DENPASAR, The East Indonesia — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan pentingnya kemitraan strategis antara industri, lembaga kursus dan pelatihan (LKP), serta dinas pendidikan sebagai kunci menyiapkan sumber daya manusia yang berdaya saing global dan adaptif terhadap tantangan masa depan.
Dalam giat Konsolidasi Kemitraan Strategis Industri, Lembaga Kursus, dan Dinas Pendidikan di Bali, Selasa (27/1), Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, mengajak seluruh pemangku kepentingan pendidikan untuk memperluas pemaknaan tugas konstitusional dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Menurutnya, selain membangun kapasitas intelektual, pendidikan juga harus memperkuat keterampilan praktis, kecakapan sosial, dan kesiapan kerja yang memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
“Tugas konstitusional mencerdaskan kehidupan bangsa harus kita maknai secara luas. Kecerdasan tidak boleh hanya dipahami dari aspek kognitif semata hingga melupakan keterampilan praktis yang melekat pada diri manusia,” tegas Wamen Atip.
Ekosistem pendidikan yang kolaboratif akan membuka lebih banyak ruang bagi peserta didik untuk berkembang sesuai potensi dan minatnya. Inilah yang menjadi misi utama Kemendikdasmen melalui penguatan lembaga kursus dan pelatihan (LKP). “Saya telah melihat sendiri buktinya saat melepas ribuan lulusan LKP untuk bekerja di luar negeri pagi tadi. Mereka adalah bukti bahwa kecerdasan praktis mampu membuka pintu peluang global yang sangat luas,” tambahnya.
Wamen Atip menjelaskan bahwa LKP memiliki misi vital untuk mewadahi individu yang memiliki kecerdasan keterampilan terapan (vokasi). Ia mencontohkan tokoh sukses seperti Rudy Hadisuwarno di bidang tata rambut dan Rudy Choirudin di bidang kuliner sebagai bukti bahwa kecerdasan praktis yang konsisten mampu membawa kesuksesan besar tanpa harus didominasi oleh teori semata. “LKP menghasilkan sertifikat yang menjadi bukti nyata keterampilan aplikatif.,” ujar Atip.
Lebih lanjut, Wamen Atip juga menekankan pentingnya penguatan keterampilan pendukung, seperti kecerdasan sosial dan penguasaan bahasa internasional yang berbasis praktik komunikasi. Ia menguraikan bahwa merujuk pada penelitian Dale Carnegie Foundation di tahun 1980-an, 70% kesuksesan ditentukan oleh kemampuan membangun jejaring dan kepercayaan. Sementara itu, pendekatan keterampilan berbahasa yang aplikatif akan meningkatkan kepercayaan diri dan kesiapan lulusan dalam berinteraksi di lingkungan kerja global. “Keterampilan bahasa adalah kunci bagi tenaga kerja kita, seperti tenaga perawat (caregiver), untuk meraih peluang global dengan penghasilan tinggi,” tambah Wamen Atip.
Sejalan dengan visi tersebut, Direktur Kursus dan Pelatihan, Yaya Sutarya, memaparkan langkah strategis kementerian dalam memperkuat ekosistem LKP melalui pelibatan aktif pemerintah daerah. Mulai tahun 2026, kewenangan perizinan dan pembinaan LKP akan didesentralisasikan ke pemerintah kabupaten/kota agar respons terhadap kebutuhan industri dapat dilakukan lebih cepat dan kontekstual.
Yaya Sutarya menegaskan komitmen Kemendikdasmen dalam meningkatkan kualitas pengajaran melalui program beasiswa mikro-kredensial dan rekognisi pembelajaran lampau bagi instruktur yang belum meraih gelar sarjana. Langkah ini menjadi fondasi penting untuk memastikan kualitas pendidikan tetap berada di standar tertinggi, yang akan diperkuat melalui kebijakan desentralisasi dan penguatan akreditasi.
“Melalui akreditasi, LKP nantinya dapat menyelenggarakan uji kompetensi dan menerbitkan sertifikat sendiri, yang merupakan terobosan besar untuk memperkuat kredibilitas lembaga di mata industri,” jelas Yaya.
Keberhasilan strategi ini tercermin pada capaian tahun 2025, di mana program Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK) berhasil menyalurkan lebih dari 89 persen murid ke dunia kerja, sementara 90 persen lulusan program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) telah sukses merintis usaha sendiri.
Konsolidasi strategis ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi erat antara industri, dinas pendidikan, dan lembaga kursus sebagai pilar utama dalam mencetak SDM Indonesia yang cerdas secara intelektual, terampil secara praktis, serta memiliki kecerdasan sosial yang kuat untuk bersaing di pasar kerja dunia. Sinergi antara visi kecerdasan luas dari pemerintah pusat dengan dukungan anggaran serta rekomendasi dari pemerintah daerah menjadi kunci untuk memastikan pendidikan nonformal tetap menjadi solusi konkret dalam menyiapkan tenaga kerja yang kompeten dan kompetitif di kancah internasional.(*)


