ATAMBUA, Theeast.co.id – Akibat terserang virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika, banyak ternak babi di Kabupaten Belu wilayah Perbatasan Negara RI-RDTL mati secara mendadak.
Karena itu tak bisa di pungkiri, banyaknya ternak babi yang mati tersebut memengaruhi perekonomian para peternak babi di Belu.
Terhadap kondisi ini, Pemerintah Kabupaten Belu dibawah kepemimpinan Bupati Willybrodus Lay dan Wakil Bupati J.T Ose Luan sudah memikirkan langka kongkret yang akan diambil Pemerintah untuk membantu memulihkan perekonomian peternak babi.
“Pemerintah sudah dalam pembicaraan bagimana petani yang sudah kehilangan babi bisa mendapatkan kembali bibit. Nanti dibagikan, tapi belum sekarang”, ujar Wakil Bupati Belu, J.T Ose Luan kepada wartawan saat ditemui, Rabu (04/03/2020).
Menurut Ose Luan, kematian babi akibat terserang virus menular tentu menjadi perhatian pemerintah ke depannya. Pemerintah berupaya untuk memberikan bibit babi kepada masyarakat untuk dipelihara.
Sebelumnya, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Belu, Nikolaus Umbu Birri kepada awak media, Senin (24/02/2020) mengatakan, ternak babi memiliki nilai ekonomis tinggi. Ada warga yang bersandar pada ternak babi sebagai sumber pendapatan rumah tangga. Setelah terserang virus, tentu saja masyarakat mengalami kerugian secara ekonomis.
Untuk membantu memulihkan ekonomi masyarakat, pemerintah berencana agar di tahun mendatang bisa dilakukan pengadaan ternak babi untuk dibagikan kepada masyarakat.
Tercatat 570 ternak babi mati akibat terserang virus menular sejak Oktober 2019 sampai keadaan Februari 2020.
Kematian babi terbanyak terjadi pada bulan Januari dan awal Februari tahun 2020.
Meski demikian, jumlah ternak babi yang masih sehat saat ini jauh lebih banyak ketimbang babi yang mati. Data Dinas Peternakan Kabupaten Belu menunjukan, populasi babi di Kabupaten Belu keadaan 31 Desember 2019 sebanyak 61.802 ekor. (Ronny).


