling berbagi tentang isi bacaan yang sudah dituntaskan.
Dalam perjalanan waktu juga dibuat satu kelas bagi anak-anak Pohon Asam yang memiliki ketertarikan pada dunia tulis-menulis.
“Komunitas Pohon Asam sudah berdiri dari dari 2019 dan tahun ini boleh merayakan Musim Petik Asam. Semoga diskusi buku dan pementasan monolog ini menjadi satu Langkah awal yang membuat komunitas ini menjadi warna bagi anak-anak Ponu. Semoga Komunitas ini bisa menjadi tempat yang nyaman untuk anak-anak Ponu belajar dan menulsi cerita-cerita dari Ponu”, tambah Ricky.
Musim Petik Asam sendiri digelar dengan dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Penguatan Sastra 2025.
Untuk diketahui bahwa Komunitas Pohon Asam sendiri berdiri di tanggal 12 Januari 2019 di Ponu, Biboki Anleu, Kabupaten TTU.
Awalnya hanya beranggotakan empat orang yaitu Aprilia Sanbein, Wanre Ludji Wila, Theresia Abuk dan Ricky Ulu.
Tiga nama pertama adalah siswa pada SMAN Biboki Anleu sedangkan Ricky adalah guru pada sekolah yang sama.(Rony)


