Wednesday, February 4, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Merasa Tak Adil, Seorang Warga Aitoun di Perbatasan RI-RDTL Mengadu Pembagian BLT Dana Desa

ATAMBUA, Theeast.co.id – Seorang warga mengadu kepada awak media ini terkait dugaan adanya kejanggalan terhadap penerima BLT Dana Desa akibat pandemi Covid-19 di Desa Aitoun, Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu wilayah Perbatasan Negara RI-RDTL.

Kejanggalan dimaksud karena status dirinya (SL) sama dengan setidaknya ada 7 nama penerima BLT DD diantaranya MFM, MB, SL, OB, AK, RK dan TL yang memiliki pasangan suami maupun istri dari luar Desa Aitoun.

Wanita yang sejak lahir hingga hampir mencapai umur 30 tahun ini merupakan warga asli Desa Aitoun juga mengeluhkan kejanggalan lainnya dimana ada nama RB yang berdomisili di Baukoek, Kelurahan Fatubenao, Kecamatan Kota Atambua tetapi mendapatkan BLT DD di Desa Aitoun.

Bahkan dirinya menduga namanya digantikan dengan salah satu aparat desa Aitoun yang berdasarkan informasi pada saat penetapan nama aparat Desa tersebut tidak dicantumkan.

“Sejak awal pendataan itu nama saya juga ada, sampai penetapan dengan BPD pun nama saya juga diusulkan. Tapi pas ditempelkan, nama saya sudah tidak ada. Informasi yang saya dapat nama saya diduga diganti oleh aparat desa yang namanya tidak ada dalam usulan,” pungkas warga Desa Aitoun berinisial SL kepada awak media ini, Senin (01/06/2020).

Dirinya pun menilai bahwa ada “permainan” terhadap nama-nama penerima BLT Dana Desa di Aitoun, Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu.

SL mengakui bahwa memang pasangannya dari negara Timor Leste namun setiap kali proses pencoblosan mulai dari Presiden hingga tingkat Kepala Desa pun dirinya terus berpartisipasi.

“Kalau saya punya pasangan dari Timor Leste tapi kan saya masih tinggal di Aitoun. Saya ke Timor Leste juga masih dengan visa kunjungan. Tiap kali urusan keluarga dan Pemerintahan bahkan pencoblosan pasti saya ada,” tuturnya.

Warga Desa Aitoun berinisial SL tersebut tidak mempersoalkan jumlah uang yang diterima tetapi meminta keadilan kepada warga asli Desa Aitoun.

“Saya merasa tidak puas. Saya tidak persoalkan uang 600 ribunya tetapi saya melihat tidak ada keadilan. Karena dalam tanda kutip ada yang bermain disini. Sepertinya ada yang tidak beres,” tegasnya.

Dirinya berharap agar Pemerintah bisa mengawasi dan memperhatikan dengan baik pembagian bantuan di masyarakat sehingga bisa tepat sasaran dan memiliki nilai keadilan.

Sementara itu Kepala Desa Aitoun, Marianus Luan Berek saat dikonfirmasi, (02/06) via telepon dan pesan WhatsApp hanya membacanya. (Ronny).

Popular Articles