Waikabubak, Theeast.co.id – Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Sumba Barat Nyonya Dra. MH, W. Dapawole Menteiro secara tegas meminta kepada generasi muda di Kabupaten Sumba Barat untuk memperkuat budaya literasi terutama di bidang pariwisata dan budaya. Penegasan itu disampaikan karena keprihatinannya terhadap generasi muda Sumba Barat yang sama sekali tidak mempedulikan budaya membaca dan menulis untuk kepentingan pariwisata dan kebudayaan. “Kami orang Sumba Barat itu kaya. Kami punya segalanya. Kami punya budaya yang adiluhung, eksotik, unik dan menarik. Kami punya pariwisata, kami punya keindahan alam, kami punya destinasi, kami punya atraksi budaya. Semuanya ada. Saya akhirnya bertanya, kenapa kami belum maju, belum sejahtera. Dan jawaban sederhana. Ternyata kami belum memulainya, mulai berubah, mulai bekerja, sekarang, tidak bisa menunggu lebih lama lagi,” ujarnya saat ditemui di Rumah Jabatan Bupati Sumba Barat, Jumat (10/5).
Menurut Ketua Dekrasnada Kabupaten Sumba Barat itu, generasi muda Sumba Barat dan juga seluruh elemen terkait mulai dari pemerintah, swasta, dan seluruh masyarakat harus sudah mulai berubah. Beberapa di antaranya adalah sudah mulai dengan menulis. Ia meminta agar memanfaatkan seluruh sumber daya yang ada, mulai dengan menulis di brosur, menulis di media, menulis buku, menulis di Facebook, Twitter, Line, blog, dan seterusnya. “Budaya menulis ini yang belum dimiliki. Menulis tentang budayanya, tentang alamnya, tentang tenun ikat, tentang rumah adat dan seterusnya. Tidak bisa hanya berharap dari budaya tutur, ceritera turun – temurun. Itu bisa lupa. Sekarang ini generasi teknologi. Manfaatkanlah itu semua. Sekalipun sudah ada di beberapa OPD sudah punya website, sudah punya brosur, namun untuk Sumba Barat yang begitu besar dan kaya, saya pikir belum cukup, belum seimbang. Ini perlu gerakan massal, gerakan serentak, perlu kebangkitan bersama untuk menulis dan mengeksplor Sumba Barat yang kaya ini kepada seluruh dunia,” ujarnya. Ia mengeritik dengan pedas, orang Sumba Barat yang tidak memulai menulis. “Bukan tidak bisa menulis, tetapi tidak mau mulai menulis,” ujarnya.
Menurutnya, bahan menulis untuk masyarakat Sumba itu sangat kaya. Wanita yang berulang tahun pada 10 Mei setiap tahun ini menyebut beberapa contoh bahan yang bisa ditulis, seperti tenun ikat Sumba Barat. Tenun ikat itu kaya makna dan arti. Ia memiliki makna filosifis yang dalam. “Ini bahan tulisan yang bagus. Jelaskan itu, tulis itu, mulai dari mengumpulkan bahan, menenun, simbol-simbolnya, apa artinya, apa maknanya. Semuanya ada, tinggal tulis,” ujarnya. Contoh lain adalah beberapa ritual adat yang kaya sekali di Sumba. Belum ada yang menulis dengan baik, dengan metodologi yang baik, dengan sistem yang baik. Publikasinya juga masih minim.
Ibu dari empat putra dan putri ini juga mengeritik pedas soal pola perilaku masyarakat Sumba Barat yang tidak mendukung pariwisata dan budayanya sendiri. Pola perilaku yang tidak welcome terhadap wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Pola perilaku yang tidak menjaga alamnya, tidak mennjaga kebersihan. “Untuk rumah adat misalnya. Kalau mau dibandingkan dengan rumah adat di daerah lainnya, Sumba Barat tidak bisa dibandingkan. Rumah adat Sumba itu megah dan mulia. Aset yang sangat unik, kaya, eksotik, yang tidak ada di daerah lainnya di dunia,” ujarnya.
Namun masalahnya, dari sisi kebersihan, perawatan, harus diakui Sumba Barat masih jauh di bawah standar. “Rumah adat di Bena, Kabupaten Ngada misalnya. Mereka sangat tertata, kebersihan sangat dijaga, manajemennya sangat rapih. Sementara kita di Sumba Barat memang sudah melakukan sesuatu, tetapi belum sempurna betul. Ini bisa ditingkatkan lagi,” ujarnya. Ia mengatakan, salah satu contohnya soal kebersihan rumah adat. Di Sumba Barat, kebersihannya masih jauh di bawah rata-rata. “Saya pernah mengatakan, apakah bisa kotoran hewan itu bisa seminggu cukup sekali dibersihkan. Karena tidak semua tamu bisa tahan dengan aroma kotoran hewan yang ada di bawahnya. Ini bisa dilakukan dan tidak menyalahi adat dan budaya juga,” ujarnya. Sumba Barat kaya, tetapi belum dibarengi dengan pola perilaku masyarakat yang menjaga dan melestarikan aset budayanya yang begitu kaya. (Axele Dhae)


