Denpasar, Theeast.co.id – Pemerintah Kota Denpasar melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) melakukan antisipasi membludaknya timbunan sampah saat pawai ogoh-ogoh, dengan menyiagakan 1100 personil pembersih sampah dan 73 armada yang akan mengangkut sampah ke TPA Suwung. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, maka
DLHK Kota Denpasar kembli bersiap untuk mengatasi kemungkinan adanya lonjakan volume sampah. Dimana, peningkatan sampah biasanya terjadi saat malam pengerupukan yang identik dengan mengarak ogoh-ogoh. Untuk mengantiipasi adanya penumpukan sampah di jalanan dan TPS, DLHK Kota Denpasar turut menyiagakan tenaga lapangan serta armada.
Kadis LHK Kota Denpasar, I Ketut Wisada saat dikonfirmasi Selasa (5/3) menjelaskan bahwa peningkatan sampah identik terjadi saat pelaksanaan hari besar keagamaan. Namun khusus saat malam pengerupukan peningkatan sampah sisa ogoh-ogoh diprediksi mencapai 15 ton. “Peningkatan volume sampah pasca pengerupukan diprediksi mencapai 15 ton dari kondisi normal yang didominasi sampah ogoh-ogoh serta sisia upacara,” ujar Wisada.
Lebih lanjut dikatakan, guna mengatasi peningkatan volume sampah tersebut pihaknya telah menyiagakan sedikitnya 1.100 tenaga lapangan serta 73 armda yang terdiri dari truk angkutan, moci, pasukan, byson serta Hiluk yang tersebar di empat kecamatan yakni Denpasar Timur, Denpasar Barat, Denpasar Utara dan Denpasar Selatan. “Kami tidak hanya menangani sampah ogoh-ogoh saja, melainkan sampah rutin dari masyarakat yang juga mengalami peningkatan harus ditangani dengan maksimal agar pelaksanaan Catur Bratha Penyepian dapat terlaksana dengan khidmat,” jelas Wisada.
Wisada juga menegaskan bahwa seluruh personel DLHK Kota Denpasar terus memaksimalkan pengangkutan serta pembersihan saat malam pengerupukan. Sehingga, memasuki Hari Suci Nyepi sampah telah bersih.
Pihaknya juga menghimbau bagi seluruh sekehe teruna dan masyarakat utamanya yang mengarak ogoh-ogoh hingga Kawasan Catur Muka untuk tidak membuang sampah ogoh-ogoh di jalanan, melainkan langsung dipralina atau dibakar di setra masing-masing desa sesuai dengan sastra agama dan Surat Edaran (SE) Walikota Denpasar. “Sesuai dengan sastra agama, ogoh-ogoh wajib dibakar, jadi seusai mengarak hendaknya jangan diletakkan begitu saja di pinggir jalan, melainkan langsung dilaksanakan dibakar di tanah kuburan (setra) masing-masing desa pakraman,” jelas Wisada.
Wisada juga turut berharap kepada semua pihak untuk ikut menjaga kebersihan serta kondusifitas rangkaian Hari Suci Nyepi caka 1941 ini. Sehingga pelaksanaan Catur Bratha Penyepian dapat dimaknai dengan khusyuk sebagai ajang mulat sarira. “Mari kita jaga bersama kebersihan serta kondusifitas selama rangkaian Nyepi Caka 1941 tahun 2019 ini,” tutup Wisada. (Axele Dhae)


