Denpasar, Theeast.co.id – Viralnya informasi kedatangan dan penindakan pihak Imigrasi terhadap Maria Ozawa yang datang ke Bali untuk menghadiri Birthday Bash “Barbie Nouva, Tropical Pirates Boat Party” pada Selasa (6/11) lalu. Diketahui, Maria Ozawa semula menggelar acara di kawasan perairan Benoa dengan menggunakan salah satu kapal yang kerap digunakan untuk dinner, namun kemudian dipindahkan ke sebuah villa di wilayah Sekar Tunjung Denpasar. Kedatangan Maria Ozawa rupanya mendapat kecaman dari praktisi pariwisata I Made Ramia Adnyana.
Menurut Ramia yang juga GM Sovereign Hotel ini, acara tersebut tidak layak diadakan di Bali. Pasalnya mencederai pariwisata Bali yang berlandaskan adat budaya. “Bukannya kami menolak kedatangan artis yang terkenal karena film dewasanya itu, tapi acara macam itu jelas mencoreng pariwisata kita yang mengusung adat budaya,” ucap Ramia, Kamis (8/11).
Bahkan ia sendiri mengakui begitu mendengar kabar dan melihat pamflet yang beredar akan digelarnya acara itu berusaha mencari informasi kebenarannya. “Tapi sepertinya informasinya tertutup,” tandasnya.
Chairman Indonesia Tourism Outlook (ITO) 2018 ini juga kuatir jika keberadaan acara itu akan merusak loyalitas tamu yang kerap datang ke Bali. “Hal-hal seperti ini bisa mempengaruhi dan mencoreng pariwisata kita yang sedang kita bangun bersama,” katanya tegas. Ia mengingatkan pihak luar jangan menjual Bali untuk kepentingan pribadinya, padahal pariwisata Bali sudah jelas berbasis adat budaya.
Dari sisi lain Kepala Kesyahbandaran Operasional Pelabuhan (KSOP) Benoa, Captain Dwiyanto yang dikonfirmasi melalui selulernya menyatakan tidak ada aktivitas “party” di kawasannya. “Memang ada dua kapal yang kerap melakukan dinner di atas kapal tapi untuk laporan masuk Maria Ozawa sepertinya tidak ada,” katanya. Ia mengaku ada salah satu perusahaan pelayaran yang namanya dicatut telah melayangkan surat klarifikasi kepadanya soal itu. “Suratnya ada kok, nanti saya kirimkan,” infonya.
Saat dikonfirmasi ke perusahaan pelayaran Sea Safari Cruises yang diduga dicatut namanya, pihak manajemen juga mengaku tidak tahu menahu soal itu. “Tidak ada, kita sudah bersurat ke dinas terkait,” ucap Wulan singkat staff Sea Safari Cruises saat dikonfirmasi.
Kecaman juga ditujukan kepada pihak Imigrasi Kelas I Denpasar yang sangat responsoif untuk menindak Maria Ozawa. Pihak Imigrasi bahkan harus membeli tiket party, ikut berfoto bersama Maria Ozawa, bahkan ada yang meminum minuman alkohol demi penyamaran dalam menindak Maria Ozawa. Sementara selama ini banyak keluhan terhadap guide ilegal asal Cina, banyak pariwisata Bali yang dijual murah, banyaknya tenaga kerja ilegal asal Cina namun tidak menjadi atensi pihak Imigrasi Kelas I Denpasar.
Terkait dengan hal tersebut, Kepala Divisi Imigrasi Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Ham Provinsi Bali Agato P.P. Simamora menjelaskan, sebenarnya Imigrasi selama ini telah menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya. “Sampai hari ini kami sudah menahan dan memulangkan sekitar 900 orang karena berbagai persoalan. Kami tidak mau ini dibesar-besarkan. Dampaknya besar buat Bali karena pariwisatanya,” ujarnya. Ia mengaku, pengawasan terhadap orang asing tidak hanya melulu tugas Imigrasi. Semua pihal harus ikut berperan. Ada penyyidik PNS, ada polisi, ada Bea Cukai, ada Dinas Tenaga Kerja dan juga ada masyarakat umum.
Ia menjelaskan, keberadaan orang asing itu berawal dari visa dan aturan bebas visa ke Indonesia. Rezimnya adalah visa. Visa itu bisa diurus di KJRI di mana saja berada. Dari visa itulah ada proses izin tinggal. Imigrasi melakukan pengawasan yang ketat. “Kalau ada temuan di lapangan, di tengah masyarakat, laporkan. Maka kami akan deportasi orang itu bila orang asing itu telah membuat kekacauan dan meresahkan masyarakat. Kalau ada orang asing yang sedang ditindak polisi, Imigrasi tidak bisa mengambilnya. Kalau sedang diproses dinas tenaga kerja, Imigrasi tidak bisa mengambilnya. Jadi semua pihak berpartisipasi,” ujarnya.
Menurut Simamora, pihaknya sangat hati-hati melakukan penindakan terhadap orang asing bila terjadi pelanggaran terutama di wilayah Kuta, Legian, Seminyak, Nusa Dua dan seluruh kawasan wisata lainnya. Pertimbangannya beragam. “Kami tidak mau heboh dengan urusan ini. Kita tidak mau ini berdampak bagi pariwisata, menimbulkan kepanikan wisatawan asing,” ujarnya. Namun ia berjanji, bila ada orang asing termasuk orang Cina atau Tiongkok yang melanggar, maka tetap akan ditindak tanpa pilik kasih. (Axele Dhae)


