Flores Timur, The East Indonesia – Mayoritas generasi muda Nusa Tenggara Timur mengimpikan bekerja di instansi pemerintah maupun lembaga perkantoran. Namun ada hal yang berbeda dari seorang gadis muda Adonara yang memilih meninggalkan ego sarjananya dan melestarikan warisan leluhur budaya tenun ikat.
Sarjana lulusan Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana Kupang tahun 2018, yang memiliki nama lengkap Maria Tuto Demon mengungkapkan kisah perjuangannya membangun Rumah Tenun Milenial. Gadis kelahiran Desa Gayak 12 Februari 1995 ini, mulai membangun Rumah Tenun Ikat Milenial di Desa Boleng, Kecamatan Ile Boleng tahun 2022 lalu.
“Bagi saya, menjadi PNS atau bekerja di instansi pemerintah adalah pilihan yang baik. Tetapi saya percaya, setiap orang punya jalan pengabdian yang berbeda. Saya ingin menciptakan ruang bagi orang lain untuk bekerja dan berkembang, terutama anak-anak muda dan perempuan di kampung,” tutur gadis muda yang akrab Ria ini kepada The East Indonesia, Sabtu (03/10/2026) petang.
Ria ini menuturkan, dirinya pernah mengusulkan pembangunan pondok tenun ikat khas Kecamatan Ile Boleng, Pulau Adonara NTT ke pemerintah desanya melalui Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) tahun 2018 lalu. Namun tak kunjung direalisasikan, sehingga Ria memilih memulainya sendiri dengan menenun dan menjualnya kepada sejumlah kenalan.
“Kesulitan terbesar saya di awal memang modal. Setelah selesai kuliah pertanian, saya belum punya modal yang cukup untuk memulai usaha. Karena waktu itu, bapak saya lagi sakit dan saya harus merawat beliau setelah operasi. Jadi saya mulai dari apa yang saya bisa, dengan mulai menenun sendiri. Hasil tenun saya jual kepada senior-senior dan juga dosen-dosen saya waktu kuliah di Kupang. Dari hasil itulah saya kumpulkan sedikit demi sedikit untuk membeli benang dan kebutuhan produksi lainnya, tuturnya.

Setelah modal mulai terkumpul, Ria kemudian mencoba membangun pondok sederhana yang dijadikan tempat untuk menenun kain khas Pulau Adonara, Flores NTT.
Ria mengaku, sulitnya lowongan pekerjaan di wilayah terpencil memicu maraknya anak muda setempat yang merantau. Selain itu, pola peradaban masyarakat adat yang mulai tergilas perkembangan teknologi melahirkan kekhawatiran akan punahnya budaya tenun ikat warisan leluhur Pulau Adonara.
“Saya melihat tenun Adonara memiliki nilai yang sangat besar. Dibalik selembar kain ada sejarah, filosofi, keterampilan, dan identitas orang Adonara. Tetapi kalau generasi muda tidak lagi tertarik belajar menenun, perlahan-lahan budaya itu bisa hilang. Itulah yang membuat saya memilih jalan ini. Saya ingin usaha yang saya bangun bukan hanya menghasilkan uang, tetapi juga menjadi tempat untuk belajar, melestarikan budaya, dan membuka peluang bagi masyarakat,” katanya.

Menurut Ria, jalan yang dipilih memang tidaklah mudah saat memulai. Apalagi membangun kepercayaan masyarakat membutuhkan waktu yang dibuktikan dengan hasil karya. Sehingga masalah umum maraknya perantauan ke luar daerah bisa diminimalisir dengan menciptakan lapangan pekerjaan yang bisa menghasilkan uang dan bermanfaat bagi generasi wanita Adonara untuk belajar.
“Saya ingin membuktikan bahwa kita tidak harus meninggalkan kampung untuk menjadi sukses. Kita juga bisa membangun sesuatu dari kampung sendiri, mengangkat budaya kita, dan hidup dari kekayaan yang kita miliki. Jadi, bagi saya, membangun Rumah Tenun Milenial bukan sekadar berwirausaha. Ini adalah bentuk kecil dari pengabdian saya untuk Adonara,” ungkapnya.
Bagi Ria, membangun kharakter generasi muda Adonara menjadi tanggungjawabnya sebagai gadis keturunan pulau yang terletak di ujung timur Pulau Flores NTT itu.
“Karena saya percaya, kalau bukan kita generasi muda yang menjaga dan meneruskan warisan ini, siapa lagi? Dan kalau bukan dimulai dari sekarang, kapan lagi?,” tandasnya.

Ria mengisahkan, niat awal membangun Rumah Tenun Milenial berangkat dari rasa kekawatiran akan punahnya warisan tenun ikat. Menurutnya, tenun bukan hanya sekedar kain tapi memiliki nilai sejarah dan identitas nilai budaya masyarakat adat Adonara.
“Saya melihat minat anak muda terhadap tenun mulai berkurang. Padahal, tenun bukan sekadar kain, tetapi ada sejarah, identitas, dan nilai budaya Adonara didalamnya. Saya tidak ingin suatu saat generasi muda hanya mengenal tenun dari cerita orang tua. Karena itu, saya ingin ikut mengajak anak muda untuk mengenal, belajar, dan mencintai tenun,” kisahnya.
Ketika Rumah Tenun Milenial mulai dikenal masyarakat, Ria ingin memperkenalkan kain tenun khas Adonara ke seluruh wilayah di tanah air bahkan luar negeri melalui partisipasinya dalam berbagai forum kegiatan.
“Untuk memperkenalkan tenun Adonara, saya tidak hanya menjual kainnya. Tetapi juga membawa tenun ini ke berbagai ruang dan kegiatan,” ujarnya.

Ria mengaku, pernah mendapat dukungan dari Yayasan Samdhana Institute untuk memperkenalkan tenun Adonara dalam pertemuan perempuan penenun se-ASEAN di Luang Prabang, Laos.
“Saya juga mengikuti berbagai kegiatan yang peduli terhadap lingkungan, seperti Lestari Bumi Cau di Labuan Bajo, Fashion Show di Bali, serta festival yang diselenggarakan pemerintah di Jakarta dan Nusa Tenggara Timur. Dan pernah menjadi delegasi pengusaha muda Indonesia dalam kegiatan FutureAction, Summit 2025 di Kuala Lumpur, Malaysia.
Ria menginginkan, tenun ikat dekat dengan generasi muda. Karena selama ini sarung sering dianggap kuno atau kolot.
“Saya mencoba mengolah tenun menjadi pakaian, tas, kalung, gelang, anting, dan berbagai produk yang mengikuti tren anak muda. Harapan saya, tenun Adonara tetap berakar di budaya kita, tetapi bisa mengikuti zaman, diterima anak muda, dikenal di seluruh Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri, pungkasnya.(*)

