ATAMBUA, The East Indonesia – Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Belu, Johanes Andes Prihatin mendampingi Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat melakukan Penanaman Simbolis Jagung Program TJPS Pola Kemitraan di Kabupaten Belu, wilayah Perbatasan Negara RI-RDTL.
Penanaman jagung secara simbolis ini dilakukan pada area seluas 21 hektar di Desa Dafala, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Jumat (25/11/2022).
Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Lecky Frederich Koli dalam menyampaikan sambutan Gubernur NTT, Viktor Laisi memberikan terima kasih dan apresiasi kepada masyarakat di Desa Dafala yang berpartisipasi dalam program TJPS tersebut.
“Terima kasih karena sebagian dari kita yang sudah menyediakan waktu untuk program TJPS ini,” katanya.
Kadis Pertanian menuturkan, Program TJPS memberikan satu pendekatan pembangunan yang sifatnya kolektif, kompherensif, terintegrasi, untuk mampu menyelesaikan persoalan sosial ekonomi yang sudah lama dialami oleh semua Kabupaten di NTT.
“Bantuan beras, BLT dan raskin bukan solusi penyelesaian kemiskinan, tetapi itu hanya penanganan emergency. Fondasi ekonomi yang kuat harus dibangun dari kapasitas aset-aset ekonomi yang dimiliki oleh petani,” ujarnya.
Saat ini, ungkap Kadis Lecky, petani kita saat ini hanya memiliki aset lahan. Sedangkan teknologi dan modal tidak punya, serta keterampilan masih belum optimal.
“Kita lihat saat ini, sistem kerja petani sangat jauh dari mekanisasi dan modernisasi. Kalau kita tidak rubah dan intervensi untuk menyempurnakan, maka apapun yang kita lakukan tetap tidak bisa menurunkan kemiskinan,” pintanya.
Kadis Pertanian Provinsi NTT ini menggambarkan bahwa apabila dalam 1 hektar mendapatkan 1 ton jagung dengan hasil panen 4 juta rupiah, kemudian dalam 1 keluarga ada 4 orang. Jika dibagi, masing-masing orang akan mendapatkan kurang lebih 300 ribu rupiah dalam tiga bulan.
“Hasil seperti ini membuat kita tetap miskin, jika pola kerja kita tidak berubah. Oleh karena itu, kita harus memperbaiki manejemen ekosistem dengan melibatkan Bank NTT,” tandasnya.
Karena itu, dirinya mengatakan bahwa harus ada hasrat dari petani untuk menanam karena jika sebagian besar petani tidak menanam, pasti mendapatkan kesulitan.
“Melihat kesulitan itu, Gubernur NTT merancang satu program untuk menyelesaikan masalah kemiskinan, masalah pendapatan, masalah stunting, dan masalah yang berkaitan dengan pendidikan dan kesehatan. Program tersebut adalah TJPS yang dirancang Gubernur NTT dan sudah berhasil dilaksanakan di beberapa kabupaten,” tandas Kadis Pertanian Provinsi NTT. (Ronny)


