CIANJUR, The East Indonesia — Lingkungan belajar yang sehat dan nyaman tidak hanya ditentukan oleh ruang kelas, tetapi juga oleh fasilitas dasar yang digunakan murid setiap hari. Di Kabupaten Cianjur, perubahan itu kini dirasakan warga sekolah, salah satunya melalui transformasi fasilitas toilet, yang menjadi bagian penting sejalan dengan peningkatan sarana pembelajaran lainnya. Revitalisasi memastikan sekolah memiliki fasilitas sanitasi yang bersih, layak, dan ramah bagi warga sekolah.
Di SMK Kesehatan Cianjur, toilet sekolah kini dirancang dengan jumlah bilik yang banyak, pencahayaan yang baik, ventilasi memadai, tata ruang yang lebih rapi, serta material yang mudah dibersihkan. Kehadiran toilet yang bersih dan layak ini menciptakan rasa aman dan nyaman bagi murid dalam menjalani aktivitas belajar sehari-hari, sekaligus membangun kebiasaan hidup bersih dan sehat di lingkungan sekolah. Selain itu, toilet ini bisa menjadi model untuk diterapkan pada revitalisasi toilet di sekolah-sekolah lain.
Salah satu siswa SMK Kesehatan Cianjur, Sela, mengungkapkan kegembiraannya atas perubahan fasilitas toilet, yang menurutnya sangat bagus dan bersih—seperti di hotel.
“Alhamdulillah, sekarang fasilitas sekolah kami jauh lebih nyaman. Musala lebih bersih untuk beribadah. Toiletnya pun terlihat mewah dan kondisinya bersih,” ujar Sela dengan antusias.
Sejumlah apresiasi pun datang dari berbagai sekolah penerima manfaat yang hasil revitalisasinya pun telah diresmikan secara langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, di Cianjur, Jawa Barat, Sabtu (31/1).
Kepala SLB Loka Mandiri, Tiara Linduk Intany, mengungkapkan bahwa sebelum revitalisasi, keterbatasan ruang menjadi tantangan utama. Ruang kepala sekolah, guru, dan tata usaha bahkan harus disatukan dengan ruang kelas menggunakan sekat.
“Setelah revitalisasi, kami memiliki ruang administrasi tersendiri, ruang kelas baru, ruang pembelajaran khusus seperti bina wicara dan sensori integrasi, serta kantin sekolah. Anak-anak terlihat sangat senang dan lebih aktif mengeksplorasi ruang belajarnya. Orang tua pun merasa lebih tenang melihat anak-anak belajar dengan nyaman,” ujar Tiara. SLB Loka Mandiri menerima bantuan revitalisasi senilai Rp1,43 miliar.
Hal serupa dirasakan SMP Negeri 2 Sukaluyu. Kepala sekolah, Erlina Rosinta, menyampaikan bahwa kondisi sekolah sebelumnya tergolong rusak berat, mulai dari plafon, keramik, hingga dinding kelas.
“Alhamdulillah, melalui revitalisasi tahun 2025, kami mendapatkan rehabilitasi ruang kelas dan ruang UKS baru. Bangunannya jauh lebih layak dan anak-anak sangat bahagia,” tuturnya.
Dari sisi murid, dampak revitalisasi juga terasa langsung. Dini Aulia, siswa SMAN 1 Bojongpicung, menceritakan bahwa sebelumnya keterbatasan ruang membuat kegiatan belajar harus dilakukan secara bergantian pagi dan siang. Bahkan, perpustakaan dan laboratorium komputer sempat digunakan sebagai ruang kelas, sehingga kehilangan fungsi yang seharusnya.
Sekolah pun menerima bantuan revitalisasi senilai Rp3 miliar untuk pembangunan enam ruang kelas baru, ruang administrasi, dan rehabilitasi tiga ruang kelas. “Sekarang kami punya ruang kelas yang semestinya, lebih bebas dan leluasa. Belajar jadi lebih fokus dan tidak terganggu kegiatan lain. Ini sangat membantu proses pembelajaran,” ungkap Dini.
Sementara itu, Anggi Nur Amalan, siswa kelas XII SMA PGRI Takokan, mengungkapkan perubahan besar setelah sekolahnya direvitalisasi.
“Sebelumnya atap sering bocor kalau hujan. Sekarang sekolah jadi jauh lebih nyaman. Saya semakin semangat sekolah dan merasa sekolah seperti rumah kedua,” ujarnya. Sekolah tersebut menerima bantuan senilai Rp2,6 miliar untuk rehabilitasi total 15 ruang kelas, perpustakaan, dan pembangunan ruang administrasi.
Dalam momentum peresmian tersebut, Mendikdasmen menegaskan bahwa revitalisasi ini tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada kebermanfaatan jangka panjang bagi ekosistem pendidikan dan masyarakat sekitar. Melalui skema swakelola, pelaksanaan revitalisasi dinilai lebih efisien, tepat waktu, akuntabel, serta melibatkan tenaga kerja dan material dari masyarakat setempat.
“Sehingga tidak hanya sekolahnya yang kami bangun, tetapi juga ekonominya juga terdampak dari kegiatan revitalisasi ini,” tegas Mendikdasmen.
Di Kabupaten Cianjur sendiri, sebanyak 83 satuan pendidikan dari berbagai jenjang telah menerima manfaat program revitalisasi, meliputi 4 PAUD, 26 SD, 25 SMP, 12 SMA, 12 SMK, 2 SLB, 1 SKB, dan 1 PKBM, dengan total alokasi anggaran mencapai Rp106 miliar. Program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan riil sekolah dan menghadirkan dampak langsung bagi murid, guru, serta tenaga kependidikan.
Ke depan, pemerintah berkomitmen melanjutkan program revitalisasi satuan pendidikan. Pada tahun 2026, anggaran Rp14 triliun telah dialokasikan untuk 11.700 satuan pendidikan. Selain itu, terdapat rencana perluasan tambahan 60 ribu satuan pendidikan di seluruh Indonesia sesuai arahan Presiden. “Target Bapak Presiden sebelum tahun 2029, seluruh sekolah sudah dalam keadaan baik, tidak boleh ada sekolah yang reot dan roboh,” pungkasnya.
Bupati Cianjur, Mohammad Wahyu Ferdian, menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat terhadap pendidikan di daerah. “Kami meyakini pendidikan adalah kunci untuk mewujudkan daerah yang berdaya saing dan sejahtera. Semuanya dimulai dari komitmen membangun sumber daya manusia melalui pendidikan. Kami berharap inovasi akan terus lahir dan generasi muda tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bermanfaat untuk masyarakat luas,” ucap Wahyu Ferdian.
Melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan, Kemendikdasmen terus memastikan bahwa sekolah tidak sekadar berdiri secara fisik, tetapi benar-benar menjadi ruang tumbuh yang aman, nyaman, dan bermakna bagi generasi penerus bangsa.
Melalui Revitalisasi Satuan Pendidikan, Kemendikdasmen terus memastikan bahwa sekolah tidak hanya memiliki ruang belajar yang layak, tetapi juga fasilitas dasar yang bermartabat, sehingga benar-benar menjadi ruang tumbuh yang aman, nyaman, dan bermakna bagi generasi penerus bangsa.(*)


