Atambua, Theeast.co.id – Persatuan Jurnalis Belu Perbatasan Negara Republik Indonesia dengan Negara Republik Demokratik Timor Leste (Pena Batas RI-RDTL) menyoroti beberapa pernyataan Camat Raihat, Raimundus Bele Bau dan meminta Bupati Belu, Willybrodus Lay mencopot jabatan Camat Raihat tersebut dalam kasus dugaan penganiayaan oleh tiga oknum Satgas Pamtas RI-RDTL Sektor Timur Yonif Raider 408/Suhbrastha Pos Turiskain terhadap seorang pengidap gangguan jiwa yang juga merupakan pensiunan Tentara Nasional Indonesia, Orlando Mau Soco, Kamis (11/04/2019). Pernyataan tersebut diungkapkan secara resmi oleh Ketua Pena Batas RI-RDTL, Fredrikus Royanto Bau, SE, Senin (15/04/2019).
Yang ingin kami soroti di sini adalah terkait beberapa pernyataan Camat Raihat dalam kasus penganiayaan ini.
Kami sangat menyayangkan pernyataan Raimundus Bele Bau selaku Camat Raihat, Kabupaten Belu seperti diberitakan beberapa media online maupun media televisi.
Dalam pemberitaan tersebut, Camat Raimundus mengatakan kasus penganiayaan pensiunan TNI penderita gangguan jiwa sebagai berita ecek-ecek.
Kami ingin pertanyakan maksud berita ecek-ecek itu yang seperti apa?
Jika yang dimaksud camat bahwa berita yang tidak berguna atau berita yang tak berarti maka saya ingin menyampaikan bahwa orang ini tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk menjabat sebagai Camat. “Pernyataan ini sangat melecehkan profesi wartawan dan masuk kategori menghalang-halangi kerja wartawan di wilayah kecamatannya.”
Oknum Camat ini gagal paham namun sangat sok tahu akan pekerjaan wartawan, padahal dirinya tak paham apapun.
Sangat memalukan sekali ketika oknum Camat ini mengaku pernah menjadi wartawan sehingga tahu berita yang layak publikasi dan menganggap berita penganiayaan ini sebagai hal lumrah yang tak perlu diberitakan.
Bagi kami, oknum Camat Raimundus Bele Bau ini sedang mempertontonkan kebodohan dengan membuat pernyataan-pernyataan ini. “Kami meminta Bupati Belu untuk segera mencopot oknum pejabat bermental seperti ini,” tegas pria yang biasa disapa Edy Bau Mandeu ini.
Berikutnya, Fredrikus juga menyayangkan pandangan oknum Camat yang mengatakan korban penganiayaan terhadap pensiunan TNI tidak bisa disalahkan dengan menyebutnya sebagai orang gila.
Kami sungguh heran, masih ada pejabat yang tidak memiliki kepekaan sosial terhadap warganya sendiri dan bahkan dirinya sendiri menyuruh pegawainya memukuli dan mengusir korban. Sungguh di luar nalar jika Bupati Belu masih memelihara pejabat tanpa rasa kemanusiaan seperti ini.
Kami minta agar oknum Camat segera meminta maaf kepada warga dan keluarga korban atas pernyataan ini. Termasuk pernyataan yang melecehkan profesi ini. Jika tidak maka akan kami bawa ke ranah hukum.
Sebelumnya dalam pemberitaan media ini, Camat Raihat, Raimundus Bele Bau S. IP menyebut media menjual berita ecek-ecek saat beritakan anggota Satgas RI-RDTL Sektor Timur di Batas Turiskain menganiaya pensiunan Tentara Nasional Indonesia. Hal ini diungkapkan di pertemuan terbuka antara Pihak Kodim 1605/Belu, Satgas Pamtas RI-RDTL Sektor Timur Yonif Raider 408/SBH, Pejabat Pemerintah Setempat, Keluarga Korban Orlando Mau Soco dan masyarakat di sekitar area tersebut, Jumat (12/04/2019).
Dalam sambutannya itu, Camat Raihat Raimundus melarang keras masyarakatnya untuk membesar-besarkan masalah yang terjadi di wilayah Raihat, Perbatasan Negara RI-RDTL ke ranah luar termasuk ke media sosial sehingga tidak membias. “Kalau ada kejadian begini, jangan langsung kita kirim kesana. Saya juga malu. Saya tadi pagi dengar ini kejadian su sampai surat kabar lagi.”
“Berita apa ini. Ini namanya berita kecil. Jangan berita kecil dijadikan besar karena kita ini ada di Batas Negara. Satu kali muat itu seluruh dunia tahu,” tambah Raimundus yang sudah setahun menjabat sebagai Camat Raihat, Kabupaten Belu.
Camat Raimundus menyatakan bahwa dirinya adalah orang kerja sehingga sangat berhati-hati dengan kejadian di wilayahnya yang merupakan salah satu wilayah yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga Timor Leste. “Oleh karena itu masyarakat dukung TNI supaya kita manunggal. Hanya masalah sepele kamu lapor-lapor semua,” katanya.
Bahkan Raimundus Bele Bau menyatakan bahwa dirinya dahulu orang penerangan dan juga mantan wartawan sebagai penulis berita sehingga perlu dikaji secara baik berita seperti apa yang perlu dimuat. Bukannya memuat berita ecek-ecek tapi berita pembangunan. “Saya orang penerangan. Mantan wartawan juga. Kami penulis berita. Berita itu seperti apa dulu. Jadi jangan kita jual berita yang ecek-ecek. Berita pembangunan tidak pernah ada orang muat. Kalau berita seperti ini cepat sekali,” pungkas Bele Bau.
