Saturday, April 11, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Beberapa Wilayah Belu Terdampak Bencana Alam, Pemda Belu Lakukan Langkah Cepat Penanganannya

ATAMBUA, The East Indonesia – Beberapa wilayah di kabupaten Belu, daerah Perbatasan Negara RI-RDTL juga sangat merasakan dampak bencana alam yang ditimbulkan oleh hujan deras dan banjir yang meluap pada beberapa hari lalu.

Pada wilayah-wilayah tersebut ada yang mengalami longsor, kerusakan lahan akibat luapan air, jembatan retak dan nyaris putus serta luapan banjir di sungai sekitar yang merusaki rumah warga.

Menanggapi beberapa bencana tersebut, Pemerintah Daerah Belu pun mengambil beberapa langkah cepat untuk menanganinya.

Hal ini diungkapkan Penjabat Bupati Belu, Drs. Zakarias Moruk, MM saat dikonfirmasi awak media The East Indonesia, Kamis (08/04/2021).

“Bencana alam di NTT khususnya Kabupaten Belu, ya puji Tuhan kita masih berada dalam zona tidak terlalu berat,” pungkasnya.

Dijelaskan bahwa ada beberapa lokasi di Kabupaten Belu yang mengalami bencana yang cukup parah.

Hingga saat ini di Motamaro, Desa Tasain, Kecamatan Raimanuk terdapat 167 KK yang harus dievakuasi ke gereja GMIT dan Bethel Matamaro lantaran rumah mereka diterpa banjir bandang.

“Di Tasain itu ada 167 KK yang terdampak dan hasil koordinasi dengan Forkompinda, sudah ditangani dengan baik,” ujar Zaka Moruk.

Pria yang saat ini juga menjabat sebagai Kepala Badan Keuangan Provinsi NTT ini menerangkan bahwa saat ini dirinya sebagai penjabat Bupati telah meminta laporan dari PUPR Belu terhadap jumlah kerusakan rumah warga di Tasain sehingga dapat dipilah mana yang akan menggunakan anggaran Provinsi dan mana yang bisa ditangani dengan APBD Belu.

“Saya ada minta laporan dari Dinas PUPR untuk berapa rumah yang harus rehab dan berapa yang akan bangun dari awal. Nanti kita pilah untuk minta juga bantuan dari Provinsi,” tandas Zaka Moruk.

Disebutkan daerah kedua ada di lokasi irigasi Maubusa, Kecamatan Raihat yang mana luapan air nya menghancurkan puluhan hektar sawah yang siap panen.

“Hal ini segera diatasi karena itu kewenangan pihak Provinsi. Kita sudah minta pak Kadis PUPR Provinsi NTT dan sudah turun. Kemarin Pak Gubernur datang juga saya sudah lapor dan saat ini timnya berada di Maubusa untuk melakukan survei,” imbuhnya.

Penjabat Bupati Belu juga telah berkoordinasi dengan konsulat Timor Leste dikarenakan akan ada alat berat yang nantinya dalam bekerja akan melewati sungai yang merupakan wilayah Negara Timor Leste.

“Ini penting untuk segera diambil langkah. Kalau tidak, maka pada musim tanam kedua di daerah tersebut tidak akan terjadi karena airnya tidak cukup,” pintanya.

Penjabat Bupati Belu ini juga menyampaikan bahwa lokasi berikut yang mengalami dampak bencana alam tersebut adalah wilayah Ainiba, Desa Fatuketi, Kecamatan Kakuluk Mesak yang juga terendam air dengan disebabkan karena pintu air di Bendungan Rotiklot yang terpaksa harus dibuka

“Saat itu kita terpaksa harus membuka pintu air di bendungan Rotiklot karena sudah mencapai 73 meter yang mana batas tampungannya adalah 76 Meter. Kalau tidak buka maka bisa jebol dan resikonya pasti akan sangat besar,” jelasnya.

Zaka Moruk juga menguraikan lokasi lain yang mengalami bencana yaitu kerusakan pada jalan Sabuk Merah Perbatasan Negara RI-RDTL.

“Yang lain jalan Sabuk Merah Perbatasan. Saya sudah minta untuk kadis PUPR Belu menanganinya sementara dengan alat yang ada sambil menunggu upaya dari balai jalan di Provinsi melakukan penanganan,” tuturnya.

Penjabat Bupati Belu pun menegaskan pihaknya sudah menyatakan bahwa Kabupaten Belu juga termasuk dalam wilayah tanggal darurat sehingga selama 14 hari kedepan akan ditangani secara protokol tanggap darurat.

“Kami juga sudah menyatakan bahwa Belu juga masuk dalam tanggap darurat sehingga selama 14 hari kedepan akan kita tangani secara protokol tanggap darurat baik itu makan minum kesehatan dan juga memperbaiki kebatinan,” urai Zaka Moruk. (Ronny)

Popular Articles