OGAN HILIR, The East Indonesia – “Harapan kami, Konsolidasi Daerah ini menjadi wadah penguatan dan koordinasi agar kewenangan pusat dan daerah tidak saling tumpang tindih (overlap), melainkan saling menguatkan demi memastikan program prioritas benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” ujar Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, saat memberikan keterangan kepada media di sela kunjungan kerjanya di Sumatra Selatan, Rabu (25/2).
Pernyataan tersebut menjadi penegasan dalam pembukaan kegiatan Konsolidasi Daerah (Konsolda) Pelaksanaan Program Prioritas di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Sumatra Selatan.
Selain sinkronisasi kewenangan, Wamen Atip menekankan bahwa seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) harus melakukan pengawalan ketat terhadap implementasi program prioritas. Hal ini krusial agar penggunaan anggaran tepat sasaran dan memberikan manfaat nyata dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman serta nyaman bagi para murid, demi terwujudnya visi Generasi Emas 2045.
Agenda ini juga ditandai dengan penandatanganan Komitmen Bersama Dukungan Pemerintah Daerah untuk Program dan Kegiatan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) di Provinsi Sumatra Selatan. Komitmen ini melibatkan BPMP Provinsi Sumatra Selatan, Pemerintah Provinsi, serta 17 pemerintah kabupaten/kota di seluruh Sumatra Selatan sebagai wujud tekad mengawal kualitas pendidikan.
Direktur SMA Kemendikdasmen, Winner Jihad Akbar, menjelaskan bahwa forum ini merupakan ruang penyelarasan kebijakan nasional ke tingkat tapak. “Kegiatan ini bertujuan untuk menyelaraskan pemahaman implementasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) pendidikan antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Sumatra Selatan sesuai kebijakan pusat agar sinkron antara kebijakan pusat dan daerah,” ujar Winner.
Ia menambahkan bahwa sinergi ini mencakup pengawasan program-program strategis seperti revitalisasi, digitalisasi, hingga Makan Bergizi Gratis. “Akan dilaksanakan penandatanganan Komitmen Bersama terkait dukungan pelaksanaan program kegiatan, khususnya program prioritas Kemendikdasmen, dan dukungan pemantauan serta pengawasan,” tegas Winner.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatra Selatan, Mondyaboni, menyambut baik langkah Kemendikdasmen yang bersedia turun langsung menyerap aspirasi daerah. Menurutnya, koordinasi ini adalah momentum untuk menyatukan visi dalam mengatasi tantangan pendidikan di daerah.
“Kami berterima kasih di sini kita bisa menyamakan apa saja yang menjadi permasalahan di daerah, kemudian bagaimana mensinkronkannya agar menjadi sebuah formula yang menjadi solusi bagi kita semua,” ungkap Mondyaboni. Ia juga menggarisbawahi pentingnya kelanjutan bantuan pusat bagi sekolah-sekolah di Sumatra Selatan.
“Anggaran daerah kita memang saat ini sedang ada penyesuaian, sehingga adanya bantuan dari kementerian untuk revitalisasi sekolah sangat kami syukuri dan kami harap dapat diteruskan,” imbuhnya.
Integritas Revitalisasi dan Kedalaman Belajar
Wamen Atip Latipulhayat memberikan catatan tajam mengenai akuntabilitas pengelolaan anggaran revitalisasi yang kini mencapai hampir Rp90 triliun untuk 71 ribu satuan pendidikan. Ia menekankan bahwa kewenangan pusat dan daerah harus konvergen (menyatu).
“Kewenangan dan tanggung jawab itu harus konvergen, tidak divergen. Harus satu frekuensi. Tidak boleh adanya overlap kewenangan yang justru akan melahirkan ketiadaan akuntabilitas,” tegas Atip. Ia pun mengingatkan agar kualitas pembangunan fisik benar-benar menjadi prioritas. “Tolong, jangan sampai laporan sudah selesai, tapi begitu dicek bangunannya ‘doyong’ atau miring-miring. Jangan sampai sekolah yang rusak parah justru hanya menerima pembangunan toilet saja,” cetusnya.
Wamen Atip menceritakan pengalamannya menemukan sekolah yang masih menggunakan bangku yang kondisinya seperti dari tahun 1970-an, dan ada sekolah yang bangkunya pinjam dari pos ronda. “Disebut sekolah memang tampak tidak seharusnya seperti itu. Maka revitalisasi menjadi sangat penting agar anak-anak kita belajar di tempat yang layak,” tuturnya.
Menutup arahannya, Wamen Atip berpesan agar guru-guru menerapkan metode “Pembelajaran Mendalam” yang mereka dapatkan dari ruang pelatihan ke ruang kelas guna menciptakan keterlibatan murid secara bermakna. “Guru harus memiliki penguasaan konten yang kuat agar bisa mengajak murid masuk kepada meaningful learning . Guru harus seperti penyanyi yang mampu membuat materi sesulit apa pun menjadi menarik bagi murid,” pungkasnya.
Usai membuka kegiatan, Wamen Atip melanjutkan kunjungan lapangan ke SDN 06 Indralaya, SMP Olahraga Negeri Sriwijaya, dan SMA Negeri 21 Palembang untuk memantau langsung implementasi program prioritas pendidikan di lingkungan sekolah.(*)


