Wednesday, February 25, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Selipkan Kritik Lewat Seni Pertunjukan, Ibu Putri Koster Puji Pementasan Jaratkaru

DENPASAR, The East Indonesia – Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ibu Putri Suastini Koster, memuji pementasan Komunitas Wartawan Budaya Bali (Kawiya) yang menampilkan seni teater Jaratkaru: Lampan lan Utang Waras Mekutang dalam rangka memeriahkan Bulan Bahasa Bali VIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Senin (23/2/2026).

Kritik tentang persoalan banjir dan kemacetan yang diselipkan dalam pementasan Jaratkaru menyita perhatian Ibu Putri Koster. “Jangan takut menyampaikan kritik. Mau kritik silakan, misalnya tentang kemacetan. Jabarkan saja, ributlah di atas panggung. Tapi tetap harus mengedepankan etika,” ucapnya.

Menurutnya, aktor yang baik adalah mereka yang mampu menyampaikan kritik setajam silet tanpa membuat pihak yang dikritik merasa tersakiti. Ia yang merupakan istri Gubernur dan bagian dari pemerintahan mengaku tidak alergi terhadap kritik. “Tapi tidak elok kalau anak-anak kita belajar memaki atau melakukan perundungan. Itu tidak bagus,” ungkapnya.

Terkait pementasan Jaratkaru, Ibu Putri Koster menilai para pemain telah mampu menampilkan seni pertunjukan teater yang luar biasa. “Konsepnya bagus, anak-anak ini luar biasa,” pujinya. Lebih lanjut dijabarkannya, para pemain dinilai mampu memadukan teori seni pertunjukan dengan kemampuan pengaplikasian di atas panggung. “Konsepnya bisa ibu lihat dengan jelas, dibarengi dengan kemampuan olah vokal dan olah tubuh yang bagus. Ini yang ibu suka,” urainya.

Menyaksikan anak-anak tampil di atas panggung, ia seperti melihat refleksi diri karena telah melakoni seni pertunjukan sejak 1978. “Gaya pada zaman itu tentu berbeda dengan saat ini. Anak-anak sekarang punya lebih banyak kesempatan untuk belajar. Tidak harus bertemu dengan guru secara langsung. Di era digital ini, media pembelajaran dapat diakses dengan mudah,” cetusnya.

Selain melempar pujian, perempuan yang dikenal memiliki multitalenta di bidang seni ini juga menyampaikan masukan yang dapat menjadi bahan evaluasi. Menurutnya, salah satu hal yang perlu dicermati dalam pertunjukan adalah harmonisasi antara suara gamelan dan volume suara pemain.

Terakhir, menyinggung keberadaan Kawiya, ia mendorong komunitas jurnalis ini untuk terus berkarya dan tidak hanya menunggu acara. “Ini ada panggung di Taman Budaya, koordinasikan untuk tampil. Buat program rutin,” imbuhnya.

Sebagai informasi, Jaratkaru yang diangkat dalam pertunjukan ini merupakan kisah yang melegenda di Bali dan Nusantara. Kisah ini mengisahkan tentang leluhur yang digantung di tiing petung karena tidak memiliki keturunan. Sutradara Agus Wiratama menjelaskan bahwa garapan Jaratkaru menghadirkan tafsir baru terhadap mitologi Bali dengan pendekatan yang lebih realistis. Pertunjukan ini tidak sepenuhnya mengikuti teks klasik, melainkan diolah ulang melalui perspektif generasi muda.

Teks pertunjukan disusun secara kolektif oleh Ingga Adellia (aktor), Dede Satria (aktor dan penulis), Amrita Darsanam (aktor dan pembuat film), Mahija Sena (penari dan koreografer), Agus Wiratama (dramaturg), serta Putu Supartika (sastrawan). Karya ini juga meminjam puisi dari Nyoman Tusthi Eddy dan IDK Raka Kusuma sebagai bagian dari konstruksi artistik pertunjukan.(*)

Popular Articles