Saturday, March 21, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Pemerintah Harus Beli Alutsista Baru Bukan Bekas

BANDUNG, The East Indonesia –  Pengadaan alat utama sistem persenjataan utama atau Alutsista harus baru dan tidak membeli dalam kondisi bekas. Alutsista yang hendak dibeli juga harus disesuaikan dengan kebutuhan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Harapan tersebut disampaikan Ketua DPR RI Puan Maharani di depan 127 Perwira Siswa yang mengikuti kegiatan ceramah pembekalan di Gedung Widya Mandala 1, kompleks Sekolah Staf Komando Angkatan Udara, Lembang Bandung Barat pada Senin, 28 Juni 2021.

Pada acara yang dihadiri oleh Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Fadjar Prasetyo dan Komandan Sesko AU Samsu Rizal itu, Puan Maharani menegaskan, pembelian Alutsista untuk menyongsong Indonesia emas pada 2045 nanti harus betul-betul sesuai dengan kondisi wilayah dan geopolitik yang dihadapi Indonesia.

Menurut Puan, pengadaan Alutsista yang mutakhir dan baru ini pernah dibicarakan secara informal dengan para pemangku kepentingan di sektor pertahanan dan keamanan. Mulai dari Presiden, Panglima TNI, KSAU, KASAL, KSAD, hingga Menteri Pertahanan.

“Saya bicara melalui pertemuan informal, tidak dalam rapat. Kami mengharapkan komitmen dari seluruh stakeholder,” papar perempuan pertama Indonesia yang menjadi Ketua DPR itu.

Dalam ceramahnya sepanjang 40 menit tersebut, Puan mengingatkan tentang peran strategis Angkatan Udara dalam mengantisipasi perang di masa depan. Pesan-pesan Presiden Soekarno tentang arti penting Angkatan Udara dipaparkan Puan secara lugas di sela-sela ceramahnya.

“Pada HUT AURI tahun 1955, Presiden Soekarno mengatakan, kuasailah udara untuk melaksanakan kehendak nasional karena kekuatan nasional di udara adalah faktor yang menentukan dalam perang modern,” tegas Puan Maharani yang disambut tepuk tangan para Perwira Siswa.

Mantan anggota Komisi I DPR yang membidangi pertahanan ini juga menjelaskan, dengan wilayah udara yang sangat luas, Indonesia membutuhkan kekuatan tentara yang memadai di udara. Untuk itulah, Indonesia membutuhka satu kekuatan yang betul-betul mampu menjaga keutuhan wilayah Indonesiadari udara.

“Dengan wilayah udara sebesar ini, yang dibutuhkan adalah kekuatan TNI yang ada di udara, sebelum masuk ke laut dan kemudian diterima darat. Ini logika saya,” jelas Puan Maharani.

Lebih lanjut Puan memaparkan, saat ini negara-negara besar sudah menggunakan drone untuk memantau wilayahnya. Dengan perkembangan seperti itu, muncul pertanyaan apa yang bisa dilakukan pemerintah Indonesia untuk memantau wilayah NKRI dengan kekuatan armada udara yang saat ini belum cukup kuat.

“Pesawat yang kita punya, menurut laporan yang saya dapatkan, tidak cukup untuk memantau wilayah Republik Indonesia yang sebesar ini,” jelasnya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari KSAU Fadjar Prasetyo, Puan menjelaskan saat ini TNI memiliki 120 pesawat. Dari jumlah tersebut, pesawat yang bisa beroperasi hanya berkisar 30 hingga 40 unit. Jumlah pesawat yang beroperasi diatur sedemikian rupa agar mampu terbang secara berkesinambungan. Berdasarkan saran dari Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Puan menuturkan bahwa Indonesia perlu memiliki satu kekuatan pesawat tempur produksi Rusia atau Amerika Serikat. Alasannya, saat ini sudah banyak sumber daya manusia TNI yang sudah terlatih untuk mengoperasikan produk Alutsista dari kedua negara tersebut.

Sementara itu, merujuk pada penilaian Global Fire Power (WFP), kekuatan militer Indonesia berada di peringkat ke-16. Penilaian statistik WFP tersebut memantau secara periodik kekuatan militer dari 140 negara di dunia. Meski kekuatan militer Indonesia masuk ke dalam 20 besar dunia, Puan mempertanyakan apakah militer Indonesia siap menghadapi perang konvensional.

Jenderal AU perempuan

Dalam ceramah pembekalannya, Puan juga menyinggung perihal karir perwira perempuan di tubuh TNI AU. Mantan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan perioden 2014-2019 itu selalu punya pertanyaan tentang berapa jumlah jenderal perempuan di TNI AD, AL, maupun AU.

Puan Maharani mengaku bangga, jumlah perwira perempuan yang mengikuti pendidikan di Sesko AU mencapai sebelas orang. Jumlah yang menurutnya terbilang banyak.

“Dari 127 Perwira Siswa ada sebelas yang perempuan, wah itu sudah lumayan banget. Ke depan harus bisa ditambah lagi. Karena saya perempuan, saya paham mengapa susah. Tugas kita sebagai perempuan itu ganda. Terlebih kalau sudah menikah, maka hidup kita lebih ruwet lagi. Tapi ya semangat, saya saja bisa sampai di sini,” ujar Puan di sela-sela ceramahnya.

Puan menuturkan, hidup itu merupakan pilihan. Menjadi perempuan adalah kodrat, namun setiap perempuan tetap boleh memiliki tujuan hidup. Puan berharap, dalam waktu dekat akan bisa melihat jenderal perempuan dari Angkatan Udara.

Sebelum menyampaikan ceramah pembekalan, Ketua DPR Puan Maharani menyempatkan diri untuk menanam pohon kepel di depan gedung utama Sesko AU. Ceramah pembekalan yang berakhir pada 12.15 WIB itu ditutup dengan makan siang bersama. Selain dihadiri perwira militer dari TNI AU, Ketua Fraksi PDI Perjuangan Utut Widianto dan Pelaksana Tugas Bupati Bandung Barat Hengky Kurniawan ikut hadir di Gedung Widya Mandala 1. ***

Editor – Igo Kleden

 

Popular Articles