Saturday, April 11, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Anak 4 Tahun di Buleleng Meninggal Terjangkit DBD ‎

SINGARAJA, The East Indonesia – ‎Seorang anak berusia 4 tahun di Kelurahan Banyuning, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Kabupaten Buleleng, Bali, meninggal dunia setelah terjangkit demam berdarah dengue (DBD). Dinas Kesehatan Buleleng mencatat sedikitnya ada 109 Kasus Januari–April 2026.

‎Menurut orangtua pasien, Gede Andy Pradnyana, anaknya mengalami gejala awal pada Kamis (2/4/2026) berupa demam. Esoknya, Jumat (3/4/2026) ia membawa putrinya itu ke IGD salah satu rumah sakit. Petugas medis sempat memberikan penanganan lalu diizinkan pulang.

‎Namun, kondisi anaknya tak kunjung membaik. Pada Sabtu (4/4/2026), keluarga melakukan tes darah di laboratorium.

‎“Minggu (5/4/2026) malam kami bawa lagi ke IGD, disuruh cek darah ulang. Di situ baru didiagnosa mengarah ke DBD,” kata dia, ditemui Jumat (10/4/2026) di Buleleng.

‎Kondisi putrinya itu menurun drastis pada Senin (6/4/2026). Ia kemudian dipindahkan ke ruang ICU dan mendapat bantuan oksigen.

‎“Hari Senin trombositnya sudah turun ke 60.000 mcl, lalu Selasa (7/4/2026) pagi turun lagi ke 30.000 mcl. Siang dinyatakan meninggal dunia,” ucap Andy.

‎Ia mengaku tidak mengetahui pasti sumber penularan, karena di lingkungan sekitar rumahnya tidak ada laporan kasus serupa.

‎Kepala Puskesmas III Buleleng, dr Siti Nurul Aisyah, mengatakan pasien didiagnosis mengalami dengue shock syndrome (DSS), kondisi berat dari DBD yang dapat menyebabkan syok.

‎“Kami menerima informasi meninggal pada 7 April malam dari pihak rumah sakit,” ujar Siti.

‎Ia menambahkan, pihak puskesmas akan melakukan penyelidikan epidemiologi di lingkungan tempat tinggal pasien, termasuk memeriksa potensi sarang nyamuk dan warga yang mengalami gejala serupa.

‎“Kalau ada kasus seperti ini, kami cek lingkungan, apakah ada genangan air atau jentik nyamuk. Kami rencanakan fogging hari Minggu, tapi yang utama tetap pemberantasan sarang nyamuk (PSN),” katanya.

‎Menurut dia, fogging hanya membunuh nyamuk dewasa dan tidak efektif untuk jentik. Karena itu, partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan sangat dibutuhkan.

‎“Kami sudah lakukan sosialisasi sejak sebelum musim hujan, tapi menggerakkan masyarakat di wilayah perkotaan memang tidak mudah,” ujar dia.

‎Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Buleleng, hingga awal April 2026, penyakit DBD di Buleleng mencapai 109 kasus.

‎Kepala Dinkes Buleleng, Sucipto menyebut kasus DBD didominasi kelompok usia produktif 15–44 tahun sebanyak 42,2 persen.

‎Disusul usia 5–14 tahun sebesar 33 persen, usia di atas 44 tahun 11 persen, serta usia 1–4 tahun dan di bawah 1 tahun dengan persentase lebih kecil.

‎“Kasus DBD juga ditemukan pada kelompok usia balita, yakni bayi di bawah 1 tahun sebanyak 5 kasus atau 4,6 persen, serta anak usia 1–4 tahun sebanyak 10 kasus atau 9,2 persen,” kata Sucipto.

‎Sementara itu, anggota Komisi IV DPRD Buleleng yang membidangi kesehatan, Nyoman Dhukajaya, menilai kasus DBD masih menjadi persoalan endemik yang berkaitan erat dengan kondisi lingkungan.

‎“DBD ini penyakit endemik, sangat dipengaruhi sanitasi, sampah, dan kepadatan penduduk. Pemerintah harus memperkuat langkah preventif, jangan sampai berkembang jadi wabah,” ujar dia, usai melayat ke rumah duka pasien.

‎Ia juga menyoroti pentingnya Puskesmas untuk melakukan pemetaan penyebaran dan penanganan di, terutama di wilayah rawan.

‎“Wilayah padat seperti Banyuning dari tahun ke tahun selalu ada kasus. Tim harus turun, cek sarang nyamuk, edukasi masyarakat. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang,” pungkasnya.(Wis)

Popular Articles