Saturday, January 10, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Olah Lahan 800 Meter Persegi, Lapas Atambua Perkuat Kemandirian Warga Binaan Dengan Tanam Kacang Tanah

ATAMBUA, The East Indonesia – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Atambua terus memperluas jangkauan pembinaan kemandirian melalui aksi nyata di sektor pertanian.

Pada Kamis, 8 Januari 2026, petugas bersama warga binaan resmi mengolah lahan luar tembok seluas 800 meter persegi untuk budidaya kacang tanah.

Langkah strategis ini mempertegas komitmen Lapas Atambua dalam membekali warga binaan dengan keterampilan bertani yang variatif, mulai dari sayuran hingga tanaman pangan produktif.

Ekspansi lahan ini bukan sekadar aktivitas pertanian biasa, melainkan bagian dari akselerasi program pembinaan untuk mencetak tenaga kerja terampil.

Lapas menargetkan setiap warga binaan memiliki keahlian praktis yang mumpuni sebelum mereka kembali ke tengah masyarakat.

Kepala Sub Seksi Kegiatan Kerja (Kasubsi Giatja), Andra Sukabir, memimpin langsung proses pembukaan lahan dan penanaman perdana.

Dirinya menyatakan bahwa pemilihan kacang tanah sebagai komoditas utama bukan tanpa alasan.

“Kami optimalkan setiap jengkal lahan agar bermanfaat. Penanaman di area 800 meter persegi ini menjadi langkah awal rencana besar tahun ini untuk memperkuat kemandirian warga binaan,” tegas Andra.

Kepala Lapas Atambua, Bambang Hendra Setyawan, secara konsisten menggulirkan pembinaan variatif agar warga binaan tetap aktif dan produktif.

Menurutnya, program ini merupakan implementasi nyata dari 15 Program Aksi Kemenimipas poin 8 mengenai pemberdayaan warga binaan.

“Kami ingin saat bebas nanti, mereka tidak lagi bingung mencari kerja karena sudah memiliki ‘tangan emas’ untuk mengolah tanah. Kami pastikan seluruh warga binaan aktif dalam program pembinaan dan tidak ada yang hanya berdiam diri atau ‘bengong’. Keterbatasan ruang gerak bukan penghalang untuk terus berkarya,” jelas Hendra.

Manfaat program ini dirasakan langsung oleh para peserta pembinaan. Riko, salah satu warga binaan, mengaku bersyukur atas kesempatan belajar di Lapas.

“Melalui bimbingan petugas, saya paham cara mengoperasikan mesin traktor dan menerapkan teknik pemupukan yang benar. Menanam kacang tanah ini bukan sekadar tugas, tapi bekal hidup saya. Saya bertekad membuka kebun sendiri di kampung setelah bebas nanti,” ungkap Riko.

Melalui inisiatif ini, Lapas Atambua sukses bertransformasi menjadi “Lapas Industri” skala kecil berbasis pertanian.

Proses pemasyarakatan kini bergeser menjadi lebih humanis dan berorientasi pada masa depan. Selain memberikan nilai ekonomi, lingkungan hijau yang produktif ini diyakini mampu memberikan efek psikologis positif, mengurangi tingkat stres, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab yang tinggi pada diri warga binaan. (Ronny)

Popular Articles