DENPASAR, The East Indonesia – Seorang siswa SMP di Bali sudah menjadi chef. Dialah Made Radya Kennard (14), yang kini masih berstatus pelajar di SMPN I Denpasar. Di sela-sela kesibukannya sebagai pelajar SMP, Kennard bisa membagi waktunya dengan menjadi chef di NAD COFFEE & EATERY yang terletak di Jl Batubulan Kecamatan Gianyar, Bali.
Saat ditemui di kediamannya di NAD COFFEE & EATERY, Kennard mengatakan, jika hobi memasak sudah digelutinya sejak usia SD kelas 3. Bakat terpendam tersebut terus digelutinya dan bahkan ia harus beberapa kali merengek ke ibunya untuk membeli beberapa peralatan masak sekedar ingin mencoba beberapa menu.
Waktu terus berlalu. Hingga tahun 2021, dunia dilanda pandemi Covid19. Semua menjadi Work from Home (WFH). Sekolah libur, siswa pun belajar dari rumah secara online. Kesempatan itulah dipakai Kennard untuk memperdalam ilmunya lewat YouTube. Berbagai siaran masak dan kuliner lewat kanal YouTube dilahap Kennard. Akibat work from home, rumah Kennard yang ada di Batubulan Bali tersebut menjadi tempat berkumpul anak anak muda, mulai tetangga, teman sebaya hingga orang-orang yang harus dirumahkan.
Melihat peluang tersebut, dengan dibimbing kakeknya bernama Ketut Arya yang pernah menjadi Chef di sejumlah hotel bintang 5 di Balui dan Jakarta, rumah kediaman Kennard tepatnya garasi rumahnya akhirnya dibuka menjadi NAD COFFE & EATERY.
“Saya belajar sendiri, dari hoby saja. Saya tidak pernah mendapatkan pelajaran formal soal dunia kuliner. Benar-benar belajar sendiri. Tertarik masak itu waktu saya kecil dari SD kira-kira umur antara 9-10 tahun. Awalnya saya menonton video lihat caranya memasak kemudian memasak jadi hobby. Ketika nonton, kayaknya gampang kalau dimasak, kemudian saya coba masak dan ternyata bisa masaknya dan beberapa orang saya minta cicipi ternyata ada yang bilang itu (masakannya) enak,” ungkap Nad saat ditemui di NAD COFFEE & EATERY.
Menurutnya, apa yang dicobanya sering dikonsultasikan ke sang kakek Ketut Arya. Sebab ia percaya kakeknya pernah berkarir di Jakarta, di beberapa hotel berbintang di Jakarta dan terakhir menjadi Chef di hotel milik mantan Presiden Amerika Donald Trump di wilayah Tanah Lot, Bali. Saat ini rumah kediamannya disulap menjadi NAD COFFE & EATERY. Pelanggan atau pasarnya beragam. Mulai dari para ekspatriat hingga karang taruna.
Saat ini siswa yang akrab dipanggil Nad yang merupakan siswa SMPN 1 Denpasar ini tengah fokus mendalami mimpinya menjadi chef profesional dengan terjun langsung menghidangkan makanan yang dipesan oleh para pengunjung. Sebab hal ini sudah menjadi hobinya sejak kecil ketika duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Tidak seperti kebanyakan siswa SD lainnya yang menghabiskan waktu sepulang sekolah untuk bermain di luar rumah, Nad justru menghabiskan sebagian waktunya untuk menonton siaran memasak di kanal video online lalu mempraktekan secara langsung di rumah. Awalnya senang nonton Gordon Ramsey.
“Dari Chef YouTube saya ingin jadi Chef benaran. Sebetulnya saya juga banyak terinspirasi dari kakek yang kebetulan seorang chef. Nah beliau inilah yang membimbing, mengajari saya memasak. Jadi saya juga terinspirasi dari Kakek saya. Pokoknya Kakek saya keren kali mengajari saya,” ungkapnya.
Kakek Kennard, Ketut Arya mengakui bakat cucunya yang luar biasa. “Bakatnya Kennard luar biasa. Banyak surprise produk baru yang dihasilkan sendiri dengan citarasa baru,” ujarnya.
Ia juga mengaku jika cucunya tengah fokus mendalami mimpinya menjadi chef profesional dengan terjun langsung menghidangkan makanan yang dipesan oleh para pengunjung. Ketut Arya juga mengaku, jika dirinya hanya ditanya bila ada hal baru atau disuruh menjadi tester. Keingintahuan cucunya sungguh luar biasa. Ia belajar memperdalam teknik mengolah makanan serta memahami jenis-jenis makanan.
“Saya salut. Ada banyak produk baru, dengan tekstur baru, dengan rasa yang berbeda juga,” ujarnya. Sebab yang terpenting dalam mengolah dan menyajikan makanan adalah penampilan lalu kemudian adalah faktor rasa.
Apa yang disampaikan Ketut Arya juga disepakati Kennard. “Kalau menurut saya yang terpenting adalah penampilan makanan tersebut. Karena kalau penampilanya nggak bagus kan jelek juga. Jadi penampilan itu sangat penting. Setelah penampilan baru kemudian adalah rasa makanan tersebut. Dua hal inilah yang paling penting,” terangnya.
Lebih lanjut Nad pun mengatakan bahwa hobinya memasak sangat didukung penuh oleh kedua orang tua dan kakaknya. “Kalau orang tua sangat support penuh. Kalau mau masak itu orang tua yang biasanya belikan bahan, nanti saya yang masak lalu menyajikan ke orang tua,” ungkapnya.
Mendirikan NAD COFFEE & EATERY
Setelah menyakinkan diri dan memantapkan persiapan, pada tahun 2021, Nad bersama kakaknya, Denis memberanikan diri untuk membuka NAD COFFEE & EATERY. Kendatipun belum memiliki pengalaman dalam mengelola sebuah coffee shop tidak menjadi halangan bagi mereka. Berbekal kemampuan memasak dan bimbingan kakek dan orang tua, Nad dan Denis secara perlahan membangun NAD COFFEE & EATERY menjadi coffee shop populer yang menjadi tujuan anak muda untuk menghabiskan waktunya baik untuk bekerja ataupun sekedar kumpul bersama menikmati suasana alam.
Hal ini lantaran NAD COFFEE & EATERY menawarkan konsep menikmati kopi dan makanan dengan didampingi sensasi suasana alam yang indah mulai dari gemercik air sungai sampai pada gemulai pohon bambu yang tertiup angin. “Mudah-mudahan sih kedepan bisa ramai terus,” ungkapnya.
Kedepan, Nad pun mengatakan ingin mengikuti kejuaran Master Chef Indonesia. Menurutnya kejuaran tersebut adalah kejuaran bergengsi nasional. Dalam kejuaran tersebut ia ingin menunjukan kemampuan memasaknya. Melalui kemampuan dan pengetahuan memasaknya ia meyakini bisa membuktikan kualitas dirinya kepada dewan juri. “Tentu kedepan ada harapan untuk bisa mengikuti Master Chef. Itu kan kompetisi chef terkenal. Kalau bisa lolos disana akan sangat bagus,” terangnya.***AD


