ATAMBUA, The East Indonesia – Kantor Imigrasi Kelas II TPI Atambua kembali hadirkan solusi nyata lewat Easy Paspor sebagai Jawa atas kegelisahan masyarakat Perbatasan terhadap lonjakan harga Paspor.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Atambua, Putu Agus Eka Putra, mencoba menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
Dengan pemahaman akan karakteristik masyarakat perbatasan, Putu menginisiasi langkah berani dengan menghadirkan kembali layanan Eazy Paspor dengan tarif PNBP paspor biasa sebesar Rp350.000 atas persetujuan pimpinan di Kantor Wilayah.
Untuk diketahui bahwa per tanggal 1 September 2025, sesuai arahan dan petunjuk dari Direktorat Jenderal Imigrasi, sudah tidak diberlakukan layanan penerbitan paspor biasa yang digantikan oleh layanan paspor elektronik (E-paspor) dengan masa berlaku 5 tahun dengan tarif PNBP Rp650.000 dan 10 tahun dengan tarif PNBP Rp950.000.
Langkah yang diambil oleh Putu bukan semata program, akan tetapi wujud nyata empati dan kepekaan terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat di wilayah kerja Imigrasi Atambua yang rentan terhadap perubahan kebijakan dan tekanan ekonomi.
“Di perbatasan, setiap kebijakan sekecil apa pun bisa berdampak besar bagi masyarakat. Saat harga paspor naik, kami tahu keresahan itu nyata. Karena itu, kami hadir dengan solusi menghadirkan Eazy Paspor, agar masyarakat tetap memiliki akses legal, mudah, dan terjangkau,” ungkap Putu Agus Eka Putra.
Kegiatan dilaksanakan pertama kali di wilayah kerja Kabupaten Belu, bertempat di MPP Kabupaten Belu, Kota Atambua, pada hari Sabtu tanggal 25 Oktober 2025 pukul 08.00 WITA, yang bertepatan dengan kegiatan Car Free Day.
Kegiatan Eazy Paspor ini bukan hanya bentuk respons cepat terhadap isu kenaikan tarif, tetapi juga strategi jangka panjang dalam menghadapi potensi lonjakan perlintasan di akhir tahun.
Menjelang periode libur Natal dan Tahun Baru, Kantor Imigrasi Atambua memprediksi peningkatan arus mobilitas, terutama dari umat Kristiani dan Katolik yang hendak menjalankan kegiatan keagamaan, sosial, dan budaya lintas batas.
Dalam laporan yang disusun oleh tim Imigrasi Atambua, tercatat bahwa stok blangko paspor biasa masih cukup banyak, sehingga pelaksanaan program ini dapat berjalan lancar tanpa kendala administratif.
Selain itu, kegiatan ini juga berfungsi sebagai langkah preventif untuk menekan potensi perlintasan ilegal yang kerap meningkat pada momen-momen keagamaan besar.
“Melalui Eazy Paspor, kami ingin masyarakat tidak lagi mengambil jalan pintas. Kami ingin mereka tahu bahwa negara hadir, dan bahwa mengurus dokumen resmi bukan sesuatu yang sulit atau mahal,” imbuh Putu Agus. (Ronny)


