ATAMBUA, Theeast.co.id – Dari populasi ternak Babi sebanyak 56.000 ekor, hingga saat ini terdapat 753 ekor babi yang mati mendadak di Kabupaten Belu wilayah Perbatasan Negara RI-RDTL.
Babi – babi ini mati secara mendadak akibat terinfeksi virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika.
Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Belu, Nikolaus Umbu Birri saat dihubungi awak media ini melalui telepon seluler, Sabtu (07/03/2020).
“Sejak ternak babi mati mendadak pada Bulan Januari, sampai dengan saat ini setelah tim reaksi cepat dari dinas kami turun ke lapangan dan mendata terdapat 753 babi yang mati,” tandasnya.
Dijelaskan bahwa pihaknya pun sudah menjalankan perintah Bupati Belu untuk tidak saja mendata babi yang mati tetapi melakukan pemisahan antara ternak babi yang sudah terinfeksi virus ASF dengan yang masih sehat. Hal tersebut sebagai bentuk upaya penyelamatan terhadap babi yang masih sehat di Kabupaten.
“Populasi babi di kabupaten Belu seluruhnya ada 56.000 ekor jadi masih banyak yang masih sehat. Itu yang di fokus sekarang,” imbuh Umbu Birri.
Disebutkan untuk mencegah tersebarnya virus ASF, Bupati Belu telah mengeluarkan pernyataan untuk ternak babi di Belu tidak boleh dibawa keluar daerah begitu pun sebaliknya. Bahkan untuk masyarakat Kabupaten Belu sendiri dilarang untuk ternak babi di satu Desa (tempat) tidak boleh dibawah ke Desa lain.
Larangan ini mengingat virus ASF tidak menyebar lewat udara atau angin tapi dia melekat di pembawanya yaitu Orang, Bahan atau Hewan (OBH).
Kadis Peternakan Belu ini juga kembali menghimbau agar babi yang sakit hingga mati harus dikuburkan karena jika dimakan ataupun dibawa ke tempat lain maka akan tersebar ke babi yang masih sehat.
“Memang virus ini tidak menyerang manusia ataupun hewan lain tetapi manusia, bahan dan hewan lain itu bisa jadi perantara untuk tersebarnya virus ASF ke babi yang masih sehat,” pinta Kadis Umbu. (Ronny).


