ATAMBUA, The East Indonesia – Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonzalves, memimpin langsung aksi simbolis penanaman padi di Dusun Haekrit, Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur, pada Senin (3/8/2026).
Berbeda dari biasanya, proses penanaman kali ini tidak lagi menggunakan cara manual.
Pemerintah Daerah kabupaten Belu melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Belu mulai mengoperasikan teknologi mesin penanam otomatis (rice transplanter) untuk memacu produktivitas lahan.
Agenda ini digelar sebagai upaya nyata mendongkrak Indeks Pertanaman (IP) di lokasi Optimalisasi Lahan (Oplah) pada Musim Tanam II (MT II).
Hadir di lokasi acara antara lain jajaran Pimpinan OPD, Danramil Wedomu, Kapolsek Wedomu, seluruh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) se-Kabupaten Belu, serta kelompok tani setempat.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Belu, Silvia Celeste Do Amaral, SSTP, menegaskan bahwa momen ini merupakan titik balik penting bagi petani lokal.
Kabupaten Belu yang berada di Perbatasan Negara RI-RDTL kini bermigrasi dari sistem tradisional ke ekosistem pertanian modern, mengadopsi keberhasilan yang telah lama diterapkan di wilayah maju seperti Pulau Jawa.
“Hari ini kita mulai penanaman simbolis menggunakan rice transplanter. Alat ini memudahkan petani menanam, menghemat waktu, menghemat biaya, dan membuat panen lebih cepat,” ujar Silvia saat diwawancarai awak media.
Untuk mengantisipasi cuaca panas pada Musim Tanam II, Dinas Pertanian memilih dua varietas padi unggul berumur genjah, yaitu Inpari 6 dan Pajajaran. Kedua varietas ini diproyeksikan sudah bisa dipanen dalam waktu dua bulan saja.
“Pada hari ini dilakukan penanaman simbolis di lahan seluas 7 hektar. Ini merupakan bagian dari program optimalisasi lahan reguler seluas 30 hektar. Jika digabung dengan area lain, totalnya mencapai 150 hektar di lokasi Haekrit yang ada juga yang sudah ditanam oleh kelompok tani setempat,” ujar Silvia Amaral.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Belu juga menjelaskan keunggulan sistem pembibitan modern yang kini diterapkan.
Berbeda dengan cara manual yang membutuhkan biaya besar untuk sebar benih, mencabut, dan menyewa tenaga kerja, sistem baru ini jauh lebih sederhana dan hemat.
Petani bisa memanfaatkan alat khusus atau menggunakan media mulsa. Benih cukup dihambur di atas tanah, lalu saat siap tanam, bibit tinggal digulung untuk dimasukkan ke dalam mesin transplanter.
Pemerintah Kabupaten Belu melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Belu, untuk memodernisasi sektor pertanian tidak berhenti pada proses penanaman.
Ke depan, Dinas Pertanian berencana menyosialisasikan penggunaan teknologi digital untuk proses pemeliharaan tanaman.
“Sebenarnya untuk penyiraman pupuk kita bisa menggunakan alat modern. Di kantor kami sudah ada drone, mungkin nanti bisa kita terapkan juga di sini. Kami bersama seluruh tim terus berusaha keras menuju pertanian modern dan meninggalkan cara-cara manual,” pungkas Silvia.
Melalui pendampingan intensif bagi kelompok tani dan sosialisasi alat mesin pertanian (alsintan) modern ini, Pemkab Belu optimistis mampu mendongkrak produktivitas pangan dan kesejahteraan petani di tapal batas. (Ronny)

