Thursday, October 8, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Baru 10 Hari Bertugas, Satgas Pamtas Yonarhanud 14/PWY Gagalkan Penyelundupan 2 Ton BBM ke Timor Leste

ATAMBUA, The East Indonesia — Fenomena antrean panjang kendaraan yang mengular di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Belu selama beberapa bulan di musim kemarau setidaknya bisa terkuak.

Ada 8 SPBU yang beroperasi di Kabupaten Belu diantaranya Di dalam area Kota Atambua, ada SPBU Fatubenao, SPBU Halifehan, SPBU Wekatimun, SPBU Sesekoe, dan SPBU Fatukbot (Motabuik).

Sementara dua titik lainnya berada di wilayah Kecamatan Tasifeto Barat, yaitu SPBU Naresa dan SPBU Halilulik serta area Kecamatan Kakuluk Mesak ada SPBU Lakafehan,.

Antrean yang didominasi oleh kendaraan roda empat, roda enam atau lebih, hingga kendaraan roda dua bertangki besar tersebut ternyata bukan dipicu oleh kelangkaan pasokan dari Pertamina, melainkan akibat ulah mafia penyelundupan BBM lintas batas negara.

Kendaraan-kendaraan ini mendadak aktif dan berulang kali ikut mengantre di SPBU.

Ironisnya, pengisian BBM tersebut bukan untuk pemakaian harian atau dijual kembali secara eceran di tingkat masyarakat lokal.

Kendaraan-kendaraan tersebut dimanfaatkan untuk menyedot (tap) BBM bersubsidi secara masif, yang kemudian ditampung di suatu tempat sebelum diselundupkan ke negara tetangga, Timor Leste, demi meraup keuntungan dengan nilai jual yang fantastis.

Para pelaku sengaja memanfaatkan momentum musim kemarau saat ini untuk melancarkan aksinya.

Kondisi cuaca yang kering, sungai perbatasan Negara yang tidak banjir, serta jalur laut yang tenang tanpa gelombang dan hujan, mempermudah akses logistik mereka untuk menembus jalur-jalur tikus perbatasan secara ilegal.

Dampak dari praktik ini dirasakan langsung oleh masyarakat umum.

Kendaraan yang benar-benar beroperasi untuk kebutuhan transportasi harian dan logistik publik terpaksa harus mengantre hingga berjam-jam demi mendapatkan BBM.

Padahal, kuota BBM yang disalurkan oleh pihak Pertamina dipastikan sangat mencukupi untuk menjawab kebutuhan riil masyarakat di Kabupaten Belu maupun warga dari luar daerah yang transit.

Merespons keresahan masyarakat, Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI-RDTL yang baru, Yonarhanud 14/PWY, di bawah komando Letkol Arh Rudi Afrika, S.Sos., langsung bergerak cepat.

Meski baru 10 hari mengemban tugas di tapal batas, satuan yang mengawal garis perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia (RI) dan Timor Leste (RDTL) ini berhasil menggagalkan berbagai upaya penyelundupan barang ilegal lintas batas, baik yang mencoba masuk ke wilayah Indonesia maupun yang akan diselundupkan keluar menuju Timor Leste.

Dalam kurun waktu singkat, personel Satgas Pamtas Yonarhanud 14/PWY berhasil mengamankan sedikitnya 2 ton BBM ilegal, yang terdiri dari jenis solar dan minyak tanah.

Total barang bukti 2 ton BBM siap selundup ke Negara Timor Leste tersebut berhasil disita dari hasil penyergapan di tiga titik krusial, yakni Pos Motaain, Pos Motamasin, dan Pos Nunura.

Keberhasilan awal dari Yonarhanud 14/PWY ini menjadi sinyal peringatan keras bagi para pelaku penimbunan dan penyelundupan BBM di wilayah perbatasan agar segera menghentikan aksi mereka yang merugikan hajat hidup orang banyak.

Pencapaian signifikan ini tidak terlepas dari hasil dari patroli malam dan pengawasan intensif di sejumlah titik rawan serta jalur tikus.

Berikut adalah daftar rincian barang bukti ilegal yang berhasil diamankan oleh jajaran pos Satgas Pamtas Yonarhanud 14/PWY selama 10 hari pertama masa tugas mereka:

• Pos Damar: Berhasil mengamankan 14 karung balpres (pakaian bekas) yang diduga diselundupkan melalui jalur tidak resmi.

• Pos Maubusa: Sukses menyita 30 krat minuman soda.

• Kotis / Mako Satgas: Menggagalkan pengangkutan minyak dalam jumlah besar berupa 735 liter Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar.

• Pos Nunura: Mengamankan 350 liter BBM Solar.

• Pos Motaain: Dalam aksi pertamanya, pos ini berhasil menghentikan penyelundupan 50 krat Coca-Cola.

• Pos Motamasin: Menyita 35 liter Solar dan 175 liter Minyak Tanah.

• Pos Motaain (Aksi Tambahan): Kembali memperketat pengawasan dan berhasil mengamankan intersep kedua berupa 700 liter BBM Solar serta 20 krat minuman bersoda (Coca-Cola dan Fanta).

Komandan Satgas Yonarhanud 14/PWY, Letkol Arh Rudi Afrika, S.Sos menerangkan bahwa BBM tersebut jenis solar dan minyak tanah.

Selain BBM juga turut diamankan balpres (pakaian bekas) serta minuman soda manis.

Dari 10 hari penugasan di Atambua, kami mengamankan beberapa barang bukti.

Untuk ballpress sebanyak 12 karung sudah diserahkan ke pihak Bea Cukai empat hari lalu. Sementara barang bukti lainnya masih dikumpulkan untuk penyerahan tahap berikutnya,” jelas Letkol Arh Rudi Afrika saat diwawancarai di Mako Satgas Kelurahan Umanen, Kecamatan Atambua Barat, Rabu 7 September 2026.

Rudi menegaskan bahwa fokus utama Satgas Pamtas adalah pengawasan dan penindakan di sepanjang garis perbatasan, baik barang yang keluar menuju Timor Leste maupun yang masuk ke Indonesia.

”Jika menyangkut pengawasan dari SPBU ke oknum tertentu, itu merupakan domain Kepolisian. Namun, jika kami menerima informasi adanya tindak penyimpangan tersebut, kami akan berkoordinasi dan meneruskan informasinya ke pihak Polri,” ungkapnya.

Ia menuturkan bahwa para pelaku penyelundupan sengaja menaruh barang tersebut dibuat tersembunyi sebelum diseberangkan.

”Para pelaku biasanya menaruh BBM di pesisir sungai sambil memantau situasi. Seperti kejadian tadi malam, saat hendak menaikkan BBM ke perahu, pelaku melihat pergerakan anggota kami lalu melarikan diri. Anggota sempat melakukan pengejaran hingga masuk ke sungai, namun pelaku berhasil lolos memanfaatkan penguasaan medan,” tandas Rudi.

Disampaikan bahwa Satgas Pamtas Yonarhanud 14/PWY akan terus memperketat patroli dan kegiatan penghentian/penyergapan (ambush) dengan memperkuat koordinasi bersama Satgas Intelijen dan Satgas Bais di sepanjang wilayah perbatasan RI-RDTL.

Sementara itu barang bukti yang ada di Satgas akan diserahkan ke Bea Cukai dalam waktu dekat. (Ronny)

Popular Articles