Tuesday, January 20, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Misteri Kematian Kepala BPBD Belu, Keluarga Frans Asten Tunjuk Kuasa Hukum Ungkap Banyak Kejanggalan

ATAMBUA, The East Indonesia – Almarhum Fransiskus Xaverius Asten yang memiliki alamat Jl. Pemuda RT 004/RW 002, Kelurahan Tulamalae, Kecamatan Atambua Barat dilaporkan hilang dan tercatat di Polres Belu dengan Nomor: LP/B/17/XI/2025/SPKT/POLRES BELU/POLDA NTT.

Dalam laporan yang dibuat pria berinisial MMT tersebut, menyebutkan bahwa Almarhum Fransiskus Xaverius Asten telah pergi dari rumah sejak 7 November 2025 sekitar pukul 18:55 WITA dengan menggunakan jaket sweater warna biru dan celana pendek jeans.

Proses berjalan, Fransiskus Xaverius Asten yang saat itu menjabat sebagai Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Belu pun ditemukan telah Meninggal Dunia pada Minggu 9 November 2025 di Kilo 8 jurusan Atapupu, Kabupaten Belu.

Kasus ini pun telah ditangani oleh Kepolisian Resort Belu namun hingga saat ini belum ada perkembangan yang signifikan.

Dilansir Media Kupang.com, Istri korban, Fransisca Xaveria Lucia M. Suri yang sejak awal tak puas dengan kematian janggal suaminya resmi memberikan kuasa kepada Silvester Nahak, SH, Wilfridus Son Lau, SH, MH dan Nobertus Kehi Bria, SH untuk mengawal kasus ini demi terbukanya tabir kematian tersebut.

Dalam jumpa pers, Senin 19 Januari 2026 di Atambua, Silvester Nahak mengatakan bahwa pihaknya telah mendapat kuasa tersebut sejak 6 Januari 2026.

“Kami dipercaya oleh keluarga korban dalam hal ini istrinya dengan memberikan kuasa kepada kami untuk membantu berkoordinasi dengan pihak yang berwenang dalam hal ini penyidik Polres Belu demi mengungkap tabir kematian almarhum Frans Asten,” ujar Sil Nahak.

Dirinya menuturkan kronologis kehilangan Frans Asten hingga ditemukan jenazah korban.

“Informasi yang kami peroleh dari keluarga bahwa pada tanggal 7 November 2025 kurang lebih pukul 16.00 Wita lebih beliau keluar dari rumah, entah kemana keluarga tidak tahu. Hingga sampai pada tanggal 8 siang beliau tidak kembali. Keluarga kemudian membuat laporan kehilangan ke Polres Belu. Selanjutnya pada tanggal 8 malam seluruh keluarga beramai – ramai mencari tahu keberadaan almarhum Fransiskus Asten tapi ternyata upaya itu tidak berhasil. Pada tanggal 9 siang baru ditemukan jenazah almarhum Frans Asten tepatnya di Sabanase (Kilo 8 jurusan Atapupu),” papar Sil Nahak.

Pihaknya telah mendapat informasi terkait kematian Frans Asten yang dinilai tidak wajar atau janggal.

“Dari informasi – informasi tersebut dapat dilihat beberapa hal yang menurut kami ada kejanggalan seperti:
Pertama, kalau dia celaka maka kunci motor yang beliau pakai tentu dalam keadaan On tapi fakta hukumnya kunci motor dalam keadaan Off.

Kedua, informasi dari keluarga bahwa saat keluar dari rumah dia memakai Sweater. Hingga sampai saat ini Sweater yang dipakai almarhum belum ditemukan.

Ketiga, termasuk Handphone yang beliau pegang hingga sampai saat ini tidak ditemukan. Keluarga sudah berupaya menyisir tempat ditemukan jenazah tapi tetap saja tidak ditemukan. Termasuk pula topi juga sampai dengan saat ini tidak ditemukan,” terangnya.

Dari kejanggalan ini menurut Sil Nahak seharusnya pihak Polres Belu sudah harus melakukan penyelidikan – penyelidikan secara profesional guna menemukan fakta – fakta hukum yang benar.

“Kita ingin tahu sejauhmana upaya penyelidikan yang dilakukan oleh penyidik Polres Belu karena sejauh ini setelah ada temuan mayat sampai 12 Januari 2026 baru ada surat pemberitahuan perkembangan penyelidikan itu artinya selama ini keluarga belum tahu secara terang,” bebernya.

Terkait hasil otopsi, Sil Nahak menjelaskan bahwa keluarga dijelaskan penyidik Polres setelah hasil otopsi diterbitkan.

Namun penjelasan tersebut hanyalah umum dan tidak detail. Hanya yang pasti bahwa almarhum sebenarnya telah meninggal dua hari sebelum ditemukan di dalam semak – semak seolah kecelakaan.

“Yang mereka tahu itu bahwa ada benturan semacam benda tumpul dibagian kepala, di leher, dipelipis juga ada dibagian dada. Kurang lebih ada 9 titik atau 11 titik benturan. Kemudian keluarga juga menyampaikan bahwa dari hasil otopsi itu kesimpulannya bahwa almarhum Frans Asten diperkirakan telah meninggal 2 malam. Kita tidak mengambil kesimpulan tetapi beliau keluar dari tanggal 7 tanggal 9 baru ditemukan,” ungkap Sil Nahak.

Menurut Sil Nahak, karena korban adalah seorang pejabat di Pemda Belu dan publik bertanya – tanya maka Polres Belu diharapkan dapat menggelar perkara ini secara terbuka dan transparan.

“Publik bertanya – tanya dia meninggal karena apa maka perlu transparansi dalam gelar kasus ini,” tandas Sil Nahak.

Selain itu pihaknya juga meminta penyidik menelusuri dan mendalamin postingan akun akun Facebook membuat narasi tentang kejadian kematian Frans Asten.

Ia mengatakan bahwa penyidik memiliki cara dan memiliki teknologi canggih yang bisa membuka atau melacak

“Termasuk juga HP almarhum ini juga perlu dilacak untuk mngetahui keberadaan korban sejak tanggal 7 November malam sampai dengan tanggal 9 November 2025. Komunikasi almarhum dengan siapa,” tandasnya. (Ronny)

Popular Articles