SINGARAJA, The East Indonesia – Hari Suci Kuningan bukan hanya penanda berakhirnya rangkaian suci Galungan, tetapi juga tonggak spiritual untuk mengenal diri lebih dalam, dalam ajaran Hindu, perjalanan menuju kesadaran sejati dimulai dari pemahaman Tri Śarīra yakni Stūla Śarīra (tubuh kasar), Sūkṣma Śarīra (tubuh halus), dan AntahKāraṇa Śarīra (tubuh penyebab). Kuningan hadir sebagai “ruang hening” untuk menyadari kembali tubuh, pikiran, dan jiwa di tengah derasnya arus digitalisasi.
“Makna ini juga ditegaskan dalam Lontar Sundarigama, teks suci yang sangat bersejarah mengenai tata hari raya Galungan dan Kuningan, didalamnya disebutkan, salah satu kutipannya,
“Rangda ring amangkya, dewatā teka ring angga.”
“Pada hari Kuningan, para dewa datang menyertai tubuh dan kesadaran manusia,”jelas Irma Susanthi selaku Penyuluh Agama Hindu di Kantor Kementerian Agama Buleleng ketika dikonfirmasi, Sabtu,(29/11)
Lebih jauh menurut Irma, Pustaka Lontar Sundarigama mengajarkan, umat dianjurkan membuat tamiang dan endogan, dua simbol yang mewakili perlindungan dan keseimbangan. Keduanya melambangkan bahwa tubuh perlu dijaga dari “serangan adharma”baik berupa penyakit, stres, maupun pola hidup tidak sehat.
“Pada tingkat modern, Kuningan adalah momentum untuk, mengatur ulang ritme makan, tidur, dan aktivitas fisik; merawat tubuh dari kelelahan digital, menanamkan kebiasaan hidup sattvika agar tubuh menjadi media dharma. Stūla Śarīra yang seimbang menjadi pintu pertama menuju kesadaran diri. Sūkṣma Śarīra, Menjernihkan Pikiran di Tengah Bisingnya Dunia Digital Sūkṣma Śarīra terdiri dari pikiran, perasaan, dan prana, di era digital, bagian inilah yang paling mudah goyah pikiran terseret opini, emosi diombang-ambingkan informasi, dan prana terkuras tanpa disadari,”ujarnya.
Lanjut Irma, Kuningan adalah waktu untuk “mengangkat diri” dari kebisingan, membasuh pikiran melalui mantra, dan memulihkan energi batin, dalam Lontar Sundarigama, disebutkan bahwa pada Kuningan, para dewa memberikan “ketenangan pikiran dan kejernihan buddhi” kepada umat yang tulus bersembahyang, di era digital, ajaran ini menjadi sangat relevan, kurangi paparan informasi berlebih, lakukan kontemplasi singkat, atur napas untuk menyeimbangkan prana, saring apa yang masuk ke pikiran sebagaimana kita menyaring makanan bagi tubuh. Kuningan adalah jeda suci bagi pikiran, agar tubuh halus bisa memancarkan kembali cahaya kejernihan.
Diungkapkan oleh Irma, Antah Kāraṇa Śarīra menjadi seperti cermin memantulkan apakah hidup kita sudah sesuai dharma atau justru menyimpang dari tujuan,di era modern, ini berarti merefleksikan, Apakah keputusan hidup kita sejati atau hanya mengikuti tren ?Apakah penggunaan teknologi kita membawa manfaat atau justru menjauhkan dari diri sendiri? Apakah tujuan hidup kita semakin terang atau semakin kabur? Kuningan mengajak kita kembali menyalakan cahaya di dalam. Kuningan dan Digitalisasi, Tradisi yang Tetap Menyentuh Zaman.
Menurut Irma, Lontar Sundarigama tidak hanya berbicara tentang upacara, tetapi kesucian kesadaran, dalam konteks digital, ajarannya memberi tiga pedoman penting:
“Maya ring awak, tan wikan sangkāra”
“Jangan biarkan diri tertipu oleh ilusi.”
Relevan dengan hoaks, manipulasi digital, dan konsumsi media tanpa kendali.
“Linggihang dewa ring manah”
“Tempatkan dewa di dalam pikiran.”
Artinya, isi pikiran dengan hal yang murni, bukan hanya unggahan cepat atau konten penuh sensasi.
“Suksmeng angga, suksma dewakang teka”
“Lembutkan tubuh halus, agar cahaya dewa dapat masuk.”
“Ini adalah pesan penting bahwa ketenangan batin adalah syarat spiritual di era serba cepat. Kuningan menjadi jembatan antara tradisi dan dunia digital, tradisi menjaga kedalaman, digitalisasi membawa kecepatan, sementara kesadaran diri adalah pusat keseimbangan. Kuningan sebagai Cermin untuk Melihat Diri Sendiri dan memuliakan semesta,”imbuhnya.
Esensi Kuningan dari konsep Tri Śarīra dan Lontar Sundarigama adalah ajakan untuk kembali pulang kepada diri. Tubuh dirawat, pikiran dijernihkan, dan jiwa disinari ketulusan, diera digital, pesan ini semakin penting,
“Kita bukan hanya konsumen informasi, tetapi makhluk spiritual yang tengah mencari cahaya. Kuningan memberi ruang bagi umat Hindu untuk bertanya: apakah tubuh kita telah dihormati? apakah pikiran kita sudah bersih dari polusi digital? Apakah jiwa kita masih terhubung dengan cahaya-Nya? Jika jawabannya “iya”, maka Kuningan telah bekerja. Jika belum, Kuningan menjadi awal perjalanan kembali. Itulah keagungan Kuningan hari ketika manusia diingatkan bahwa cahaya para dewa hanya dapat masuk ke dalam diri yang dijaga melalui tubuh, pikiran, dan jiwa yang suci,”pungkasnya.(Wis)

