Wednesday, April 22, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Gubernur Koster dan Pusat Sepakati Pembangunan PSEL Dimulai Juli, 1200 Ton Sampah Disulap jadi Listrik, Warga Diminta Perkuat Pilah Sampah

Optimalisasi PSEL Ada Tangan Masyarakat, Pilah Sampah Organik, Anorganik dan Residu dari Sumber

JAKARTA, The East Indonesia – Perjuangan tak kenal lelah Gubernur Bali Wayan Koster mencari solusi persoalan sampah Bali menemui titik terang dari pemerintah pusat. Infrastruktur program menyulap sampah jadi energi listrik rencananya groundbreaking (peletakan batu pertama) pada Juli 2026 di Benoa Denpasar Bali.

Kesepakatan dimulainya pembangunan fasilitas PSEL (pengelolaan sampah menjadi energi listrik) ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS)
di Kantor Menko Bidang Pangan, Jakarta, Selasa 21 April 2026.

Hadir langsung Gubernur Bali Wayan Koster, Walikota Denpasar IGN Jaya Negara, Bupati Badung Adi Arnawa, pemerintah pusat, Danantara dan operator yang telah ditunjuk untuk membangun.

“Pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik(PSEL) berbasis teknologi ramah lingkungan dipastikan akan dilakukan di Provinsi Bali,” kata Gubernur Bali Wayan Koster.

Koster menjelaskan, peletakan bantu pertama pembangunan PSEL di Benoa direncanakan 8 Juli 2026. Menurutnya pemilihan tanggal ini bertepatan hari baik bagi masyarakat Bali.

“Pembangunan PSEL membutuhkan waktu sekitar 15 bulan, dan ditarget selesai bulan Oktober 2027, serta akan mulai beroperasi Desember 2027,” jelas Koster.

Menurut Gubernur Bali dua periode ini,
PSEL Bali akan mampu mengolah sampah minimum 1200 ton perhari. Denpasar dan Badung akan menjadi wilayah penyuplai sampah terbesar untuk fasilitas ini. Diprediksi sebanyak 700 ton perhari sampah dari Denpasar dan 500 ton perhari dari Badung.

Meski teknologi PSEL dianggap sangat mutakhir, Gubernur Koster menegaskan bahwa kunci keberhasilan program ini tetap berada di tangan masyarakat Bali. Efisiensi, efektif dan optimalisasi mesin pengolah sangat bergantung pada kualitas sampah yang masuk ke sana yang telah dipilah dari sumber.

“Masyarakat harus memperkuat budaya memilah sampah dari sumbernya. Jika sampah terpilah dengan baik, PSEL akan beroperasi lebih efisien dan produksi energi listriknya pun lebih optimal,” tegasnya.

Nantinya, energi listrik yang dihasilkan dari pengolahan sampah ini akan langsung dibeli oleh PT PLN sebagai bagian dari komitmen penyediaan sumber energi bersih dan ramah lingkungan secara berkelanjutan di Bali.

Penandatanganan PKS strategis dalam penanganan persoalan sampah di Bali ini turut disaksikan oleh sejumlah pejabat tinggi negara, di antaranya Menko Pangan, Menteri Lingkungan Hidup, Wamendagri, serta jajaran direksi PT PLN dan Pelindo.(*)

Popular Articles