Monday, January 12, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Pimpin 5 Tahun Malah Tambah Angka Kemiskinan, Willy Lay Tak Dipercaya Hingga Dilengserkan Sendiri oleh Rakyat Belu

ATAMBUA, The East Indonesia – Willybrodus Lay pernah menjabat sebagai Bupati Belu periode 2016 – 2021 berpasangan dengan seorang Birokrat tulen, JT Ose Luan dengan tagline Sahabat.

Keduanya terpilih dengan sejumlah kontroversi selama kampanye seperti dilansir dalam wikipedia yakni; Paket Sahabat diduga melakukan politik uang dengan membagikan drum-drum bekas di Halituku, Tasifeto Barat, dan diminta untuk mencoblos Paslon 02 (Paket Sahabat) pada Pilkada 2015.

Pasangan calon ini juga telah melanggar ketentuan dengan mencetak kartu pos dengan bahan di luar ketentuan oleh Komisi Pemilihan Umum, oleh karena itu, KPU meminta agar semua kartu pos yang beredar di masyarakat ditarik oleh Paket Sahabat.

Selain itu, sebelumnya, Badan Pengawas Pemilihan Umum juga telah menemukan pelanggaran Pemilu oleh Paket Sahabat, yakni dengan membagikan kartu ucapan Natal dan Tahun Baru yang beredar di masyarakat.

Hal tersebut dibantah oleh Willy Lay, yang berkata bahwa kartu tersebut tidak pernah dibagi oleh tim Sahabat kepada masyarakat.

Setelah terpilih dan dilantik, Paket Sahabat menjalankan sejumlah program yang kemudian kontroversi karena diduga beraroma korupsi seperti Maek Bako.

Meski dalam visi dan misinya ingin mensejahterakan rakyat, pada kenyataannya, penduduk miskin di Kabupaten Belu selama keduanya memimpin tidak berkurang melainkan makin bertambah.

Dilansir dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTT, dalam kurun waktu tahun 2016-2021, prosentasi penduduk miskin berada pada 15 persen lebih.

Pada awal menjabat di tahun 2016, jumlah penduduk miskin sebanyak 33,13 ribu jiwa atau sebesar 15,82 persen hingga akhir masa jabatan di tahun 2021, jumlah penduduk miskin naik menjadi 35,41 ribu jiwa atau sebesar 15,67 persen.

Pada tahun 2017, jumlah penduduk miskin naik menjadi 33,95 ribu jiwa atau sebesar 15,95 persen.

Pada tahun 2018 penduduk miskin sebanyak  33,91 ribu jiwa atau 15,70 persen.
Pada tahun 2019 penduduk miskin bertambah menjadi 34,08 atau sebesar 15,54 persen.
Tahun 2020 jumlah penduduk miskin naik lagi menjadi 34,18 atau sebesar 15,37 persen.

Ini merupakan kegagalan Willy Lay saat menjabat bupati Belu bersama JT Ose Luan pada periode 2016-2021.

Sementara itu kepemimpinan seorang Bupati Belu, dokter Agustinus Taolin, pada tahun pertama kepemimpinannya, langsung dihantam pandemi COVID-19 sehingga jumlah penduduk miskin naik lagi pada tahun 2021 menjadi 35,41 atau sebesar 15,67 persen.

Namun tidak menyerah, dibawah kepemimpinan Dokter Agustinus Taolin, tahun 2022 jumlah penduduk miskin berhasil ditekan turun menjadi 33,98 jiwa atau sebesar 14,84 persen.

Dan data terakhir BPS tahun 2023, jumlah penduduk miskin di Belu turun lagi menjadi 33,19 jiwa atau sebesar 14,08 persen.

Peningkatan angka kemiskinan dimasa kepemimpinan Willy Lay inilah diduga menjadi sebab kalah dalam Pilkada 2020 lalu melawan hanya satu paket, seorang Dokter Agustinus Taolin dan Dr. Aloysius Haleserens, MM.

Tampil sebagai petahana yang hanya melawan 1 paslon pada Pilkada 2020, mayoritas penduduk Kabupaten Belu malah memenangkan Dokter Agustinus Taolin.

Kegagalan Willy Lay selama menjabat bupati disentil oleh Calon Bupati Belu nomor urut 3 yakni Servas Serbaya Manek yang menegaskan bahwa Willy Lay Gagal Total saat menjadi bupati.

Kegagalan kepemimpinan Willy Lay itu, kata Servas, menjadi beban pemerintahan sekarang dibawah kepemimpinan Dokter Agustinus Taolin dan pemerintahan mendatang.

Dirinya lantas mempertanyakan motivasi Willy Lay untuk kembali maju sebagai calon bupati Belu pada Pilkada 2024.

“Sudah gagal kok, Gagal total mau jadi lagi?” ujar Servas dalam debat paslon yang disiarkan langsung TVRI dan RRI pada Sabtu (19/10/2024) malam. (Ronny)

Popular Articles