SINGARAJA, The East Indonesia – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng menggelar kegiatan Dharma Santi Nyepi Tahun Saka 1948 sekaligus Halal Bihalal Idul Fitri 1447 Hijriyah pada Selasa, (31/3). Acara yang mengusung tema “Vasudhaiva Kutumbakam dalam Ukhuwah Basyariah, Menuju Harmoni dalam Bingkai Kebhinnekaan” ini dihadiri seluruh unsur Kantor Kementerian Agama dan Kementerian Haji Kabupaten Buleleng, serta Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) setempat.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, I Gusti Made Sunartha, dalam sambutannya mengatakan kegiatan ini menjadi wujud nyata sinergi antar umat beragama di Buleleng, khususnya saat perayaan suci Hindu dan Islam berdekatan. Melalui Dharma Santi sebagai rangkaian Nyepi dan Halal Bihalal pasca-Idul Fitri, para peserta menekankan pentingnya maaf-memaafkan, silaturahmi, serta pembangunan perdamaian di tengah keberagaman.
Dirinya pun menyoroti nilai historis kedua tradisi tersebut sebagai instrumen damai. Ia menganalogikan dengan semangat Presiden Soekarno yang memanfaatkan Halal Bihalal sebagai media bermaaf-maafan dan bersilaturahmi di tengah gesekan antarbangsa pada masa awal kemerdekaan. Demikian pula Dharma Santi sebagai rangkaian dari perayaan Hari Raya Nyepi. Kalau dilihat dari sejarahnya, sejak Raja Airlangga.
“Pertama, beliau merubah pola penguasaannya. Pada masa itu perang yang berkecamuk tidak pernah bisa dihentikan. Tidak ada yang bisa menghentikan perang dengan cara perang. Maka Raja Airlangga merubah alur perjuangan, yaitu dengan jalan damai,” demikian Sunartha.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, I Gede Sumarawan, menekankan anugerah keberagaman sebagai rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Menurutnya, Indonesia memang ditakdirkan berbeda, dan justru dalam perbedaan itulah kebahagiaan sejati dapat diraih.
“Ini karena anugerah Tuhan sungguh luar biasa. Nikmat Tuhan sangat luar biasa. Kita ditakdirkan oleh Tuhan yang Maha Kuasa untuk berbeda. Indonesia ditakdirkan untuk berbeda. Kenapa kita dibuat berbeda? Dengan perbedaan inilah kita bahagia,” tandas Sumarawan.(Wis)


