ATAMBUA, The East Indonesia – Dandim 1605/Belu, Letkol Arh Andi Yunus, S.I.P menggelar kebersamaan sekaligus jumpa pers dengan awak media di di Puang Amo Coffee, Jabalmart Atambua, Selasa, 3 Maret 2026.
Saat kebersamaan tersebut, Dandim Belu memberikan penjelasan mendalam terkait progres pembangunan Koperasi Merah Putih (KMP) yang sedang gencar dilaksanakan di wilayah perbatasan Kabupaten Belu dan Kabupaten Malaka.
Dalam keterangannya, Dandim Andi Yunus mengungkapkan Komando Distrik Militer (Kodim) 1605/Belu terus memacu percepatan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KMP) di wilayah Kabupaten Belu dan Malaka bahwa dari target total 208 titik lokasi, per hari ini, sebanyak 187 titik lahan telah terpetakan dan terverifikasi oleh Agrinas.
“Dari target 208 titik, lahan yang masuk portal pemetaan dan terverifikasi oleh Agrinas sudah 187 per hari ini. Namun, Babinsa-Babinsa kita tetap aktif mencari lahan tersedia. Memang tidak langsung sekaligus 208 lahan didapat, karena kendala kepemilikan lahan yang variatif, mulai dari milik masyarakat hingga kementerian,” ujar Letkol Andi Yunus.
Dari 187 lahan yang tersertifikasi tersebut, proses pembangunan fisik sedang berjalan pesat di 156 titik.
Dandim Belu menegaskan, progres pembangunan tercepat saat ini tercatat di Desa Umaklaran, Kecamatan Tasifeto Timur, dan Desa Tohe, Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu.
Libatkan Tenaga Lokal dan Hadapi Kendala Cuaca
Pembangunan KMP ini menggunakan sistem padat karya, bukan kontraktor, dengan mengutamakan pemberdayaan masyarakat lokal. Meskipun diakui sempat terkendala keterbatasan tenaga ahli di wilayah setempat, Dandim berkomitmen memaksimalkan potensi lokal.
“Saya berusaha memaksimalkan masyarakat kita di sini untuk membantu. Kalau memang sumber daya manusia kita kurang, baru kita datangkan tenaga ahli dari luar, tapi tetap didampingi tenaga lokal,” tegasnya.
Terkait target waktu, Letkol Andi Yunus menjelaskan bahwa pimpinan pusat memberikan target 90 hari (3 bulan) dalam kondisi cuaca normal. Namun, progres lapangan sedikit terhambat oleh faktor cuaca hujan, khususnya saat proses fabrikasi pengelasan, serta logistik material.
“Kendala kita hanya di hujan, khususnya saat pengelasan. Saya tidak mau ambil resiko keselamatan rakyat demi mengejar progres. Apalagi di NTT tidak ada pabrik besi, kita ambil dari luar. Saat ini progres pekerjaan rata-rata sudah mencapai 60 persen lebih,” tambahnya.
Detail Proyek dan Anggaran
Program Koperasi Merah Putih ini ditargetkan tuntas dengan sebaran 127 titik di Kabupaten Malaka dan 81 titik di Kabupaten Belu.
Proyek ini didanai oleh Agrinas dengan anggaran per unit sebesar Rp3 Miliar, yang mencakup bangunan fisik, penyediaan mobil, hingga instalasi kelistrikan.
Dandim 1605/Belu, Letkol Arh Andi Yunus, S.I.P memastikan pengerjaan akan terus dikejar untuk memberikan manfaat langsung bagi perekonomian masyarakat di wilayah perbatasan. (Ronny)


