SURAKARTA, The East Indonesia – Guru di era kecerdasan artifisial (KA) saat ini dihadapkan pada tantangan untuk menjaga martabat profesi di tengah upaya memperkuat kompetensi SDM Indonesia di masa depan. Di hadapan para lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Surakarta, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa perkembangan KA tidak boleh dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang untuk memperkuat kualitas pembelajaran dan peran pendidik dalam membentuk karakter generasi bangsa.
Sebagai refleksi, perkembangan teknologi global menunjukkan lebih dari 78 persen organisasi dunia telah memanfaatkan KA, dan otomatisasi diproyeksikan memangkas hingga 57 persen jam kerja global. Perubahan ini berdampak langsung pada dunia pendidikan dan menuntut kesiapan guru dalam membekali peserta didik dengan kompetensi masa depan. Dalam konteks tersebut, KA tidak menggantikan guru melainkan berfungsi sebagai asisten dalam proses pembelajaran. Fajar lalu mencontohkan keberadaan Papan Interaktif Digital (PID) sebagai wujud pemanfaatan teknologi yang memberikan pengalaman belajar murid secara bermakna dan menggembirakan.
KA dapat membantu personalisasi belajar, analitik pembelajaran, serta efisiensi kerja guru. Namun, nilai keteladanan, empati, kebijaksanaan, dan pembentukan karakter tetap menjadi peran utama guru yang tidak dapat digantikan oleh teknologi. “Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi proses pemanusiaan manusia. Di sinilah peran guru menjadi penentu arah dan makna pemanfaatan teknologi,” tutur Wamen Fajar ujarnya dalam acara Yudisium Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Surakarta, Sabtu (31/1).
Menurut Fajar, pemanfaatan KA membuka peluang besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, antara lain melalui pembelajaran yang lebih inklusif, personalisasi materi sesuai kebutuhan murid, serta inovasi pembelajaran kontekstual yang relevan dengan tantangan nyata. Namun demikian, peluang tersebut hanya akan bermakna apabila guru memiliki literasi digital yang kritis dan kapasitas pedagogik yang kuat.
Menyoroti tantangan etis penggunaan KA dalam pendidikan, seperti risiko ketergantungan berlebihan pada teknologi, menurunnya daya kritis peserta didik, serta penggunaan KA tanpa tanggung jawab; Wamen Fajar menyampaikan bahwa peningkatan kompetensi guru menjadi kunci untuk memastikan pemanfaatan KA yang bijak, kritis, dan bermartabat.
Orientasi pengajaran saat ini kata Fajar adalah mengapa hal tersebut diajarkan dan bagaimana. Pendekatan di ruang kelas bergeser untuk mengembangkan diri anak menjadi lebih kritis agar mereka lebih berdaya untuk menjelajah dan berimajinasi. “Biarlah anak dilatih untuk mengajukan pertanyaan. Kualitas pertanyaan menunjukkan sistem berpikir anak. Kita latih kemampuan mereka dalam mengembangkan pertanyaan bukan menjawab pertanyaan,” jelasnya sembari mengaitkan bahwa konsep ini sejalan dengan desain filosofi Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Menyikapi tantangan KA ke depan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menerapkan pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial sebagai mata pelajaran pilihan, terintegrasi dalam mata pelajaran lain, serta melalui kegiatan ekstrakurikuler di berbagai jenjang pendidikan. Hingga Tahun Ajaran 2025/2026, puluhan ribu guru telah mengikuti pelatihan terkait guna memperkuat literasi digital dan kemampuan berpikir komputasional.
Wamen Fajar juga mengingatkan agar para guru dapat bersikap profesional apabila ditempatkan untuk mengajar di pelosok negeri karena pendidikam bermutu harus bersifat inklusif bagi seluruh anak bangsa. “Harus berbesar hati jika ditempatkan di manapun bertugas. Anak-anak kita yang ada di Flores, di Talaut sana berhak mendapatkan guru dan pendidikan terbaik,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Rektor UMS, Harun Joko Prayitno, mengatakan, sebagai Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), Universitas Muhammadiyah Surakarta melalui Program PPG berkomitmen menyiapkan guru masa depan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, beretika dalam pemanfaatan KA, serta tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan.
Harun menyampaikan, di era Kecerdasan Artifisial, guru diharapkan menjadi jangkar nilai, penuntun etika, dan penjaga arah pendidikan. Melalui yudisium ini, UMS meneguhkan komitmen untuk melahirkan guru profesional yang melek teknologi, rendah hati untuk terus belajar, dan teguh menjaga martabat profesi guru demi masa depan pendidikan Indonesia.
Perwakilan wisudawan, Ahmad Lutfi, mengatakan bahwa guru bukan sekadar profesi melainkan temu antara harapan dan masa depan. “PPG tidak hanya pendidikan profesi tapi juga pendewasaan diri. Membuat model, mengelola kelas, dan mendidik siswa. Kita belajar tentang sabar, rendah hati, dan tanggung jawab,” ujar Sarjana Pendidikan Guru Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini.
Pada akhirnya kata Lutfi, kebijakan pendidikan akan hidup berkat guru. Guru adalah eksekutor nilai, penjaga akhlak dan penumbuh mimpi. “Karena anak-anak yang hari ini kita didik, menentukan masa depan Indonesia. Cara mereka berpikir, bersikap, berakhlak adalah bergantung dari siapa yang mereka lihat,” imbuhnya seraya berharap agar Kemendikdasmen senantiasa melahirkan regulasi terbaik yang berpihak pada guru sehingga dapat mencetak para guru pembelajar demi masa depan Indonesia yang semakin baik.(*)


