Wednesday, March 11, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Mepatingan,Atraksi Seni Bela Diri Yang Patut Dicoba

Oleh : Putu Eni Oktaviani

Menurut Komisi X DPR RI Djoko Udjianto di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, saat menggelar pertemuan dengan otoritas pariwisata Kalteng, Minggu (29/4/2018)., industri pariwisata merupakan pembangkit tenaga kerja yang luar biasa. Kegiatan pariwisata yang mendapat banyak perhatian saat ini adalah wisata olahraga (sport tourism). Salah satu ajang olahraga bergengsi ialah Asian Games. Indonesia berkesempatan menjadi tuan rumah Asian Games 2018 yang dilaksanakan di Jakarta dan Palembang. Dalam Asian Games 2018 ini menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkenalkan beberapa daerah destinasi wisata di Indonesia. Bali sebagai ikon pariwisata Indonesia memiliki salah satu seni olahraga berbasis budaya yang unik yang disebut Mepantigan. 

Mepantigan merupakan seni bela diri yang melibatkan teknik fisik seperti seni bela diri pada umumnya. Seni bela diri pencak tradisional Bali seperti Sitembak, 7 harian, Depok atau biasa disebut Tengklung, juga seni bela diri modern dari Negara lain seperti taekwondo, judo, muaythai dan lainnya lalu dipadukan dengan drama, seni budaya dan musik gambelan yang dilaksanakan di kubangan lumpur persawahan. Seni olahraga ini memang unik dan disetiap pelaksanaannya mengandung filosofi yang bermakna religi sehingga wisatawan akan merasakan pengalaman baru yang berbeda dengan melakukan atraksi Mepantigan. Tim research Sekolah Tinggi Pariwisata Bali Internasional (STPBI) yang diketuai oleh Ni Nengah Ariastini dengan Ni Made Ayu Natih Widhiarini dan Putu Eni Oktaviani sebagai anggota telah melaksanakan penelitian di Pondok Mepantigan yang berjudul “Mepantigan Gulat Ala Bali sebagai atraksi wisata budaya dalam pengembangan sport tourism di Bali”.

Bapak Putu Witsen Widjaya selaku pencetus Mepantigan menyatakan bahwa Mepantigan merupakan sebuah permainan yang menyatu dengan alam, kegiatannya dilakukan di alam terbuka dengan memanfaatkan sarana dan prasarana dari alam seperti lumpur, bambu, daun kelapa kering, dan angsa. Makanan dan minuman yang disajikan juga mengangkat tema lumpur seperti nasi lumpur, tipat lumpur, bebek lumpur, kopi lumpur, dan bakso lumpur serta makanan  sederhana yang diolah dengan bebas vetsin atau MSG.  Dengan demikian, Mepantigan perlu dikembangkan untuk mendukung kelestarian budaya dan sport tourism sehingga dapat meningkatkan kualitas pariwisata Bali kedepannya. “Selama melaksanakan penelitian disini, kami sempat mewawancarai beberapa wisatawan dan rata-rata mengatakan bahwa mereka merasakan sensasi yang berbeda dengan terjun langsung ikut bergabung dalam atraksi dibandingkan hanya dengan melihat saja. Mereka juga merasa sangat bersemangat karena pemandu selalu memberikan kejutan yang membuat wisatawan merasa tertantang.” Papar Ariastini selaku Ketua Tim. Sebagai atraksi wisata budaya yang unik, Mepantigan sebenarnya sudah pernah diliput oleh beberapa channel media baik lokal maupun internasional. Tertarik untuk mencobanya?

Popular Articles