Sunday, March 1, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Mendikdasmen: ASN Bekerjalah dengan Baik sebagai Ibadah dan Upaya Memupuk Integritas

JAKARTA, The East Indonesia – Masjid Baitut Tholibin (MBT), Kompleks Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Jakarta, dipadati lebih dari seribu jemaah pada Jumat (27/2). Hadir sebagai khatib salat Jumat, Ustaz Abdul Somad (UAS) menyampaikan pesan mengenai urgensi pendidikan sebagai fondasi utama kemajuan bangsa dan martabat umat manusia. Pada kesempatan yang sama, setelah pelaksanaan salat jum’at, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) menggelar acara Bedah Buku “35 Kisah Saat Maut Menjemput” karya Ustaz Abdul Somad.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Ustaz Abdul Somad. “Ada bedah buku Ustaz Abdul Somad yang tadi sudah kita ikuti bersama-sama. Ini juga bagian dari upaya kita bersama untuk meningkatkan literasi, sosial literasi keagamaan dengan masjid sebagai sarananya. Ya, kami berharap agar kegiatan seperti ini nanti bisa terus kita laksanakan secara berkala,” ujar Abdul Mu’ti usai acara.

Kegiatan keagamaan di lingkungan kementerian bertujuan agar seluruh insan pendidikan bekerja dengan penuh tanggung jawab dan integritas. “Ini menjadi bagian dari usaha kami di kemudian agar suasana kerja, suasana kantor lebih religius. Yang religius itu mudah-mudahan berimplikasi langsung terhadap kesalehan seluruh insan pendidikan,” kata Mu’ti.

Mu’ti berpesan agar para pegawai ASN dapat bekerja dengan sebaik-baiknya dengan menjadikan pekerjaan sebagai bagian dari beribadah dan upaya memupuk integritas. “Mereka agar bekerja dengan penuh tanggung jawab, menjauhkan diri dari semua hal yang bertentangan dengan hukum, terutama adalah menjauhkan diri dari perilaku dan jembatan korupsi serta tindakan yang lain-lainnya,” tegasnya.

UAS: Islam Kedepankan Pendidikan untuk Membentuk Umat yang Beradab
Dalam Khotbah Jumatnya, UAS mengisahkan peristiwa Perang Badar yang dimenangkan oleh umat Islam pada 17 Ramadan tahun kedua Hijriah. Pada masa itu, Nabi Muhammad SAW memberikan pilihan yang berbeda dalam menangani tawanan perang. Alih-alih meminta tebusan berupa harta seperti emas atau perak, ia justru membebaskan tawanan dengan syarat mereka harus mengajarkan baca tulis kepada anak-anak Muslim.

“Islam lebih mengedepankan pendidikan daripada harta. Karena dengan pendidikan, seseorang dapat memperoleh harta. Namun, harta tanpa pendidikan yang baik hanya akan habis di tangan anak dan cucunya,” tegasnya.

UAS juga menekankan bahwa pendidikan dalam Islam tidak terbatas pada ruang kelas atau ilmu agama saja, seperti tauhid, tafsir, maupun akidah. Akan tetapi, Islam mendorong umatnya untuk mempelajari ilmu alam semesta yang luas.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa bulan Ramadan merupakan pendidikan terpanjang bagi umat Islam. Saat berpuasa, seseorang tidak hanya dididik untuk menahan lapar, melainkan juga mengelola emosi. Hal ini bertujuan guna membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional juga spiritual. “Cerdas secara intelektual, emosional, dan spritual, itulah sifat-sifat orang yang terdidik,” jelasnya.

Terkait sosok pendidik, UAS menerangkan definisi guru dalam Islam yang sangat mulia. Guru bukan sekadar teacher (orang yang mengajarkan), tetapi juga mu’allim (orang yang mengajarkan ilmu), muaddib (orang yang mengajarkan adab), dan murabbi (orang yang melanjutkan tugas kenabian). Guru adalah sosok yang ditiru perkataan dan perbuatannya. “Guru itu ditiru mulai dari cara berjalan, bicara, minum, hingga tata kramanya,” terangnya.

UAS kemudian mengingatkan jemaah akan sejarah kemerdekaan Indonesia yang diperjuangkan oleh para guru. Ia menyebut tokoh-tokoh seperti Panglima Besar Tentara Republik Indonesia Jenderal Sudirman dan Jenderal Besar A.H. Nasution yang sejatinya merupakan seorang guru sebelum akhirnya mengabdikan diri menjadi tentara.

Sejarah kemerdekaan Indonesia juga tidak lepas dari peran organisasi masyarakat (ormas) Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Perti, dan Al-Washliyah. Ormas-ormas ini didirikan oleh para guru yang belajar di Makkah dan lalu pulang ke Indonesia untuk mendirikan pondok pesantren, yang pada akhirnya menjadi tonggak merdekanya Indonesia, jauh sebelum proklamasi 1945.

Puncaknya terjadi pada Proklamasi 17 Agustus 1945, yang bertepatan dengan 9 Ramadhan. UAS mengingatkan bahwa para pengibar bendera dan pembaca teks proklamasi adalah orang-orang yang sedang menjalankan ibadah puasa dan memiliki kedekatan spiritual yang kuat kepada Allah SWT.

Sebagai penutup, UAS berpesan agar buah perjuangan para pendidik di masa lalu tidak dirusak oleh iming-iming keduniawian. “Apa yang sudah diperjuangkan melalui pendidikan, jangan pernah dirusak dengan pembodohan,” tutupnya.(*)

Popular Articles