Jakarta – Presiden Jokowi sudah menyetujui diaktifkannya lagi Komando Operasi Khusus Gabungan (Koopssusgab) dengan tujuan untuk membantu Polri membasmi sel-sel teroris yang kini mulai bergerak.
Apa sajakah satuan elite kebanggaan bangsa ini, berikut profil mereka :
1. Detasemen Khusus 88 Antiteror (Polri)
Satuan khusus dari unsur kepolisian yang juga dikenal dengan nama Densus 88 ini ditugaskan untuk menangani segala macam ancaman teror, termasuk teror bom dan juga penyanderaan.
Komposisi tim ini terdiri dari ahli investigasi, ahli bahan peledak sebagai penjinak bom, dan unit pemukul yang di dalamnya terdapat ahli penembak jitu.
Berdirinya Densus 88 dirintis oleh Kombes Pol Gories Mere, seorang Jendral Polisi kebanggaan Indonesia kelahiran Flores dan diresmikan pada 26 Agustus 2004 oleh Kapolda Metro Jaya saat itu, Jenderal Polisi Firman Gani. Angka 88 yang disematkan berasal dari kata ATA (Anti-terorisme Act). Jika pelafalannya menggunakan logat Inggris menjadi berbunyi Ei Ti Ekt (eighty eight).
Sejumlah operasi yang pernah sukses dilakukan oleh Densus 88 diantaranya, penggerebekan buronan Dr Azhari di Kota Batu Malang, Jawa Timur pada 2005. Penangkapan Yusron Mamudi alias Abu Dujana di Banyumas, Jawa Tengah. Selain itu, Pengepungan teroris di Kampung Kepuhsari, Jebres, Solo. Dalam operasi ini 4 teroris tewas, salah satunya adalah Noordin M Top.
2. Detasemen Khusus 81 Kopassus (TNI AD)
Pasukan khusus ini dikenal dengan nama Sat-81 atau dulu disebut sebagai Den-81 Gultor (Penanggulangan Teror). Pasukan ini dibentuk pada 30 Juni 1982.
Latar berlakang dibentuknya Sat-81 berawal dari keberhasilan Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha/kini Kopassus) melakukan pembebasan sandera oleh teroris yang membajak pesawat Garuda DC-9 Woyla di Thailand pada 31 Maret 1981. Operasi Kopassandha tersebut di bawah komando Benny Moerdani yang kala itu menjabat sebagai kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) ABRI.
Komandan pertama Sat-81 adalah Mayor Inf. Luhut Binsar Panjaitan dan wakilnya adalah Kapten Inf. Prabowo Subianto. Di masa awal pembentukan Sat-81 Luhut dan Prabowo harus dikirim ke GSG-9 (Grenzschutzgruppe-9) Jerman untuk mempelajari upaya penanggulangan teror.
Sekembalinya ke Indonesia, keduanya dipercaya menyeleksi dan melatih para prajurit Kopassandha yang akan ditugaskan bergabung ke Sat-81.
Satuan-81 adalah merupakan salah satu organisasi bersenjata yang paling progresif di dunia. Satuan-81 adalah merupakan unit kedua di dunia (setelah GSG-9) pemakai senapan serbu HK MP-5 dan produk Heckler & Koch lainnya. Selain itu, Detasement-81 juga adalah pelopor pemakaian PETN sebagai bahan peledak alternatif selain C-4 dan Semtek. Jumlah personil dari satuan ini rahasia.
Ciri khas dari pasukan ini adalah bergerak dalam unit kecil dengan durasi penyelesaian singkat dalam menanggulangi serangan teroris.
Sebagaimana visi dan misinya, “tidak diketahui, tidak terdengar, dan tidak terlihat“.
3. Detasemen Jalamangkara (TNI AL)
Pasukan elite yang disingkat dengan nama Denjaka ini merupakan detasemen khusus penanggulangan teror aspek laut. Denjaka merupakan gabungan personel dari dua pasukan khusus TNI AL, yakni Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan Batalyon Intai Amfibi (Yontaifib) Korps Marinir.
Denjaka dibentuk pada 13 November 1984. Kemampuan Denjaka tidak hanya untuk bertempur tetapi juga sebagai satuan intelijen tempur handal.
Pada tahap pertama, direkrut 70 personel dari Batalyon Intai Amfibi (Yontaifib) dan Komando Pasukan Katak (Kopaska). Komando dan pengendalian pembinaan di bawah Panglima Armada Barat dengan asistensi Komandan Korps Marinir. KSAL bertindak selaku pengendali operasional. Markas ditetapkan di Mako Armabar.
Melihat perkembangan dan kebutuhan satuan khusus ini, KSAL menyurati Panglima TNI yang isinya berkisar keinginan membentuk Detasemen Jala Mangkara. Panglima ABRI menyetujui dan sejak itu (13 November 1984), Denjaka menjadi satuan Antiteror Aspek Laut. Merunut keputusan KSAL, Denjaka adalah komando pelaksana Korps Marinir yang mempunyai tugas pokok melaksanakan pembinaan kemampuan dan kekuatan dalam rangka melaksanakan operasi antiteror, antisabotase, dan klandesten aspek laut atas perintah Panglima TNI. Berdasarkan peraturan Panglima TNI Nomor Perpang/77/X/2010 tentang persetujuan dan pengesahan peningkatan kepangkatan dalam jabatan di lingkungan Korps Marinir diputuskan Komandan Detasemen Jalamangkara berpangkat Kolonel.
