JAKARTA, The East Indonesia – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, khususnya Direktorat Kursus dan Pelatihan, menggelar Webinar Seri 1 Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Mendunia bertajuk “Meniti Karier Global: Strategi dan Sukses Alumni LKP di Dunia Kerja Internasional” yang diselenggarakan secara daring, Jumat (29/5).
Webinar bertujuan memberikan wawasan strategis, motivasi, dan penguatan kapasitas bagi para lulusan LKP dalam meniti karier global serta mengoptimalkan implementasi kompetensi mereka di dunia kerja internasional. Selain itu, melalui kegiatan ini, Kemendikdasmen menekankan kembali pentingnya sinergisitas serta kolaborasi yang baik dengan industry melalui penguatan ekosistem LKP agar semakin adaptif, berdaya saing, dan mampu menjawab kebutuhan tenaga kerja terampil di pasar global.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, saat membuka acara webinar secara resmi menegaskan bahwa tantangan dunia kerja global saat ini tidak lagi hanya bertumpu pada kemampuan teknis semata. Menurutnya, keterampilan teknis kini hanya menjadi “tiket masuk”, sedangkan karakter dan sikap kerja menjadi faktor utama yang menentukan keberlanjutan karier seseorang.
“Dunia kerja internasional bergerak sangat cepat. Hari ini, ijazah saja tidak cukup. Yang membuat seseorang mampu bertahan di luar negeri justru kemampuan beradaptasi, disiplin, komunikasi, dan sikap kerja yang baik. Di tempat kerja internasional, seseorang tidak hanya dinilai dari seberapa cepat ia bekerja, tapi juga cara ia menghargai waktu dan melayani orang lain dalam tim yang lintas budaya,” tegas Tatang.
Dalam pandangannya, Tatang juga mengingatkan para calon tenaga kerja global agar memiliki kesiapan mental yang kuat. Ia menilai bekerja di luar negeri membutuhkan ketangguhan karena realitanya sangat berbeda dengan bayangan populer. “Bekerja di luar negeri itu bukan seperti liburan ala drama Korea yang setiap hari menikmati salju sambil minum kopi hangat dengan backsound romantis. Ada rasa rindu rumah, tekanan kerja, serta perbedaan budaya yang nyata. Di sinilah mental tangguh menjadi sangat penting. Dunia global sangat menghargai pekerja yang gesit, sopan, dan jujur. Sering kali sikap baik (attitude) jauh lebih diingat daripada nilai ijazah yang tinggi,” tuturnya.
“Sesuai dengan semangat kita: ‘Baiknya Kursus, Baiknya Masa Depan’,” imbuh Tatang.
Selanjutnya, Direktur Kursus dan Pelatihan, Yaya Sutarya, dalam laporannya menyampaikan bahwa inisiasi webinar ini merupakan tindak lanjut langsung dari arahan Dirjen Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus serta pemberian penghargaan kepada “LKP Mendunia” pada momen Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) lalu. Menurutnya, pendidikan nonformal di Indonesia memiliki potensi besar dalam mencetak sumber daya manusia yang kompetitif di tingkat internasional.
“Saat ini tercatat ada sekitar 12.601 LKP yang tersebar di seluruh Indonesia dengan berbagai bidang keterampilan. Tren kebekerjaan lulusan kita di luar negeri menunjukkan grafik positif, terutama pada sektor hospitality, caregiver, terapi spa, kapal pesiar, hingga manufaktur. Capaian ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan dunia industri internasional terhadap kualitas lulusan pendidikan kursus Indonesia,” jelas Yaya.
Lebih lanjut, Yaya merinci langkah-langkah strategis yang tengah dilakukan Direktorat untuk mendukung visi LKP Mendunia. Selain pengembangan kurikulum berbasis industri global dan penguatan sertifikasi kompetensi, pihaknya juga memperkuat sistem pendampingan alumni melalui sistem SIPAKU (Sistem Informasi Penempatan Kerja dan Alumni).
“Kami terus mendorong penguatan kualitas lembaga melalui peningkatan kapasitas pendidik dan tenaga kependidikan. Webinar ini akan diselenggarakan secara rutin setiap minggu dengan mendatangkan tim atau pembicara dari luar negeri agar pengelola LKP dapat melihat langsung kebutuhan pasar sehingga terjadi proses link and match yang sempurna antara kurikulum di LKP dengan kebutuhan nyata industri di mancanegara,” tambah Yaya.
Webinar turut menghadirkan alumni LKP yang berbagi praktik baik tentang meniti karier di berbagai negara. Evi Nur Alifah, lulusan LKP NCL Madiun, yang kini bekerja sebagai Banquet Captain di sebuah resor mewah di Dubai, serta Yusuf Aldiansah, lulusan LKP Abdi Bangsa Institute, yang kini berkarier di Albania.
Evi menuturkan bahwa bekal keterampilan dan pembentukan karakter yang diperolehnya selama mengikuti pendidikan di LKP menjadi modal utama dalam berkarier di industri perhotelan internasional. “LKP tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga membentuk disiplin, etika kerja, kemampuan komunikasi, dan kepercayaan diri. Ketika pertama kali bekerja di Dubai, saya menghadapi lingkungan kerja yang sangat beragam dengan rekan kerja dari berbagai negara. Bekal yang saya dapatkan selama belajar di LKP membantu saya beradaptasi dan berkembang hingga dipercaya menduduki posisi Banquet Captain saat ini,” ujar Evi.
Senada dengan itu, Yusuf mengisahkan bahwa kesempatan berkarier di Hotel 4 Stinet Albania merupakan pengalaman yang membuka wawasan global sekaligus menguji kesiapan mental dan profesionalismenya.
“Bekerja di luar negeri mengajarkan saya untuk terus belajar, menghargai perbedaan budaya, dan menjaga standar kerja yang tinggi. Kompetensi yang saya peroleh di LKP menjadi fondasi penting untuk bersaing di lingkungan kerja internasional. Saya berharap semakin banyak lulusan LKP Indonesia yang berani mengambil peluang global karena kualitas kita mampu bersaing dengan tenaga kerja dari negara lain,” ungkap Yusuf.
Webinar ini juga menghadirkan perwakilan industri internasional, Igli Tavlinezh dari Hotel Human Resources Corporate Albania. Kehadirannya mempertegas komitmen Kemendikdasmen dalam membangun jejaring internasional yang konkret bagi lulusan LKP. Melalui pemaparan mengenai standar kompetensi global, LKP diharapkan mampu melakukan transformasi menjadi lembaga pendidikan yang semakin adaptif dan bertaraf internasional.
Igli Tavlinezh menyampaikan apresiasinya terhadap kualitas lulusan Indonesia yang dinilai memiliki kombinasi kompetensi teknis dan sikap kerja yang sangat dibutuhkan industri global. “Berdasarkan pengalaman kami bekerja sama dengan tenaga kerja asal Indonesia, mereka menunjukkan dedikasi yang tinggi, kemampuan belajar yang cepat, serta sikap kerja yang profesional. Industri internasional saat ini tidak hanya mencari pekerja yang memiliki keterampilan teknis, tetapi juga integritas, kedisiplinan, dan kemampuan bekerja dalam tim multikultural. Kami melihat banyak lulusan Indonesia memiliki kualitas tersebut dan berpotensi untuk terus berkembang di pasar kerja global,” jelas Igli.***

