Tuesday, January 27, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Lapas Atambua Latih Warga Binaan Produksi Abon Ikan Lele

ATAMBUA , The East Indonesia – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Atambua kembali menunjukkan komitmennya dalam mentransformasi Warga Binaan menjadi pribadi yang produktif dan mandiri.

Melalui terobosan terbaru di bidang pembinaan kemandirian, Lapas Atambua resmi memperluas lini kewirausahaan bagi Warga Binaan melalui program pembinaan kemandirian yang inovatif, Lapas Atambua memperluas cakupan kewirausahaan dengan menggelar pelatihan pembuatan abon ikan lele, Sabtu (24/1/26).

Kegiatan ini memanfaatkan potensi lokal yang melimpah yakni ikan lele segar hasil budidaya kolam mandiri Lapas yang dijadikan bahan baku utama.

Petugas Pokja UMKM menggandeng peserta magang Batch 2 di bidang perikanan sebagai instruktur pendamping melatih para warga binaan untuk meningkatkan nilai ekonomi bahan baku mentah menjadi produk olahan pangan yang praktis dan bernilai jual tinggi.

Petugas Pokja UMKM, Reni Arlina menjelaskan abon diolah dengan teknik pengolahan modern yang lebih efisien dan higienis.

“Warga Binaan dilatih mulai dari tahap seleksi bahan baku hingga teknik pengolahan akhir. Kehadiran peserta magang Batch 2 juga sangat membantu kami dalam mentransfer ilmu pengetahuan terbaru. Sinergi ini adalah bentuk nyata kolaborasi dunia pendidikan dan sistem pemasyarakatan,” ungkap Reni.

Wina Djawa, salah satu peserta magang, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk pengabdian masyarakat yang nyata dalam mengaplikasikan keahlian profesional yang mereka miliki.

“Kami merasa bangga bisa terlibat langsung dalam proses pemberdayaan ini. Melihat semangat warga binaan dalam mengikuti setiap tahapan produksi—mulai dari pemisahan daging dari duri, proses penggorengan, hingga pengemasan—memberikan optimisme tersendiri bagi kami. Semoga pelatihan ini menjadi bekal keahlian yang berkelanjutan bagi mereka untuk mandiri secara ekonomi saat kembali ke masyarakat nanti,” ujar Wina.

Kepala Lapas (Kalapas) Atambua, Bambang Hendra Setyawan menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan bentuk nyata implementasi program pembinaan yang berorientasi pada penguatan soft skill dan hard skill kewirausahaan warga binaan.

Dengan harga jual yang lebih tinggi dibandingkan ikan lele mentah, pengolahan menjadi abon memberikan margin keuntungan yang lebih besar.

Hal ini diharapkan menjadi bekal bagi warga binaan agar saat kembali ke masyarakat nanti, mereka mampu menciptakan lapangan kerja sendiri melalui UMKM berbasis pengolahan ikan,” jelas Bambang.

Rio Bere, Salah seorang warga binaan mengungkapkan rasa syukurnya atas kesempatan belajar ini. “Jujur, awalnya saya pikir ikan lele hanya bisa digoreng atau dibakar saja. Ternyata setelah diajarkan pengolahannya bisa lebih modern. Saya jadi punya rencana, kalau sudah bebas nanti, saya mau buka usaha kecil-kecilan di rumah karena bahan bakunya mudah didapat,” ujarnya.

Lapas Atambua berencana akan terus mengembangkan skala produksi ini. Ke depannya, produk abon lele ini akan dikemas secara profesional dan dipasarkan melalui koperasi Lapas serta pameran-pameran UMKM di tingkat kabupaten maupun provinsi.

Melalui tangan dingin warga binaan hasil produksi ikan abon ini menjadi simbol harapan baru bagi masa depan yang lebih mandiri dan berdaya.(Rony)

Popular Articles