ATAMBUA, The East Indonesia — Program pembinaan kemandirian di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Atambua kembali berikan keberhasilan.
Bertempat di area Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE), Kepala Lapas Atambua, Antonio Da Costa, memimpin langsung jajarannya bersama tujuh orang Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) untuk memanen buah melon segar pada Senin (12/10/2026).
Selama 87 hari, tujuh WBP yang telah memenuhi syarat asimilasi kerja di luar tembok Lapas ini merawat tanaman mereka dengan intensif, mulai dari pembibitan hingga masa panen tiba.
Keberhasilan budidaya hortikultura ini menjadi bukti nyata komitmen Lapas Atambua dalam menyelenggarakan fungsi pembinaan berbasis keterampilan.
Program ini dirancang sebagai bekal konkret agar para warga binaan memiliki keahlian produktif, mandiri, dan siap diterima kembali dengan baik oleh masyarakat setelah menyelesaikan masa pidananya.
Dalam kesempatan tersebut, Antonio memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para warga binaan yang terlibat.
Dirinya menegaskan bahwa capaian ini menjadi bukti nyata komitmen Lapas Atambua dalam mendukung program ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.
“Kerja keras dan ketekunan yang ditunjukkan hari ini membuktikan kembali bahwa proses pembinaan di Lapas Atambua terus berjalan secara berkelanjutan. Kami berkomitmen memberikan keterampilan kerja yang bervariasi, khususnya di sektor ketahanan pangan. Kami berharap ilmu dan keterampilan budidaya ini dapat menjadi bekal berharga bagi warga binaan setelah bebas nanti,” ujar Antonio.
Sementara itu, Kepala Subseksi (Kasubsi) Kegiatan Kerja, Andra Sukabir menjelaskan proses teknis budidaya melon tersebut. Ia menyampaikan bahwa proses penanaman telah dimulai sejak 15 Juli lalu.
“Sejak tanggal 15 Juli, warga binaan didampingi dan diajarkan secara bertahap mulai dari pemilihan bibit unggul, perawatan harian, hingga perlakuan khusus menjelang panen. Tidak hanya budidaya, nantinya warga binaan juga akan diajarkan strategi pemasaran untuk menjual hasil panen ini ke pasar dan masyarakat luas dengan estimasi nilai jual Rp30.000 per buahnya,” jelas Andra.
Momen panen raya tersebut turut menumbuhkan rasa percaya diri dan kepuasan tersendiri bagi warga binaan yang mengelola lahan SAE.
“Melihat melon yang kami rawat berbuah manis dan siap panen membuat kami sangat bangga. Kami menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Kalapas dan tim pembina atas arahan dan edukasinya selama ini. Keterampilan pertanian ini sangat berguna bagi kami,” ujar Leo Asa.
Keberhasilan panen raya ini tak lepas dari sinergi bersama peserta magang yang turut aktif mendampingi serta membagikan ilmu budidaya pertanian kepada warga binaan.
“Kami sangat senang dapat berkontribusi dan berbagi ilmu pertanian dengan para warga binaan di SAE Lapas Atambua. Melihat antusiasme mereka hingga berhasil memanen 400 kg melon hari ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan dan membanggakan bagi kami,” ungkap peserta magang, Demitrio Nahak.
Melalui panen raya ini, Lapas Atambua terus membuktikan posisinya sebagai lembaga pemasyarakatan yang produktif, berdaya guna, serta berfokus pada pembekalan nyata bagi warga binaan demi menyongsong masa depan yang lebih baik.(Rony)


