Tuesday, September 29, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Tak Gentar Terhadap Aparat Perbatasan, 2 Penyelundup Balpres Asal Belu-NTT Ditangkap di Negara Timor Leste

ATAMBUA, The East Indonesia – Jalur laut di Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) wilayah perbatasan RI-Timor Leste terus menjadi celah empuk bagi aksi penyelundupan dari para penyelundup.

Kali ini, nasib sial menimpa APR alias Guido (35) dan MRB alias Ate (24) yang mana keduanya adalah warga Fatukmetan, Desa Kenebibi, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu.

Dua warga Desa Kenebibi, Kabupaten Belu, Provinsi NTT ini nekat menembus batas negara lewat jalur laut secara ilegal demi menjemput puluhan kemasan pakaian bekas atau yang populer disebut balpres.

Hanya saja langkah ilegal mereka terhenti setelah Unidade Polisia Maritima (Polisi Maritim Timor Leste) berhasil menangkap mereka di kawasan perairan Atabae, Distrik Bobonaro, pada Rabu, 23 September 2026.

Sumber media menyebutkan bahwa Guido dan Ate merupakan penyedia jasa perahu saja sedangkan balpres tersebut sebetulnya milik bos besar di Indonesia yang sudah terbiasa melakukan penyelundupan.

Otoritas Timor Leste yang dikonfirmasi pada, Kamis 24 September membenarkan penggagalan penyelundupan Balpres dari Timor Leste ke Indonesia tersebut.

Informasinya, Guido dan Ate diamankan saat kapal boat yang memuat ratusan kemasan balpres hendak kembali ke Indonesia berpapasan dengan Polisi Maritim Timor Leste.

Selain keduanya, petugas juga menyita sejumlah barang bukti di lokasi kejadian, diantaranya puluhan kemasan hitam Balpres, perahu kayu, mesin tempel perahu (outboard motor) Tohatsu, Tangki Bensin Portabel, dan jerigen yang dipakai mengisi Bahan Bakar Minyak.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi pihak Timor Leste dan lembaga berwenang dari Indonesia terkait proses selanjutnya dua warga yang ditangkap di perairan Timor Leste tersebut.

Aksi penyelundupan di perbatasan Indonesia – Timor Leste kembali mencatat rapor merah menyusul terungkapnya kasus terbaru yang semakin menegaskan situasi mengerikan dan kian memprihatinkan di lini depan negara.

Deretan kasus yang terus berulang seolah menjadi alarm keras bahwa beranda terdepan NKRI kini berada dalam kondisi darurat penyelundupan.

Kenyataan di lapangan memperlihatkan ironi yang tajam.

Meski Satgas Pengamanan Perbatasan (Pamtas) bersama jaringan intelijen telah ditempatkan secara masif, kehadiran mereka tampak belum cukup ampuh untuk meredam nyali para pelaku.

Para penyelundup justru semakin nekat memanfaatkan jalur-jalur tikus, seakan tidak gentar dengan pengawasan ketat dan sanksi hukum yang mengintai.(Rony)

Popular Articles