DENPASAR, Theeast.co.id – Pemerintah Provinsi Bali melalui Satgas Penanggulangan Korona menggelar pertemuan perdana di Bali di Wiswa Sabha Provinsi Bali, Jumat (13/3). Pertemuan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Satgas Penanggulangan Korona Bali yang juga adalah Sekda Provinsi Bali Dewa Made Indra.
“Hari ini saya selaku Ketua Satgas mengundang seluruh anggota Satgas baik dari unsur Polri, Polda Bali, TNI dari Kodam IX Udayana, Korem Wirasatya, unsur-unsur pemerintah daerah, unsur-unsur instansi vertikal, unsur-unsur organisasi, unsur industri pariwisata, unsur kesehatan, unsur kabupaten dan kota dari seluruh Bali. Dalam pertemuan kami mencapai beberapa kesepakatan penting terkait dengan penanggulangan virus Korona,” ujarnya.
Beberapa kesepakatan yang dimaksud adalah kesepakatan tentang agenda kerja penanggulangan korona. Satgas ini memiliki 5 agenda kerja sebagai panduan. Agenda ini akan dielaborasi dalam berbagai tindakan dan kegiatan sesuai dengan bidang tugas masing-masing. Pertama, peningkatan kapasitas penanganan penyakit di fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta. Bahasa sederhananya adalah Rumah Sakit. Perlu ada peningkatan kapasitas untuk menangani penyakit. Peningkatan kapasitas maksudnya adalah mengupayakan rumah sakit dengan kapasitas kesehatan yang memadai baik dari sisi tenaga medis, sarana hingga alat pelindung diri (APD) yang ada. Para tenaga medisnya harus berkompeten di bidangnya. Jumlah kamar juga harus memadai, ruang isolasi harus cukup. Kompetensi para dokter juga harus disiapkan untuk menangani orang yang dalam pengawasan.
Kedua adalah memastikan ketersediaan sarana sarana pencegahan penularan penyakit antara lain masker, cairan desinfektan, hand sanitizer dan lain-lain. Ini adalah sarana yang bisa mencegah dan mengendalikan penularan. Ini juga diupayakan supaya tersedia di pasar. Demikian masyarakat bisa mendapatkannya dengan mudah berbagai sarana tersebut. Tujuannya adalah kalau ini tersedia dalam jumlah yang cukup maka masyarakat tidak perlu panik, tidak perlu membeli secara berlebihan, mengurangi kepanikan. Agenda yang ketiga adalah peningkatan kapasitas deteksi dini dan pencegahan di pintu-pintu masuk ke Bali.
“Agenda ini sangat penting karena kita tahu virus ini datangnya dari luar. Kasus Korona ini tidak ada di Bali tapi datangnya dari luar, bukan genuine atau asli tetapi datang dari luar Oleh karena itu maka kita harus perkuat filter kita di pintu-pintu masuk. Dimana mana pintu masuk adalah di bandara dan pelabuhan,” ujarnya. Jadi alat-alatnya harus ditambah, personilnya harus ditambah sesuai kebutuhan, kualitas alatnya harus disesuaikan dengan standar SOP nya.
Keempat, meningkatkan upaya-upaya pengendalian penyebaran virus ini melalui pembatasan kegiatan-kegiatan yang melibatkan orang banyak. “Mengapa ini dilakukan, karena sudah tahu, sudah membaca, mendengar bahwa transmisi virus ini melalui droplet cairan yang kita keluarkan pada saat batuk, pada saat bersin, pada saat itu transmisinya lewat sana. Kalau ada orang banyak dalam jarak yang rapat kemudian ia bersedia batuk maka potensi menyebarkan sangat tinggi,” ujarnya.
Oleh karena itu untuk pencegahannya masyarakat diminta untuk tidak ikut kegiatan-kegiatan yang melibatkan orang banyak. Kalau pun kegiatan itu harus dilakukan maka bisa menjaga jarak agar tidak terkena dampaknya. Kelima, melakukan upaya edukasi, sosialisasi, tentang hidup sehat, hidup bersih, cuci tangan dan sebagainya.(axelle dae).


