Saturday, January 24, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Demi Kualitas Kopi, Luwak di Bali Sangat Teraniaya dan Menderita

DENPASAR, The East Indonesia – Kopi luwak yang sudah terkenal di Bali ternyata menimbulkan masalah baru. Aktifis perlindungan satwa liar dari People for The Ethical Treatment of Animal (PETA) melakukan investigasi terbaru soal kopi luwak. Investigasi terbaru dilakukan menjelang peringatan hari kopi nasional yang jatuh pada 11 Maret 2024 nanti. Hasil investigasi tersebutnya terkuak bahwa kopi luwak yang dihasilkan di Bali ternyata di baliknya membuat luwak teraniaya dan sangat menderita. Dalam rangkat menyambut hari kopi nasional tersebut, PETA merilis klip investigasi terbaru yang merekam bagaimana luwak-luwak di Bali masih terus dianiaya demi kopi luwak. PETA mengungkap bagaimana turis yang berlibur di Bali diajak mengunjungi perkebunan kopi, dan disajikan cerita bahwa kopi yang dijual dihasilkan oleh hewan liar, ketika kenyataannya kopi tersebut diambil dari luwak yang dikurung dalam kandang.

Senior Vice President PETA Jason Baker mengatakan, sebenarnya investasi terhadap penderitaan dan penganiayaan terhadap luwak di Bali sudah dilakukan sejak tahun 2022 lalu. Investigasi tersebut dilakukan di beberapa titik atau wilayah di Bali yang menjadi produsen kopi luwak. “Hasilnya semuanya sama. Luwak teraniaya dan sangat menderita. Para produsen kopi luwak pun dengan sengaja menganiaya luwak demi motif ekonomi,” ujarnya Senin (4/3/2024).

Investigasi terakhir PETA terhadap industri kopi luwak di tahun 2022 menunjukkan bahwa kopi luwak dihasilkan dengan cara menangkap luwak liar di habitat alaminya, mengurung mereka dalam kandang sempit menyedihkan, dan memberi mereka diet buah kopi, yang jauh dari menyehatkan maupun alami. Kopi luwak dibuat dari biji kopi yang terproses parsial dalam pencernaan luwak, lalu dipungut dari feses mereka. “Ada banyak yang bisa dirayakan di Hari Kopi Nasional, tetapi penyekapan, penderitaan, dan nestapa yang harus dirasakan oleh para luwak ini demi kopi, bukan hal yang patut dirayakan. Saatnya kita mengarsipkan industri ini di tempat yang seharusnya, yakni dalam catatan sejarah,” ujarnya.

Penyidik mendokumentasikan kekerasan pada luwak di sebuah peternakan di Bali, dan menelusurinya ke perkebunan kopi yang umum didatangi turis. Ada lusinan perkebunan kopi luwak lain yang tersebar di seluruh pulau dewata. Penyidik menemukan luwak dalam kandang hampa dengan sisa kerak-kerak feses, kotoran, tanah, dan buah kopi yang membusuk. Mereka terus mondar-mandir mengelilingi kandang dan menderita luka terbuka. “Seorang representatif bercerita pada penyidik kami bahwa turis akan murka jika mengetahui asal muasal kopi luwak ini. Ketika penyidik kami datang langsung ke perkebunan kopi, pemandu yang mendampingi menyangkal bahwa mereka mempekerjakan luwak yang dikurung, meskipun telah dikonfrontasi,” ujarnya.

PETA, dengan semboyan yang sebagiannya berbunyi “hewan bukan milik kita untuk dianiaya dengan cara apapun”, menentang spesiesisme, cara pandang supremasi manusia. Demi keuntungan ekonomi, hewan dikorbankan dengan cara yang sangat tidak beradab. PETA juga merekomendasikan agar kopi luwak harus dipanen kembali ke alamnya. Pelestarian luwak juga harus dikembalikan ke habitatnya yang asli.*Arnold

Popular Articles