ATAMBUA, The East Indonesia – Guratan warna merah dan ornamen khas Tionghoa mengubah wajah Gereja Katedral Santa Maria Immaculata Atambua pada Selasa, 17 Februari 2026.
Menyambut Tahun Kuda Api, umat Katolik Tionghoa di Kabupaten Belu, Wilayah Perbatasan Negara RI-RDTL berkumpul dalam kekhidmatan Misa Syukur Imlek 2577 Kongzili.
Ibadah yang dipimpin langsung oleh Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Atambua, Pater Vincentius Wun, SVD bersama barisan imam konselebran ini tidak sekadar menjadi ajang perayaan tradisi.
Di balik kemeriahan lampion, terselip pesan mendalam mengenai keberlangsungan hidup.
Suasana akulturasi budaya yang kental di perbatasan RI-RDTL ini menegaskan bahwa iman dan tradisi dapat berjalan beriringan untuk misi kemanusiaan yang lebih besar, yakni keselamatan semesta.
Vikjen Keuskupan Atambua, Pater Vincentius Wun, SVD dalam homilinya mengajak umat diajak untuk merefleksikan tanggung jawab iman melalui aksi nyata menjaga dan melestarikan bumi.
“Melestarikan alam adalah mandat iman. Dengan menjaga lingkungan, kita tidak hanya memuliakan Pencipta, tetapi juga membentengi diri dari ancaman bencana alam yang kian nyata,” ungkap pesan dalam perayaan tersebut.
Dilansir Pos Kupang.Com, Vikaris Jenderal Pater Vincentius Wun, SVD menyoroti kondisi dunia yang diliputi kecemasan, mulai dari peperangan, ketidakstabilan ekonomi, hingga berbagai kebijakan yang menimbulkan kekhawatiran masyarakat.
Pater Vikjen mengajak umat untuk tetap berjalan bersama Tuhan serta terus mendoakan perdamaian dunia.
“Di tengah situasi yang tidak menentu ini, umat diminta untuk merawat alam dan tidak merusaknya. Ketika manusia serakah terhadap lingkungan, bencana pun datang dan menghilangkan banyak nyawa,” pesannya.
Ia menambahkan, perayaan Imlek 2577 yang memasuki Tahun Kuda Api diharapkan membawa energi kuat, semangat baru, serta peluang kehidupan yang lebih baik bagi seluruh umat.
Sementara itu, Mario Tanur, salah satu umat Tionghoa, berharap agar konflik global dan krisis ekonomi segera berakhir sehingga dunia kembali pulih.
Ia juga menegaskan pentingnya toleransi yang telah terjaga dengan baik di Kabupaten Belu.
“Kami bersyukur di Indonesia, khususnya di Kabupaten Belu, toleransi antar umat dan antar etnis sangat tinggi. Itulah makna Imlek sesungguhnya, menghadirkan kebersamaan di tengah perbedaan,” ujar Rio, yang juga Ketua HIPMI Belu.
Ia berharap Tahun Kuda Api membawa rezeki berlimpah sekaligus kemampuan menghadapi tantangan dengan cepat dan penuh semangat.
“Tahun ini spesial, penuh peluang tapi juga tantangan. Kalau kita lambat mengambil keputusan, pasti akan tertinggal,” tuturnya.

