ATAMBUA, The East Indonesia – Masyarakat di Kabupaten Belu, wilayah perbatasan RI-RDTL, kini harus merogoh kocek lebih dalam demi mendapatkan elpiji non-subsidi akibat terbatasnya pasokan di pasaran.
Pantauan di lapangan menunjukkan harga tabung elpiji 12 kilogram kini menyentuh angka Rp. 330.000 hingga Rp. 340.000 per tabung.
Kenaikan ini tergolong drastis mengingat sebelumnya harga normal tabung elpiji 12 kilogram berada di kisaran Rp.265.000 per tabung.
Krisis pasokan ini mulai dirasakan warga sejak akhir Maret 2026. Distribusi dari agen ke pangkalan-pangkalan resmi mengalami pengurangan volume secara signifikan, yang memicu terjadinya kelangkaan.
Kondisi ini memaksa warga untuk mencari stok hingga ke pelosok, meski dengan harga yang jauh di atas standar.
Salah satu pelaku usaha pangkalan Juventus di Kabupaten Belu, Alexander Ngongo, menyebutkan jumlah pasokan yang diterimanya jauh berkurang dibandingkan sebelumnya.
“Biasanya kami bisa dapat sampai 300 tabung, sekarang hanya sekitar 90 tabung. Ada informasi pembatasan dari Surabaya, tapi kami belum tahu pasti penyebabnya,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).
Menurut Alexander, keterbatasan stok berdampak langsung pada kenaikan harga di tingkat pangkalan.
“Harga elpiji 12 kilogram yang sebelumnya dijual 265 ribu rupiah kini naik menjadi 330 ribu rupiah per tabung. Sementara elpiji 5,5 kilogram ikut mengalami kenaikan dari 155 ribu rupiah menjadi 170 ribu rupiah,” pintanya.
Diterangkan bahwa kenaikan harga tidak bisa dihindari karena harga tebus dari distributor juga meningkat, bahkan mencapai Rp.300 ribu hingga Rp. 320 ribu per tabung untuk ukuran 12 kilogram.
Di sisi lain, tingginya permintaan masyarakat semakin memperparah situasi. Elpiji masih menjadi kebutuhan utama, baik untuk rumah tangga maupun pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM).
“Permintaan sangat tinggi, terutama dari pelaku usaha. Tapi stok terbatas, jadi banyak yang tidak kebagian,” katanya.
Alexander berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menormalkan distribusi elpiji di wilayah perbatasan agar tidak terjadi kelangkaan yang lebih parah.
“Kalau tidak segera diatasi, minggu depan bisa lebih sulit. Kami harap ada solusi supaya pasokan lancar kembali dan harga bisa stabil,” ujarnya
Hingga berita ini diturunkan, warga berharap adanya langkah cepat dari pihak terkait untuk menormalisasi distribusi guna menekan harga yang kian mencekik, terutama bagi pelaku usaha kecil dan rumah tangga yang bergantung pada gas non-subsidi. (Ronny)
