SINGARAJA, The East Indonesia – Partai Golkar menggelar pendidikan politik (dikpol) di Kabupaten Buleleng pada Minggu (6/7) pagi. Kegiatan ini pun ditepis dilakukan berkaitan dengan musyawarah daerah (musda) Golkar Bali, untuk memilih ketuanya di Pulau Dewata. Dinamika musda Golkar Bali yang tertunda, terbawa ke dalam kegiatan-kegiatan partai.
Di dalam musda, sementara ada dua nama yang saat ini mencuat, Yakni Gde Sumarjaya Linggih dan I Nyoman Sugawa Korry. Meskipun dibantah, karena tidak ada kaitannya, kegiatan dikpol ini menjadi ajang untuk menggerakkan kader di bawah.
Ketua DPD I Golkar Bali, I Nyoman Sugawa Korry mengatakan, kegiatan pendidikan ini murni sebagai bentuk pertanggungjawaban atas anggaran dari pemerintah kepada partai, untuk memberikan pendidikan politik ke kader, simpatisan, dan masyarakat. Sehingga peruntukannya sesuai dengan mekanisme administrasi keuangan yang berlaku.
”Tidak ada kaitan dengan musda. Karena jauh sebelumnya sudah dikpol, yang diawali di Bangli. Tadi di pidato juga, saya tidak ada singgung atau mengajak agar pilih saya di musda,” ujar Sugawa Korry.
Dilanjutkannya, dikpol di Buleleng disebut lebih menarik. Sebab dilaksanakan di salah satu perguruan tinggi. Berbeda dari kabupaten/kota lainnya di Bali, yang digelar di hotel maupun kantor partai. Begitu juga dengan pesertanya, yakni di Bali utara diisi juga dengan 200 orang mahasiswa berdampingan dengan kader dan simpatisan Golkar.
Menurutnya, mahasiswa kini mulai tertarik untuk membicarakan dan memikirkan politik. Karena tanpa disadari, setiap keputusan sederhana pun, sebenarnya ada sisi politiknya juga.
”Ini juga untuk menyadarkan kader serta simpatisan, bahwa mereka menempati posisi politik juga karena dukungan masyarakat, ditambah teman-teman yang kalah,” tegas Sugawa Korry.(Wismaya)


