Saturday, January 24, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Film Pendek Berjudul Bali Pulau Plastik Diluncurkan

Denpasar,Theeast.co.id – Film pendek berjudul “Pulau Plastik” diluncurkan di Denpasar, Rabu (30/1). Peluncuran film dokumenter yang berisikan Pulau Bali yang identik dengan pulau plastik itu dihadiri oleh puluhan awak media, aktifis lingkungan hidup dan berbagai elemen lainnya. Turut hadir Ewa Wojkowska (Kopernik) sebagai pembicara. Film tersebut sebuah serial menarik terbaru dari Kopernik, Akarumput dan Visinema Pictures yang menelusuri masalah sampah dengan melibatkan inisiatif lokal di seluruh pulau Bali. Peluncuran serial itu direncanakan 1 Februari 2019di Potato Head Bali.
Film dokumenter yang tentang Bali sebagai pulau plastik itu direncanakan akan ada 10 episode dengan durasi paling singkat selama 30 menit. Isi dari 10 episode semuanya tentang Bali dalam memerangi sampah plastik dengan target audiens dari seluruh kalangan di Bali mulai dari Banjar, Desa, Kelurahan, kelompok muda mudi Bali, pemerintah dan bahkan industri plastik. “Kami ingin menunjukan kepada dunia bahwa Bali memiliki banyak simpul dalam memerangi sampah plastik, mulai dari agamanya, budaya, kearifan lokalnya dan seterusnya. Tujuannya adalah mengubah paradigma warga Bali dalam memerangi sampah plastik, mengenal berbagai potensi dan sumberdaya lokal dalam menangai sampah. Kita ingin agar dunia atau minimal daerah lain di Indonesia mengetahui simpul-simpulnya dalam memerangi sampah plastik,” ujar Gede Robi Supriyanto, musisi Bali sekaligus pemrakarsa film dokumenter Bali Pulau Plastik.
Sutradara Dandhy Laksono mengatakan, secara keseluruhan, isi dari film dokumenter ini adalah kondisi riil di lapangan yang ada di Bali. Tidak ada hal yang direkayasa. Data yang disajikan adalah data general, fakta lapangan yang terbaru. Intinya, plastik itu adalah masalah bersama namun solusianya ada di dalam diri tiap-tiap orang baik sebagai perorangan maupun lembaga mulai dari pemerintah maupun swasta. “Targetnya adalah perubahan paradigma dan tingkah laku dalam memperlakukan sampah itu sendiri. “Kita ingin agar setiap orang berubah pikirannya mengenai cara melihat sampah,” ujarnya.
Robi menegaskan, di Bali sendiri sudah ada payung hukum mengenai sampah plastik oleh Kota Denpasar dan Provinsi Bali. Namun peraturan pembatasan kantong sampah plastik itu baru satu langkah saja dalam mencegah sampah plastik. Yang diharapkan adalah semua sampah plastiknya. “Kita pernah melakukan hitung-hitungan. Dalam satu rumah tangga itu, 70 persennya adalah sampah organik dan bahkan lebih. Sementara 30 persennya adalah sampah anorganik. Dari 30 persen tersebut, 25 persennya adalah sampah yang bisa dijual ke pemulung. Artinya persoalan selesai dan ini memberikan rezeki kepada pemulung. Hanya 5 persen yang perlu penanganan seperti kantong plastik, pembungkus makanan, dan sejenisnya. Payung hukum sebenarnya baru menyentuk yang 5 persen tersebut,” ujarnya. Di Bali hingga saat ini penanganan sampah masih primitif, warga mengumpulkan sampah, dibawa ke TPS dan petugas mengangkut ke TPA. Itu penanganan primitif. Yang benar, urusan sampah selesai di tingkat rumah tangga.
Sebenarnya telah banyak prakarsa besar yang dilakukan untuk meningkatkan kesadaran publik terkait dampak sampah plastik di Bali saat ini. Melalui serial video ini diharapkan dapat menggaungkan kampanye tersebut ke ranah yang lebih luas dan mengubah perilaku masyarakat Bali dalam pengelolaan sampah plastik. Bali menghasilkan hingga 268 ton sampah plastik setiap harinya dan 44 persennya tidak diolah sehingga mencemari lingkungan. “Dari jumlah itu, 45% adalah sampah plastik lunak, 15%
plastik keras dan besi. Dari sampah plastik lunak, yang terbanyak adalah plastik kemasan (40%) makanan atau yang berlabel, kemudian sedotan (17%), dan kresek (15%).
Selain itu ada 4,8 – 12,7 juta ton sampah plastik yang terbuang ke laut dalam setahun. lndonesia sendiri menghasilkan lebih darl 45,3 juta ton sampah per tahunnya, di mana sepertiga dari jumlah tersebut tidak tertangani dengan baik. “Indonesia adalah negara penyumbang sampah plastik ke laut kedua terbesar di dunia setelah Tiongkok,” ujarnya.(Axelle Dae)

Popular Articles