Camat Raimundus juga mengetahui bahwa ada orang-orang di Kecamatan Raihat yang memiliki tangan jahil untuk menggunakan HP meng-upload hal yang tidak penting. Dirinya bahkan sudah mendata orang-orang tersebut untuk diberikan pemberitaan. “Saya tahu teman-teman disini ada yang pegang HP. Ada disini orang-orang yang tangannya jahil.
Yang tidak penting dia kirim. Saya sudah data ada beberapa orang, nanti saya panggil beri pembinaan dulu. Jangan hanya berita seperti ini, berita pembangunan juga kirim. Berita yang ecek-ecek dikirim semua,” tegasnya.
Camat Bele Bau juga berharap agar masyarakatnya tidak boleh memuat hal-hal yang menurutnya kecil ke ranah luar termasuk Facebook yang saat ini dimuat, seluruh dunia akan tahu.
Pemberitaan lainnya menyebutkan pimpinan wilayah Kecamatan Raihat Kabupaten Belu, Raimundus Bele Bau juga mempersalahkan keluarga korban terkait kasus dugaan penganiayaan oleh tiga oknum Satgas Pamtas Pos Turiskain terhadap seorang pengidap gangguan jiwa yang juga merupakan pensiunan Tentara Nasional Indonesia.
Dalam sambutan Camat Raimundus, terlihat begitu menyudutkan masyarakat baik masyarakat umum maupun keluarga korban dugaan penganiayaan dari oknum Satgas Pamtas RI-RDTL Pos Turiskain. Dirinya pun tak sungkan-sungkan menyebut pemberitaan dari Media itu berita ecek-ecek yang tak perlu dibesar-besarkan karena banyak program pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah.
Anehnya, dalam pertemuan terbuka itu, Camat Raihat Raimundus Bele Bau yanmg seharusnya menjadi “penengah”, malah terkesan membela Tentara Satgas Pamtas RI-RDTL yang telah melakukan dugaan penganiayaan terhadap pengidap gangguan jiwa yang juga merupakan pensiunan TNI, Orlando Mau Soco.
Camat Raimundus yang sudah bertugas setahun di Kecamatan Raihat ini bahkan balik menyalahkan keluarga korban yang tidak menjaga aktivitas Orlando Mau Soco. Padahal berdasarkan informasi yang dihimpun, Orlando Mau Soco sudah terbiasa melakukan aksi pencurian terlebih di Pos Satgas Pamtas RI-RDTL Pos Turiskain. Masyarakat sekitar dan Satgas yang pernah bertugas di Pos Turiskain pun biasanya kalau tahu betul bahwa Orlando yang mengambil barang, mereka akan datang menemui keluarganya untuk menanyakan barang tersebut dan terkadang berbicara baik-baik dengan Orlando untuk mengembalikan barang mereka. Hal ini dikarenakan kebiasaan Orlando bila mengambil barang, dirinya akan membawa ke rumahnya di RT/RW 002/002 Desa Maumutin, Kecamatan Raihat ataupun menyembunyikan di tempat tertentu dan bisa juga menggunakannya.
“Kita jangan kambing hitam orang lain karena hal sepele. Saya tidak membela TNI karena mereka bagian daripada kita. Tapi kehadiran mereka disini, saya bisa terbantu untuk pekerjaan umum. Karena itu masyarakat tolong jaga keluarganya. Hee Pak guru (Kakak Pertama dari Istri korban Orlando) jaga kita pun keluarga ini,” ungkap Camat Bele Bau sambil menoleh ke arah Orlando Mau Soco.
Camat Raimundus juga mengakui bahwa dirinya sering kali menyuruh pegawainya untuk memukul dan mengusir pergi Orlando Mau Soco karena baginya dia itu orang gila. “Pak Orlando (korban) biasa datang di rumah juga. Saya kasih makan. Tapi kadang saya suruh pegawai yang berani, pukul dia. Kadang anak kecil juga lempar dengan batu ke dia. Yaa namanya orang gila kan. Jadi kita mau salahkan siapa,” ucapnya.
Camat Bele Bau juga tidak ingin masyarakat menyebarkan kejadian negatif ke ranah luar baik itu melalui media sosial maupun SMS menggunakan HP. Akan tetapi Camat Bele Bau juga meminta supaya masyarakat merekam kejadian-kejadian seperti ini supaya bisa ditunjukkan bukti yang kuat. “Saya tidak mau muat-muat di surat kabar atau dimana pun, juga pakai SMS. Saya tidak mau karena nanti saya yang kena juga,” katanya.
Hal ini juga dikarenakan dirinya sendiri sebagai Camat sama sekali tidak pernah meminta uang terhadap masyarakat saat melakukan tanda tangan. “Kalau kejadian begini heboh semua. Saya sudah satu tahun, saya tahu mental orang Raihat. Dan saya tidak pernah minta sesuatu dari rakyat. Saya tanda tangan apa-apa saya tidak minta.
Oleh karena itu mari kita saling dukung,” tutur Raimundus.
Camat Bele Bau menekankan bahwa dirinya bersama TNI (Satgas Pamtas RI-RDTL Sektor Timur Pos Turiskain) itu sibuk dengan kerja. Bahkan kehadiran Satgas di Kecamatan Raihat membuat dirinya sangat senang. “Kami mohon maaf mungkin kami masyarakat lalai. TNI disini kerjasama nya baik sekali. Saya kali kedua merasa kehilangan Danki yang bagus. Saya takut jangan sampai ada yang aniaya dan kita kambing hitam kan yang lain. Jangan sampai TNI dikorbankan, masyarakat pun demikian,” tuturnya. (Ronny)

