KARANGASEM, The East Indonesia – Pagelaran ‘Sunaring Jagat’ atau cahaya alam semesta yang di gelar di Taman Ujung Sukasada merupakan perpaduan budaya Bali dan budaya Tionghoa ditampilkan. Kisah dalam tarian itu mengandung makna perbedaan yang menyatukan dalam suasana harmonis.
Untuk pertama kalinya, atraksi budaya itu disajikan di Taman Sukasada Ujung, Karangasem, Bali, Minggu, 1 Maret 2026. Dalam event tersebut hadir Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Enik Ermawati atau Ni Luh Puspa dan Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Indonesia Isyana Bagoes Oka.
Wamen Ni Luh Puspa mengatakan, akulturasi budaya di Puri Karangasem menjadi bukti kebudayaan di Bali hidup dan berkembang hingga saat ini.
“Kekuatan bangsa adalah akulturasi budaya. Keberagaman menjadi pemersatu dan menjadikan Bali sebagai pulau yang tahun 2025 mendapatkan gelar the best island in the world mengalahkan London,” kata Ni Luh Puspa.
Arsitektur di Taman Sukasada Ujung, Karangasem menurutnya, menjadi daya tarik yang menyimpan perjalanan sejarah panjang perpaduan budaya Tionghoa dan Eropa.
“Banyak yang ingin melihat Taman Ujung, ternyata juga dibuat tangan-tangan saudara Tionghoa,” ujarnya.
Dirinya mendorong kolaborasi pemerintah dengan pelaku usaha pariwisata untuk menciptakan pariwisata yang berkualitas dan berdaya saing.
Ia melihat, tantangan pariwisata ke depan semakin berat dengan adanya ketegangan geopolitik. Namun, dirinya optimis tahun 2026 kunjungan wisatawan asing ke Indonesia semakin baik.
“Kita sudah menyusun strategi, tentu kita akan menyasar negara-negara yang selama ini banyak kunjungannya ke Indonesia, dan kita tidak hanya bicara soal jumlah kunjungan tapi juga soal kualitas yang dirasakan oleh wisatawan yang datang ke Indonesia,” jelas Ni Luh Puspa.(Chris)