Pola rekrutmen Denjaka dimulai sejak pendidikan para dan komando. Selangkah sebelum masuk ke Denjaka, prajurit terpilih mesti sudah berkualifikasi Intai Amfibi. Dalam menjalankan aksinya, satuan khusus ini dapat digerakkan menuju sasaran baik lewat permukaan/bawah laut maupun lewat udara. TNI AL masih memiliki satu pasukan khusus lagi, yaitu Komando Pasukan Katak (Kopaska). Kedua satuan pernah beberapa kali melakukan latihan gabungan dengan US Navy SEAL
Sebagai unsur pelaksana, prajurit Denjaka dituntut memiliki kesiapan operasional mobilitas kecepatan, kerahasiaan, dan pendadakan yang tertinggi serta medan operasi yang berupa kapal-kapal, instalasi lepas pantai dan daerah pantai.
Persenjataan Minimi 5,56 mm, g36, HK416, HK PSG1, SS-1, CZ-58, Styer AUG, SS-2, HK 53, UZI, SPR-1 MP5, Beretta 9 mm, SIG-Sauer 9 mm, HK P30. Total kekuatan Denjaka rahasia.
Pasukan yang dijuluki hantu laut ini juga memiliki keterampilan mendekati sasaran melalui laut, vertikal, dan udara.
4. Satuan Bravo 90 (TNI AU)
Satuan khusus yang juga dikenal dengan nama Satbravo-90 (sebelumnya Detasemen Bravo 90) ini merupakan satuan pelaksana operasi khusus Korps Pasukan Khas (Kopaskhas) yang berkedudukan di bawah Komandan Korpaskhas.
Satbravo-90 dibentuk sekitar tahun 1990 pada era kepemimpinan Marsma TNI Maman Suparman selaku Komandan Puspakhas saat itu.
Terbilang pasukan khusus Indonesia yang paling muda pembentukannya. Baru dibentuk secara terbatas di lingkungan Korps Pasukan Khas TNI-AU pada 1990, Bravo berarti yang terbaik. Konsep pembentukannya merujuk kepada pemikiran Jenderal Guilio Douchet: Lebih mudah dan lebih efektif menghancurkan kekuatan udara lawan dengan cara menghancurkan pangkalan/instalasi serta alutsista-nya di darat daripada harus bertempur di udara.
Dikukuhkan pada tanggal 16 September 1990 oleh KSAU Marsekal TNI Hanafie Asnan. Dalam melaksanakan operasinya, Bravo dapat juga bergerak tanpa identitas. Bisa mencair di satuan-satuan Paskhas, atau seorang diri. Layaknya dunia intelijen. Bukan main-main, Bravo-90 juga melengkapi personelnya dengan beragam kualifikasi khusus tempur lanjut, mulai dari combat free fall, scuba diving, pendaki serbu, teknik terjun HALO (High Altitude Low Opening) atau HAHO (High Altitude High Opening), para lanjut olahraga dan para lanjut tempur (PLT), dalpur trimedia (darat, laut, udara), selam, tembak kelas 1, komando lanjut serta mampu menggunakan teknologi informasi dan komunikasi dengan sarana multimedia. Pasukan elite ini juga kebagian jatah untuk berlatih menembak dengan menggunakan peluru tajam tiga kali lipat lebih banyak dari pasukan reguler lainnya. Hal ini dimaksudkan untuk melatih ketepatan dan kecepatan mereka untuk bertindak dalam waktu sepersekian detik.
Satbravo mempunyai 3 detasemen yang disebut Detasemen 901, 902 dan 903. Detasemen 901 mempunyai spesialisasi intelijen, Detasemen 902 berkualifikasi spesialisasi aksi khusus dan Detasemen 903 spesialisasi bantuan teknik khusus. Tapi sebenarnya 3 detasemen itu mempunyai keahlian yang merata di bidang counter terrorism. Pasukan anti teror baret jingga ini juga kerap berlatih dengan “kakak-kakaknya di Sat-81 Gultor Kopassus TNI AD, Kopaska TNI AL dan Denjaka] Marinir TNI AL.
Bravo saat ini sudah memiliki fasilitas pertempuran jarak dekat (CQB). Bahkan untuk latihan pembebasan sandera di pesawat, Bravo langsung melaksanakannya di dalam pesawat baik milik TNI-AU maupun PT. DI. Bravo juga menjadi pasukan khusus pertama di Indonesia yang mampu menguasai ilmu bela diri Systema yang merupakan ciri khas dari pasukan elite Rusia.
Spesialisasi Satbravo-90 adalah melumpuhkan alustsista musuh dalam mendukung operasi dan penindakan teror serta pembajakan di udara.
Satuan Bravo 90 memiliki Motto: Catya Wihikan Awacyama Kapala artinya Setia, Terampil, Berhasil.
5. Komando Operasi Khusus Gabungan (Koopssusgab)
Selain keempat pasukan khusus di atas, pemerintah pernah membentuk Komando Operasi Khusus Gabungan (Koopssusgab).
Koopssusgab dibentuk pada 9 Juni 2015 oleh Jenderal Moeldoko selaku Panglima TNI kala itu. Tim ini merupakan gabungan pasukan khusus dari tiga matra TNI, yakni Sat-81, Denjaka, dan Satbravo-90.
Pasukan khusus ini berjumlah 90 personil. Mereka disiagakan di wilayah Sentul, Bogor, Jawa Barat dengan status operasi, sehingga siap siaga setiap saat ada perintah untuk terjun menanggulangi teror.
Pasukan ini sudah ditiadakan. Namun baru-baru ini Moeldoko yang kini menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan menyarankan Presiden Joko Widodo untuk menghidupkan kembali Kopssusgab. Saran ini tak lepas dari peristiwa penyerangan dan penyanderaan oleh napi teroris di Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok pada Selasa (8/5) sampai Kamis (10/5) lalu.
(sumber : CNN Indonesia & Wikipedia)







