BALI – Produk PT. Rekadaya Multi Adiprima (RMA) pimpinan Farri Aditya berbahan baku serat alam dari limbah industri dan sabut kelapa mulai merambah perhotelan di Bali. Produk ini diprediksi akan diminati kalangan industri pariwisata karena mengusung tema green hotel. Farry berkomitmen semua produk yang dihasilkannya selalu bekerjasama dengan akademisi melalu riset yang matang hingga menghasilkan produk yang berkualitas.
Produk hasil karya PT. RMA ini berupa matras utuk tempat tidur, pengendali bising dan sejumlah perabotan hotel lainnya pada Selasa, 10 April lalu diserahterimakan dan digunakan oleh STP Nusa Dua Bali. Farri secara simbolis menyerahkan produk itu dan terus berkomitmen untuk membangun kerjasama dengan STP Nusa Dua Bali. Bahkan dalam sesi kuliah umum pada Selasa lalu itu, Farry berharap agar makin banyak mahasiswa lulusan STP Bali yang kelak menjadi entrepreneurship dan mengembangkan ide-ide kreatifnya. Produk PT.RMA yang diserahkan Farry ini langsung diterima oleh Ketua STP Bali, Dewa Gde Ngurah Byomantara.
Salah satu target pasar yang dibidik PT. RMA adalah perhotelan, hal ini sejalan dengan kebijakan Pemerintah c/q Kementerian Pariwisata dalam mendorong pengembangan Green Hotel. Produk ramah lingkungan seperti matras, meja, pengendali bising, sandal dll yang berbahan baku serat alam sabut kelapa
Menurut Farri, dalam upaya untuk mendapatkan produk berkualitas dan ramah lingkungan, PT. RMA melakukan kerjasama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Industri-Kementerian Perindustrian serta Balai-balai Industri di lingkungan Kementerian Perindustrian, termasuk dengan beberapa Perguruan Tinggi Negeri yang memiliki kapasitas dan sarana pengujian yang cukup lengkap dan modern.
Demikian pula untuk mendapatkan standar tentang sarana perhotelan yang ramah lingkungan, Farri Aditya, yang juga owner PT. RMA telah melakukan pembicaraan dengan Dewa Gde Ngurah Byomantara, Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bali, disela acara Spring Meeting AM IMF-World Bank 2018 beberapa waktu lalu. Harapan dan keinginan Farri Aditya yang juga alumnus STP-Bandung ini ternyata memperoleh respon positif bahkan Byomantara merasa bangga sekaligus kagum atas usaha yang ditekuni Farri Aditya yang mampu memperluas cakrawala atas usaha di bidang pariwisata dan keterkaitannya. Byomantara berjanji akan membantu sesuai fungsi dan tugasnya, serta kapasitas yang dimiliki STP-Bali.
Dalam mengembangkan bisnisnya, dengan berpedoman pada motto “mengurangi polusi dengan limbah serta memanfaatkan sumber daya alam”, Farri Aditya menggunakan rujukan Triple Helix yakni mengkomunikasikan upaya bisnisnya kepada Pemerintah antara lain Kementerian Perindustrian. Ternyata upaya ini mendapat respon sangat positif. Selanjutnya dengan Akademisi, melakukan kerjasama dengan UNS-Solo, ITB-Bandung, serta STP-Bandung dan STP-Bali. Sebagai anggota PIKKO Indonesia, terkait dengan aspek bisnis yang digeluti terus dilakukan secara sinergi, termasuk dengan Pihak-pihak yang selama ini telah memberikan kepercayaan kepada usahanya dibidang komponen otomotif yang salah satunya adalah ASTRA Mitra Ventura.
Sementara itu agar lebih nyaman, nantinya gedung dilingkungan STP-Bali akan dipasang Produk Pengendali Bising ini, sekaligus sebagai catatan atas buah karya Alumnus STP demikian kata Drs. Dewa Gde Ngurah Byomantara, M.Ed yang sejak 2013 memimpin Sekolah Tinggi Pariwisata-Bali yang bernaung dibawah Kementerian Pariwisata, sekaligus sebagai center of excellence bidang pariwisata yang tertua di Indonesia. Dan Farri melalui bendera PT. RMA telah mewujudkannya dengan memasang sejumlah produk pengendali bising di STP Nusa Dua. Byomantara sendiri memberikan apresiasi dan berharap makin banyak anak muda terutama dari kalangan mahasiswa STP mengikuti jejak Farry menjadi entreprenurship.
Farri Aditya yang telah 9 tahun berbisnis komponen otomotif, berharap agar dalam kaitan dengan research, branding, promotion hendaknya Pemerintah senantiasa hadir dengan misalnya memberikan pendampingan sehingga pelaku usaha khususnya yang Industri Kecil bisa berkembang mengikuti tren, ditengah maraknya liberalisasi yang terus bergulir. “Jangan, IKM Indonesia hanya jadi Penonton,” tutur Farri Aditya (*)


