ATAMBUA, The East Indonesia – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Belu mencatat sebanyak 644 pasien Tuberkulosis (TBC) telah menjalani pengobatan sepanjang tahun 2025.
Angka ini menjadi basis data penting bagi pemerintah daerah dalam memetakan penyebaran penyakit menular tersebut di wilayah perbatasan.
Menanggapi data tersebut, Dinkes Kabupaten Belu kini semakin gencar melaksanakan Active Case Finding (ACF) atau penemuan kasus secara aktif di tengah masyarakat.
Langkah strategis ini diambil untuk memastikan tidak ada penderita yang tidak terdeteksi, sekaligus mempercepat target eliminasi TBC nasional pada tahun 2030.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Belu, dr. Elen Corputty, kepada media, Rabu (4/3/2026) menyampaikan pada tahun 2026 hingga Februari, sudah tercatat 68 pasien yang sedang menjalani pengobatan.
Ia menjelaskan, kegiatan ACF difokuskan pada masyarakat yang memiliki gejala TBC, seperti batuk lebih dari dua minggu, demam berkepanjangan, penurunan berat badan, dan keringat malam.
Melalui skrining langsung di desa dan kelurahan, petugas kesehatan berupaya menemukan kasus sedini mungkin agar segera ditangani.
“Saat ini kita lebih fokus mencari masyarakat yang bergejala. Kalau ditemukan, langsung kita lakukan pemeriksaan lanjutan dan pengobatan,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan ACF ini telah dimulai sejak awal tahun dan akan terus dilaksanakan hingga akhir tahun 2026 sebagai langkah berkelanjutan dalam menekan angka penularan TBC di Kabupaten Belu.
Untuk mendukung proses diagnosis, katanya, Dinkes Belu juga mendapatkan alat X-Ray mobile dari Kementerian Kesehatan dan saat ini berada di RSUD Atambua. Namun, alat tersebut masih dalam proses pengurusan izin operasional.
“Alat X-Ray sudah tersedia, tinggal menunggu izin dari BAPETEN. Jika izinnya sudah keluar, bisa langsung kita gunakan. Kalau ada yang hasilnya positif, segera kita mulai pengobatan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ia menyampaikan partisipasi masyarakat dalam kegiatan skrining dinilai cukup baik dari target 100 orang setiap kegiatan.
Selain upaya penemuan kasus, Dinas Kesehatan juga terus mengedukasi masyarakat mengenai pencegahan penularan.
“Kami meminta dan menghimbau kepada masyarakat untuk menjaga etika batuk dan tidak meludah sembarangan. Ini langkah sederhana tetapi sangat penting dalam mencegah penularan,” tegasnya.
Ia juga mengimbau masyarakat yang sedang menjalani pengobatan agar tetap disiplin minum obat hingga tuntas sesuai anjuran tenaga kesehatan.
“Kami berharap masyarakat yang sementara berobat tetap rutin sampai selesai dan tidak menghentikan pengobatan sebelum dinyatakan sembuh. Ini penting untuk mencegah resistensi obat dan mendukung eliminasi penyakit TBC,” tutupnya.(Rony)


