SINGARAJA, The East Indonesia – Hari suci Anggarakasih Tambir sering hadir hanya sebagai penanda kalender rohani. Sebagian umat menjalankannya dengan senang hati tetapi ada juga dengan rasa terbebani, sebagian lagi dengan euforia sesaat, dan tak sedikit generasi muda yang memandangnya sekadar rutinitas tanpa makna. Padahal, Anggarakasih Tambir menyimpan pesan spiritual yang sangat dalam, yadnya bukan tentang apa yang dipersembahkan, melainkan tentang kesadaran siapa yang mempersembahkan.
Seperti disampaikan oleh Luh Irma Susanthi selaku Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, Selasa,(13/1) diruang kerjanya, bahwasannya yadnya dan beban status sosial menjadi isu tren yang benar- benar menghadapkan umat pada nilai apa itu kebenaran? Fenomena yang sering muncul di tengah umat adalah anggapan bahwa yadnya identik dengan banten yang banyak dan mahal. Tak jarang muncul rasa minder, bahkan enggan ber-yadnya, karena merasa tidak mampu menyamai standar sosial di sekitarnya. Yadnya pun bergeser makna, dari sarana penyucian diri menjadi ajang pembanding status.
“Padahal dalam Lontar Sundarigama, ditegaskan bahwa yadnya tidak diukur dari besar kecilnya persembahan, tetapi dari ketulusan niat yang mempersembahkannya,
“Nista utama madya ning yadnya, tan wenten ring akweh alit banten, nanging ring suci ning manah.” (kutipan Lontar Sundarigama) “Tinggi rendahnya yadnya bukan terletak pada banyak atau sedikitnya banten, melainkan pada kesucian hati. Pesan ini sangat relevan hari ini, ketika yadnya dijadikan beban sosial, maka yang bekerja bukan lagi bhakti, melainkan ego,”papar Irma.
Lebih lanjut dikatakan Irma, Anggarakasih Tambir juga kerap dirayakan sebagai puncak Pujawali dengan semangat ramai, namun seakan cepat berlalu. Upacara selesai, sesajen diturunkan, lalu hidup kembali seperti biasa tanpa perubahan sikap, tanpa refleksi batin, hingga akhirnya Yadnya berhenti pada seremoni belaka.
“Bhagavadgītā IX .11 menegaskan, “Avajānanti māṁ mūḍhā mānuṣīṁ tanum āśritam”
param bhavam ajananto, mama bhuta mahesvaram. Artinya, “Orang yang tidak memahami hakikat, memandang sesuatu hanya dari bentuk luarnya.”
Ketika yadnya hanya dipahami sebagai acara, bukan proses penyadaran, maka esensi spiritualnya lenyap,”ujarnya.
Ditekankan oleh Irma, Anggarakasih Tambir seharusnya lebih dimaknai sebagai titik hening untuk menata kembali relasi manusia dengan Tuhan, sesama, dan dirinya sendiri. Generasi muda dan rutinitas tanpa makna akan menyebabkan bias dan dangkal dalam memandang nilai sebuah Yadnya, bagi generasi muda, yadnya sering diwariskan sebagai “yang harus dilakukan”, bukan “yang perlu dipahami”. Inilah tantangan besar hari ini. Ketika makna tidak dijelaskan, yadnya terasa kering, bahkan membosankan. Padahal sesungguhnya, yadnya adalah jalan penemuan jati diri.
Ditambahkan, sebagian kritik menyebut banten sebagai pemborosan. Kritik ini perlu dijawab dengan bijak. Masalahnya bukan pada bantennya, tetapi pada cara memaknainya. Ketika banten menjadi ajang gengsi, ia memang kehilangan nilai. Namun ketika banten menjadi simbol bhakti dan sarana konsentrasi batin, ia justru mendidik manusia untuk memberi dan melepaskan. Lontar Sundarigama menegaskan keseimbangan,
“Yadnya tidak boleh dipaksakan, tidak pula menjadi beban.” Artinya, yadnya harus proporsional, sadar, dan membebaskan, bukan menekan.
“Ketika generasi muda ber-yadnya dengan bakti, mereka sedang menyiapkan hidupnya sendiri, membangun karakter, etika kerja, dan keteguhan batin. Bakti tidak mematikan mimpi, ia menuntun mimpi agar berjalan selaras dengan dharma dan tidak kehilangan makna. Semoga setiap generasi muda paham dan mulai bangkit untuk memuliakan kehidupannya dalam hal sederhana,”pungkas Irma.(*)

