Monday, March 16, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Tuna Rungu Dan Tuna Wicara Pun Mampu Berteater

Buleleng,Theeast.co.id, –  Pementasan teater yang merupakan lanjutan dari project 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah masih terus berlanjut. Pementasan kali ini mengangkat seorang aktor Sukarmi, seorang penyandang tuna rungu dan tuna wicara. Project yang diinisiasi oleh Kadek Sonia Piscayanti ini telah memasuki pementasan ketujuh. Pementasan itu dilangsungkan di Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, pada Minggu (22/10) malam. Selain itu Sonia juga menggandeng 10 ibu yang terlibat dalam project tersebut, sebagai aktor pendukung. Pada pementasan malam itu, Sukarmi membawakan naskah berjudul “Saya Punya 3 Indra Tujuan” yang ditulis sekaligus disutradarai Kadek Sonia Piscayanti. Pementasan dilakukan secara sederhana di teras rumah tempat tinggal Sukarmi, di Jalan Srikandi Gang Mawar.
Naskah yang dimainkan Sukarmi menceritakan mengenai kisah hidupnya. Sebagai seorang disabilitas, ia juga memiliki rasa cinta. Ia pernah menikah. Suami pertamanya pergi, saat ia melahirkan anak perempuan. Ia menikah lagi. Kali ini ia melahirkan anak perempuan lagi. Suaminya pun meninggalkannya lagi. Belum lama ini ia menikah untuk ketiga kalinya. Suaminya juga seorang disabilitas tuli-bisu. Kali ini ia melahirkan anak lelaki. Sehat, gemuk, lengkap, dan normal. Ia tak tahu apakah suaminya akan meninggalkan dirinya.

Semenjak ditinggal suami pertama dan keduanya, ia tak pernah diberi nafkah. Ia berusaha, menghidupi anaknya semaksimal mungkin. Setiap hari Sukarmi bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Dalam sehari ia bisa membersihkan empat hingga lima rumah. Ia terus bekerja sampai lupa bermimpi.
Bagi Sukarmi tujuan hidupnya adalah anak-anaknya. Meski tidak punya indra yang lengkap, Sukarmi merasa bahagia bersama anak-anaknya.

Pementasan malam itu juga unik. Sukarmi berbicara menggunakan bahasa isyarat. Sementara 10 ibu lainnya, menjadi perantara satu hingga dua kalimat yang disampaikan Sukarmi lewat bahasa isyarat. Sukarmi seolah-olah bergerak seperti seorang pantomime. Menurut sutaradara pementasan, Kadek Sonia Piscayanti, pementasan kali ini merupakan tantangan tersulit sejauh ini. Sangat sulit mengajar Sukarmi membaca naskah. Membaca naskah juga menyulitkan Sukarmi dalam melakukan gerak bahasa isyarat.
Selain itu saat membawakan kisahnya, Sukarmi terus menangis. “Akhirnya saya putuskan potong setengah naskah itu tanpa mengurangi esensi. Sepuluh ibu lain juga terlibat, menjadi perantara, sehingga gerakan ibu Sukarmi bisa dipahami. Kami 11 ibu ini merepresentasikan seorang Sukarmi,” kata Sonia.

Sementara itu salah seorang penonton, Clare Strahn sangat tertarik dengan pementasan itu. Dosen di RMIT University Singapura itu pun begitu intens menonton selama pementasan.
“Saya tidak begitu tahu bahasa isyarat. Tapi intonasi suara, emosi, tatapan matanya, bisa menyampaikan pesan. Bisa kamu bayangkan bagaimana sulitnya menjadi dia bila ingin menyampaikan sesuatu. Sedangkan dia tidak bisa bicara. Saya tertarik sekali dengan pementasan ini. Sangat indah,” ujar Clare. (Nay)

Popular Articles