Denpasar, Theeast.co.id – Kasubdit Restorasi Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Sapta Putra Ginting, Selasa,(18/2) di Kuta, Kabupaten Badung menyampaikan, potensi pencemaran laut yang berdampak pada mikroplastik pada ikan di Indonesia semakin hari semakin tinggi. Hal ini terutama terjadi di ruang laut kota-kota besar di Indonesia yang banyak memproduksi sampah plastik dan membuangnya ke laut. Sekalipun secara keseluruhan, kondisi ini masih di bawah ambang batas normar, yang artinya ikan masih bisa dikonsumsi namun bila dibiarkan dan tidak ada gerakan masif maka ikan yang mengandung Mikroplastik akan semakin banyak di wilayah perairan Indonesia. Ikan yang sudah mengandung Mikroplastik dan kemudian dikonsumsi secara terus menerus maka pada akhirnya dia akan menimbulkan kanker.
Sampai saat ini baru beberapa daerah yang lautnya telah dilakukan pemetaan. Pemetaan dilakukan guna mengetahui seberapa besar ikan-ikan di laut di beberapa dearah tersebut ikan lautnya telah mengandung mikro plastik. Ada pun beberapa daerah yang lautnya telah dilakukan pemetaan, seperti di daerah Makasar,Jakarta, di Kalimantan dan satu lagi di Selat Sumatera. “Sampelnya, dari 66 ikan yang diteliti di empat titik yakni di Makasar, Teluk Jakarta, Pulau Maratua Kalimantan, dan Selat Sumatera, ada 20 ikan yang sudah mengandung Mikroplastik. Atau baru sepertiganya saja. Jumlahnya masih kecil tapi kalau dibiarkan bisa berbahaya,” ujarnya.
Potensi Mikroplastik pada ikan ini memang lebih banyak pada perairan dekat kota besar di Indonesia. Penelitian baru dilakukan di di empat titik saja. Sementara masih banyak yang belum diteliti seperti di dekat Kota Surabaya, Denpasar Bali, dan sebagainya. Wilayah ini disinyalir memproduksi sampah plastik yang bisa saja dibuang baik sengaja atau tidak sengaja ke laut dan akhirnya disantap ikan. Ia optimis memang masih ada banyak wilayah laut di Indonesia yang bersih. Sebut saja seperti di wilayah perairan NTT, Maluku, Papua, dan beberapa wilayah timur Indonesia. Pemetaan untuk dilakukan penelitian baru dilakukan di beberapa wilayah saja. Pemerintah berencana akan melakukan penelitian di banyak tempat untuk menunjukkan apakah produksi ikan di Indonesia masih bersih atau tidak. Meski telah ada ikan laut terkontaminasi mikro plastik tetapi, tetap masih dibatas ambang. Dan jika dikomposisikan dengan jumlah ikan di seluruh Indonesia maka ikan yang mengandung mikro plastik bisa dikatakan belum banyak jumlahnya. Karena, melihat jumlah dari kota-kota besar di Indonesia yang juga jumlahnya belum begitu banyak.
Kondisi tersebut bisa dipahami sebab saat ini Indonesia masih menjadi produksi sampah laut terbesar nomor dua di dunia yakni sebanyak 1,3 juta ton sampah plastik di laut. Ada beberapa upaya yang dilakukan pemerintah dalam mengurangi sampah plastik yakni mengurangi 30% dari 1,3 juta ton sampah tahun 2025. “Beberapa upaya yang kita lakukan mulai dari edukasi atau penyadaran masyarakat, pembangunan dan pengolahan sampah di darat itu yang ditangani Kementerian Lingkungan Hidup dan PU, ada ditangani KKP untuk sampah di laut. Misalnya jaring ikan para nelayan, ada penegakan hukum juga. Penegakan hukum dilakukan terutama bagi yang masih ada membuang sampah sembarangan serta upaya selanjutnya yaitu terkait keuangan, untuk membuat aturan cukai plastik. “Cukai plastik jangan sampai uangnya digunakan untuk membayar gaji tetapi untuk mengolah sampah plastik di daerah,” ujarnya. (Axele Dhae)


