DENPASAR, The East Indonesia – Situasi perang Rusia-Ukraina berdampak pada 35 pekerja migran Indonesia (PMI) asal Bali. Kepala BP2MI Denpasar Wiam Satriawan mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan Kemenlu untuk memulangkan PMI asal Bali yang selama ini bekerja di Ukraina. PMI yang bekerja di spa terapis Ukraina ini terpaksa harus pulang ke Bali karena situasi negara itu yang belum menentu.
“Jumlah PMI asal Bali yang bekerja di Ukraina sebanyak 35 orang yang semuanya perempuan. Dari jumlah tersebut semuanya sudah dipulangkan ke Indonesia dalam 3 gelombang. Hingga saat ini tinggal 1 orang yang masih di karantina di Jakarta karena memang orangnya belum vaksin selama bekerja di Ukraina. Sementara yang lainnya sudah kembali ke Bali dan saat ini sudah berada di rumah masing-masing,” ujarnya saat menjemput PMI asal Bali gelombang ketiga di Bandara Ngurah Rai Bali, Jumat (11/3/2022).
Wiam menjelaskan, gelombang pertama sebanyak 26 orang yang tiba di Indonesia pada Selasa (7/3/2022). Kemudian gelombang kedua datang sebanyak 4 orang lagi pada Rabu (8/3/2022). Sementara gelombang ketiga datang pada Jumat (11/3/2022) dengan jumlah sebanyak 4 orang. Dari jumlah 4 orang di gelombang ketiga ini, sebanyak 3 orang langsung terbang ke Bali, dan 1 orang masih dikarantina di Jakarta karena belum divaksin.
Untuk gelombang pertama dan kedua, penerbangan langsung dari Warsawa Polandia-Cengkareng Jakarta. Sementara untuk gelombang ketiga, penerbangan langsung Bucharest Romania-Cengkareng Jakarta. “Intinya PMI asal Bali yang ada di Ukraina sudah kembali ke Indonesia dan tinggal 1 orang yang masih berada di Jakarta karena tidak divaksin, selama di Ukraina sehingga harus menjalani masa karantina yang lebih lama,” ujarnya.
Wiam juga menyampaikan bahwa saat ini yang terdata adalah PMI yang berangkat melalui BP2MI Denpasar. Sementara masih banyak PMI yang berangkat secara non prosedural, sehingga tidak ada data yang pasti.
“Kami yakin jika jumlah yang non prosedural itu lebih banyak dan bahkan tiga kali lipat dari jumlah yang berangkat secara prosedural,” ujarnya. Para PMI yang berangkat secara non prosedural ini memilih lebih mementingkan kemudahan bekerja daripada keselamatan kerja. Ia meminta agar PMI asal Bali memilih jalur prosedural sehingga mudah dijangkau dan mudah terdeteksi keberadaan mereka. Ia meminta agar PMI Bali dan calon PMI segera mengakses aplikasi Balimantap di google play store. Disana akan kelihatan seluruh informasi resmi tentang PMI, tentang negara tujuan, perusahan, dan seterusnya. “Jadi bisa cek sambil tiduran di rumah, formal, prosedural, dan terpercaya,” ujarnya.***
Editor – Axelle Dhae


